Walau mungkin berbeda suku, agama, ras....mereka adalah saudara kita sesama manusia. Sama-sama Bani Adam. Bahkan bisa jadi ada saudara kita sesuku, seagama, seras....mengingat terdapat beberapa WNI di sana.
Mari bantu mereka dgn moril dan materil. Dengan sedekah harta dan doa. Bagi yg tdk mampu dgn sedekah harta, bisa dgn doa. Dan Doa adalah senjata orang beriman. Doa tdk pernah sepele. Best Condolence for Haiti. Best Regards and Wassalam, Nugon Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/ http://nugon19.multiply.com/journal http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/16/02502624/tajuk.rencana Solidaritas untuk Haiti Negara miskin berpenduduk 10 juta jiwa di kawasan Karibia ini hari Selasa diguncang gempa berkekuatan 7 skala Richter. Korban tewas belum diketahui pasti, tetapi diperkirakan bisa mencapai 100.000 orang. Sebagai negara yang masih dilanda kesulitan, kita bisa membayangkan beratnya upaya pertolongan, yang banyak membutuhkan alat-alat gali berat. Upaya menolong korban yang terperangkap di bawah reruntuk bangunan yang roboh pada sisi lain sangat berkejaran dengan waktu. Untunglah pada masa sulit sekarang ini Haiti tidak sendirian. Sebagaimana lazim terjadi manakala ada bencana alam besar, masyarakat internasional tanpa menunggu komando segera menyingsingkan lengan baju memberikan pertolongan. Komitmen dunia begitu besar. Di tengah kekacauan berebut bahan makanan di Haiti, selain memberikan bantuan 100 juta dollar AS, AS mengirim 5.000 anggota pasukan untuk membantu pengamanan dan pembangunan infrastruktur guna memfasilitasi kedatangan bantuan dari berbagai penjuru dunia. Pasukan yang tiba segera membangun kembali sistem pengendali lalu lintas udara yang rusak terkena gempa. Dengan itu, pesawat kargo bisa lebih lancar menyalurkan bantuan. Kita teringat saat terjadi gempa dan tsunami Aceh akhir tahun 2004. Saat itu pun Bandara Iskandar Muda, dan juga Polonia di Medan, penuh sesak oleh pesawat asing yang mengangkut bantuan. Di Port-au-Prince, selain infrastruktur rusak, bahan bakar untuk pesawat pun langka. Ketegangan di Haiti juga muncul karena kenyataannya semua serba kurang, bukan saja alat berat untuk penggalian, tetapi juga obat-obatan. Satu hal yang disebut agak meringankan adalah, walaupun gempa sangat menghancurkan, yang benar-benar hancur adalah wilayah ibu kota dan sekitarnya, sementara wilayah lain aman. Kita berharap korban yang masih terperangkap di bawah reruntuk bisa segera dievakuasi. Pekerjaan yang terkendala oleh kurangnya alat berat kini didukung dengan datangnya anjing pelacak dan sensor elektronik yang dibawa oleh regu penolong dari AS, China, dan Perancis. Kita berbesar hati karena, meski konflik masih merebak di berbagai wilayah dunia, solidaritas kemanusiaan masih tetap terpelihara. Kita pun merasakan, manakala ada bencana alam besar di Tanah Air, bantuan internasional datang mengalir. Di sini kita melihat, ketika menghadapi dahsyatnya kekuatan alam, umat manusia bersatu. Semangat ini pula yang seharusnya juga diperlihatkan ketika umat manusia menghadapi tantangan pemanasan global. Gempa Haiti, dengan segala kepedihan yang mengiringinya, memberikan pembelajaran kepada umat manusia tentang pentingnya menggalang kebersamaan, juga tentang pentingnya sungguh-sungguh mempelajari alam. http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/17/03324322/port-au-prince.menjadi.kota.mati HAITIPort-au-Prince Menjadi Kota MatiMinggu, 17 Januari 2010 | 03:32 WIB Port-Au-Prince - Ribuan warga Port-au-Prince, ibu kota Haiti, dalam tiga hari terakhir, beramai-ramai meninggalkan kota yang luluh lantak oleh gempa berkekuatan 7,0 skala Richter, Selasa (12/1) petang waktu setempat atau Rabu dini hari WIB. Jumat malam atau Sabtu pagi WIB, kota berpenduduk dua juta orang itu menjadi kota mati. Puluhan ribu korban tewas masih terkubur di bawah puing-puing bangunan dan tergeletak di sisi jalan sehingga menebarkan bau anyir ke seluruh sudut kota. Di samping itu, aksi perampokan, penjarahan, dan tindak kriminal lainnya, seperti penodongan dan perampasan, meningkat seiring minimnya bantuan pangan. Kekhawatiran warga meningkat setelah penjara yang menampung 4.000 narapidana roboh dan penghuninya berkeliaran ke mana-mana. Warga sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka. ”Kami harus pergi tempat mana pun. Terpenting, kami bisa menjauhi kota ini,” kata Fils Saint Talulum yang berdiri di terminal busbersama suami dan empat anaknya, menunggu bus yang akan membawa mereka keluar dari kota. Keluarga Fils Saint Talulum hanya satu di antara ribuan warga lain yang juga melakukan hal yang sama. Warga berduyun-duyun meninggalkan Port-au-Prince, yang mereka juluki sebagai ”neraka”. Bosan dan lelah tidur di jalanan di alam terbuka, takut dirampok penjahat bengis, dan takut gempa susulan menjadi alasan utama warga untuk eksodus besar-besaran ke daerah yang tidak parah terkena gempa. ”Udara di jalanan di seluruh pelosok kota tercemar bau anyir yang keras. Belum ada bantuan apa pun dan anak-anak kami tidak bisa hidup seperti binatang,” kata Fils Saint Talulum. Sama seperti ribuan warga lain, keluarga Talulum mengungsi ke Fodernerg, sebuah kota kecil sejauh tiga jam naik bus dari Port-au-Prince. Mereka membeli tiket sekitar 400 gourde atau 10 dollar AS per orang. Tarif itu naik dua kali lipat dari tarif normal. ”Tetapi, tarif itu relatif masih tepat untuk keluar dari neraka,” kata Aanoz Richard (40), tukang roti yang menjadi tunawisma setelah gempa. Ia marah karena tabungannya tidak cukup untuk membayar ongkos bus. Di Fodernerg, kota kecil yang tingkat kerusakannya tidak separah di Port-au-Prince, warga berharap bisa menata kembali hidupnya. ”Kami ingin untuk segera membangun rumah di sana, tetapi yang menjadi masalah, bagaimana kami bisa mendapatkan uang?” tanya Fils Saint Talulum dengan wajah memelas. Korban tewas Korban tewas akibat gempat dahsyat terus meningkat. Menteri Dalam Negeri Paul Antoine Bien-Aime menyebutkan, petugas sudah menemukan 50.000 mayat. ”Kami memperkirakan jumlah korban tewas bisa bertambah hingga 100.000 dan 200.000 orang,” katanya. Sekretaris Negara Bidang Keselamatan Publik Aramick Louis menyebutkan, 40.000 mayat telah dikubur secara massal. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang diungkap Presiden Haiti René Préval sehari sebelumnya bahwa ada 7.000 mayat telah dikubur di pekuburan massal. Korban tewas itu dipastikan akan terus bertambah karena masih banyak warga yang melaporkan kehilangan anggotanya akibat tertimbun reruntuhan bangunan dan belum dievakuasi. Ratusan gedung tinggi dan bangunan besar yang runtuh belum bisa dibersihkan karena minimnya alat berat serta masih sedikit relawan. Bantuan mengalir Bantuan berupa tenda, makanan instan, pakaian, dan obat-obatan dari dunia internasional mulai berdatangan. Namun, bantuan tertumpuk di bandara, tidak bisa disalurkan karena jaringan jalan ke kota tidak bisa dilalui akibat rusak parah. Ribuan warga kelaparan dan kehausan akibat ketiadaan makanan dan air bersih. Salah seorang di antara ribuan korban itu adalah Berley Marie Lourde (50), yang sudah tiga hari tidak makan. PBB yang akan memimpin misi kemanusiaan atas musibah Haiti ini bertekad segera menyalurkan bantuan, termasuk kemungkinan menyalurkan melalui helikopter. PBB menyediakan dana 560 juta dollar AS.(AFP/AP/REUTERS/CAL) [Non-text portions of this message have been removed]
