Mohon maaf, semoga belum bosan dgn forward artikel terkait Majapahit dan Gajah 
Mada.

Best Regards,



Nugon

http://groups.yahoo.com/group/rumahilmu/message/4655

--- In [email protected], "Renny" <masm...@...> wrote:

PERSATUAN NUSANTARA

Tahun pertama kedudukannya sebagai
Mahapatih Amangkubumi, Gajah Mada mengadakan restrukturisasi besar-besaran di
Majapahit. Bukan saja SDMnya tapi semua kebijakan dasar
pemerintahan. 

Bahkan sangat radikal. Tidak ada
seorangpun di antara para anggota kabinet Arya Tadah (Mahapatih Amangkubumi
sebelumnya) yang diikut sertakan pada kabinetnya. Dan ini tentunya mengundang
spekulasi dan resiko logis yang sangat tinggi. 

Hanya orang yang mempunyai
kepercayaan diri dan kemampuan luar biasa yang dapat melakukannya, apapun 
akibatnya.
Dan Gajah Mada telah melakukannya. 

Siapapun yang mencoba menghalangi
programnya untuk mempersatukan seluruh Nusantara di bawah satu panji Gula-Kelapa
(baca: merah-putih), disingkirkan dari percaturan politik. Kewenangannya
dipergunakan secara benar bagi kepentingan bangsa dan negara. 

Gajah Mada begitu tegas dan keras
memegang falsafah negara yang baru diperkenalkannya itu. 

Setelah pengangkatannya itu, banyak
bangsawan yang akhirnya meninggalkan lingkungan istana. Mereka malu terhadap
kebijakan baru kerajaan yang tidak lagi memberikan peluang bagi para bangsawan
murahan yang hidupnya hanya bergelimang dengan konsep-konsep picisan yang
tampaknya memajukan negara tapi sebetulnya di balik itu lebih hanya bagaimana
mempertahankan kemapanan mereka saja tanpa memikirkan kesejahteraan bangsa
secara keseluruhan.

Terbukti kebijakan Gajah Mada benar.
Nyaris sejak jabatan Mahapatih Amangkubumi dipegangnya, tidak ada
pemberontakan yang berarti. Sejarah mencatat sejak tahun 1334 s.d. 1343,
Majapahit tumbuh pesat. 

Selama hampir satu dasawarsa, Gajah
Mada memusatkan perhatian pada pembenahan di dalam. Membuat kebijakan-kebijakan
dan peraturan-peraturan hukum, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dari
segala aspek: hukum, pertahanan-keamanan, sosial-politik, ketatanegaraan,
agama, ekonomi dan kebudayaan.

Sumber daya yang ada dioptimalkan. 

Hasil diplomasi dengan Cina yang
dilakukan oleh Adityawarman dijadikan soko guru kebijakan luar negeri
Majapahit. Gajah Mada mulai memetakan garis demarkasi 'Nusantara Raya', negara
sahabat dan mancanegara jauh seperti  Cina dan India .

Angkatan bersenjata diremajakan. Pada
awal kekuasaannya itulah Gajah Mada dengan brilian menetapkan ciri Negara
sebagai Negara Maritim. 

Untuk itulah Gajah Mada kemudian membentuk armada laut
yang sebelumnya tidak 'populer' yaitu Jaladi Bala dengan belajar dari 
pengalaman dan
keberhasilan Sriwijaya menguasai lautan. Dan bahkan sekaligus membangun
laut/danau buatan yang cukup luas bagi kepentingan pelatihan prajurit laut
mengingat Majapahit tidak memiliki pelabuhan yang dekat dengan pusat
pemerintahan.

Sandi Bala, sebagai kesatuan
intelijen di bawah struktur militer pusat dioptimalkan. Kesatuan Bhayangkara
dikukuhkan fungsinya sebagai keamanan sipil dan pengawal raja. Dalam suatu 
pertempuran
 medan , kesatuan
Bhayangkara ditempatkan pada garis belakang berfungsi sebagai penjaga keamanan
masyarakat sipil. 

Hubungan dalam negeri yang saat itu
masih terbatas pada Majapahit, Singasari, Daha dan Kahuripan ditata dengan
baik. Hubungan tatanegara dibentuk sampai pada daerah-daerah yang jauh dan
bahkan desa-desa terpencil. 

Setiap tahun pada bulan Caitra
(Maret/April), pimpinan daerah sampai desa terpencil datang ke pusat
pemerintahan untuk memeriahkan perayaan agung tahunan Caitra, yang antara
lain diisi dengan pertemuan besar bagi seluruh pemimpin daerah.

Pada perayaan itu pemerintah pusat
berkesempatan memberikan dan mensosialisasikan kebijakan pemerintah, sehingga
tidak ada informasi yang tidak sampai di telinga setiap rakyat Majapahit, 
Wilwatikta
Agung.

Sistem perdagangan mulai ditata.
Pasar-pasar dibangun. Setiap hasil bumi dari daerah didistribusikan secara
merata ke seluruh daerah lain. 

Majapahit menjadi pusat perdagangan
di timur Jawa setelah Singasari runtuh. Pusat pasar kotaraja Majapahit yang
berada di sisi jalan raya yang membelah kotaraja Majapahit mulai ramai.  Bukan 
saja para penduduk kotaraja, para
pedagang dari daerah-daerah lain ikut menjajakan dagangan mereka.

Perdagangan bertambah ramai apabila
ada kapal besar merapat di bandar kecil sungai Brantas seperti di Canggu dan
delta sungai Brantas. Untuk menjual dagangan mereka, para pedagang dari Cina dan
 India 
bahkan ada yang menetap untuk waktu lama di tlatah Majapahit.             

Mereka membawa barang-barang dagangan
dari negeri mereka atau negeri lain yang sempat mereka kunjungi untuk dijual di
Majapahit. Mereka kembali ke negara mereka dengan membawa barang-barang yang
dibelinya di Majapahit. 

Kadang-kadang mereka menyempatkan
diri singgah di Suwarnabhumi, untuk membeli barang-barang yang dapat dijual di
negaranya. Saat itu, Suwarnabhumi menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai
di selat Malaka. Para pedagang dari beberapa negara saling menjual barang
dagangan mereka di sana .


Beberapa pedagang Majapahit sengaja
berlayar ke Suwarnabhumi membeli dagangan dengan harga lebih murah dan jenis
yang sangat beragam seperti bahan tenunan, pewarna atau jenis perak khusus dari
Suwarnadwipa untuk dijual di pasar kotaraja. Para 
bangsawan Majapahit sangat menyukai barang-barang yang diperdagangkan mereka. 

Dengan keuntungan yang berlipat, para
pedagang itu berangkat ke Suwarnabhumi dengan membawa barang dagangan dari
tanah Jawa, pulangnya mereka membawa barang dagangan dari negeri sebrang.
Begitu seterusnya.

Para pedagang dari desa terpencil dengan
mengendarai pedati membawa hasil bumi desa  mereka untuk dijual atau ditukar 
dengan barang
lain yang dibutuhkan di desa mereka. Para 
penduduk kotaraja sudah terbiasa bergaul dengan berbagai etnis masyarakat,
golongan dan kebudayaan. Bahkan beberapa penduduk sudah banyak yang belajar
berbagai bahasa yang digunakan oleh orang asing.

Itulah sebabnya pada saat
pemerintahan Hayam Wuruk, majapahit mengalami zaman keemasan. Salah satu bandar
besar di selat Malaka, Suwarnabhumi, bukan saja berfungsi sebagai bandar
pelabuhan biasa. Namun Gajah Mada menata Suwarnabhumi
sebagai lalu-lintas perdagangan di selat Malaka. Karena Cina tidak campur
tangan terhadap kebijakan ini, memudahkan Majapahit melakukan upaya dan kinerja
eksport-import yang sangat maju. 

Tata-kota dibangun dengan sangat
terencana. 

Penggalian situs-situs bekas kerajaan Majapahit di Trawulan
membuktikan bahwa Majapahit pada saat itu telah membuat parit-parit bawah
tanah. 

Di kotaraja, saluran air bawah tanah
menggunakan terakota. Tata-letak bangunan diatur dengan baik. Banyak ditemukan
sumur-sumur di area bangunan kotaraja dengan genteng yang sudah terbuat dari
tanah liat/terakota. Ini membuktikan bahwa masyarakat perkotaan sudah maju dan
berperadaban tinggi.

Para petinggi yang dianggap sudah
waktunya diganti, entah karena usia atau kemampuan, digantikan dengan
orang-orang muda yang berwawasan luas, kapabel dan memiliki moral, tidak
perduli dari kasta mana orang itu berasal. 

Para raja yang tersebar di seluruh perairan Nusantara
dipersatukan dalam satu konsep: Persatuan Nusantara. 

Mereka tidak lagi
boleh saling berperang untuk memperebutkan daerah dan kekuasaan masing-masing.
Yang ada adalah bagaimana untuk bersama-sama menciptakan kerukunan, kebersamaan
dan saling pengertian. 

Terjadi pertukaran kebudayaan, sumber daya dan
ilmu pengetahuan bagi kemajuan bangsa dan negara besar: Dwipantara, 'Nusantara 
Raya'.


Salam Nusantara..!


Renny Masmada
http://rennymasmada.wordpress.com

--- End forwarded message ---





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke