Mendapat forward dari teman di milis, Mas Satriyo, terkait joke sufi dari 
seorang Mullah (panggilan/gelar seorang tokoh agama Islam di Timur-Tengah, 
terutama yg berkecimpung di bidang tasawuf - kajian akhlak dan kejiwaan dalam 
Islam).

Ya, seorang Mullah kocak, humoris, tetapi menyentil, menyadarkan bahwa kita 
harus berbenah - Nashruddin Hoja.

Ane pilih beberapa utk jadi bacaan awal pekan, sekaligus refreshing dan juga 
utk evaluasi diri (muhasabah). 

Background joke tsb kebanyakan pd masa ekspansi Mongol-Tartar di Timur-Tengah, 
terutama oleh Timur-Lenk yg terkenal kehebatannya dalam Militer, sekaligus 
terkenal kekejamannya. 

Entah kenapa, menurut ane pribadi, kok rasanya pas sesuai dgn konteks kita saat 
ini. Mohon maaf, mungkin ada yg berkata "Nonjok Gue Banget nih!", atau "Kok 
kayak Indonesia banget ya?"

Semoga berkenan, dan mohon maaf bila mengganggu, terlebih bila sudah pernah 
membacanya.

Best Regards and Wassalam,




Nugon


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal



sumber: 
http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/18146
http://darisrajih.wordpress.com/category/kisah-sufi/nasrudin-hoja/




KEADILAN DAN KELALIMAN
                
                Tak
lama setelah menduduki kawasan Anatolia, Timur Lenk mengundangi para
ulama di kawasan itu. Setiap ulama beroleh pertanyaan yang sama:
“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil,
maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu
aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

Beberapa ulama telah jatuh menjadi korban kejahatan Timur Lenk ini.
Dan akhirnya, tibalah waktunya Nasrudin diundang. Ini adalah perjumpaan
resmi Nasrudin yang pertama dengan Timur Lenk. Timur Lenk kembali
bertanya dengan angkuh :
“Jawablah: apakah aku adil ataukah lalim. Kalau menurutmu aku adil,
maka dengan keadilanku engkau akan kugantung. Sedang kalau menurutmu
aku lalim, maka dengan kelalimanku engkau akan kupenggal.”

Dan dengan menenangkan diri, Nasrudin menjawab :
“Sesungguhnya, kamilah, para penduduk di sini, yang merupakan
orang-orang lalim dan abai. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang
diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami.”

Setelah berpikir sejenak, Timur Lenk mengakui kecerdikan jawaban
itu. Maka untuk sementara para ulama terbebas dari kejahatan Timur Lenk
lebih lanjut.



PERUSUH RAKYAT
                
                Kebetulan
Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di
istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana.
Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah. 

“Menjauhlah engkau, hai mullah!” teriak pengawal. [Nasrudin dikenali sebagai 
mullah karena pakaiannya]
“Mengapa ?” tanya Nasrudin. 
“Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang 
berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !”

“Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?”
“Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga
agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !”
“Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya
sudah ada di dalam sana ?” kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.



ORIENTASI PADA BAJU
                
                Nasrudin
diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama,
hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Nasrudin melepas
bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah.
Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub
melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah,
padahal kuda mereka lebih cepat. 
“Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku,” ujar Nasrudin ringan.

Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Nasrudin dipinjami kuda
yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama
kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan rumah berjalan lambat,
sehingga tuan rumah lebih basah lagi. Sementara itu, Nasrudin melakukan
hal yang sama dengan hari sebelumnya.
Sampai rumah, Nasrudin tetap kering.

“Ini semua salahmu!” teriak tuan rumah, “Kamu membiarkan aku mengendarai kuda 
brengsek itu!”
“Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju.”



KELEDAI MEMBACA
                
                Timur
Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan
senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata, Ajari keledai itu membaca.
Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana.
Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin
menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya
dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke
halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

“Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”
Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?”
Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan
lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum
di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa
makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk
membalik-balik halaman buku dengan benar.”

“Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang 
dibacanya ?”
Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya
membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka
buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?”


NASRUDIN MEMANAH
                
                Sesekali,
Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas
dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka
diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit,
dunia otot dan ketangkasan. 

“Ayo Nasrudin,” kata Timur Lenk, “Di hadapan para prajuritku,
tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu
dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal,
engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu.” 

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan
memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat
jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, “Demikianlah
gaya tuan wazir memanah.” 

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan
memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak
lagi, “Demikianlah gaya tuan walikota memanah.” 

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik
dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran.
Nasrudin pun berteriak lagi, “Dan yang ini adalah gaya Nasrudin
memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja.” 

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.




JATUH KE KOLAM
                
                Nasrudin
hampir terjatuh ke kolam. Tapi orang yang tidak terlalu dikenal berada
di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat. Namun
setelah itu, setiap kali bertemu Nasrudin orang itu selalu membicarakan
peristiwa itu, dan membuat Nasrudin berterima kasih berulang-ulang.

Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung
peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke lokasi, dan kali ini
Nasrudin langsung melompat ke air.

“Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang
seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi
sana!”




MENJUAL TANGGA
                
                Nasrudin mengambil tangganya dan menggunakannya untuk naik ke 
pohon tetangganya. Tetapi sang tetangga memergokinya. 

“Sedang apa kau, Nasrudin ?”
Nasrudin berimprovisasi, “Aku … punya sebuah tangga yang bagus, dan sedang aku 
jual.”

“Dasar bodoh. Pohon itu bukan tempat menjual tangga!” kata sang tetangga, marah.
Nasrudin bergaya filosof. “Tangga, bisa dijual di mana saja.” 




GELAR TIMUR LENK
                
                Timur Lenk mulai mempercayai Nasrudin, dan kadang mengajaknya 
berbincang soal kekuasaannya.

Nasrudin,” katanya suatu hari, “Setiap khalifah di sini selalu
memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: Al-Muwaffiq Billah,
Al-Mutawakkil ‘Alallah, Al-Mu’tashim Billah, Al-Watsiq Billah, dan
lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?”

Cukup sulit, mengingat Timur Lenk adalah penguasa yang bengis. Tapi
tak lama, Nasrudin menemukan jawabannya. “Saya kira, gelar yang paling
pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah* saja.”
*”Aku berlindung kepada Allah (darinya)”



TIMUR LENK DI AKHIRAT
                
                Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal 
kekuasaannya.
“Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut
kepercayaanmu ? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia
atau yang hina ?”

Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan ’semudah’ ini.
“Raja penakluk seperti Anda,” jawab Nasrudin, “Insya Allah akan
ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi
sejarah.”

Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. “Betulkah itu, Nasrudin ?”
“Tentu,” kata Nasrudin dengan mantap. “Saya yakin Anda akan
ditempatkan bersama Fir’aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon,
kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan.”

Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.



PADA SEBUAH KAPAL
                
                Nasrudin
berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nasrudin
selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak
mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai
besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para
penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong.
Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan
jika mereka selamat.

“Teman-teman!” teriak Nasrudin. “Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku 
melihat daratan!”



PENYELUNDUP
                
                Ada
kabar angin bahwa Mullah Nasrudin berprofesi juga sebagai penyelundup.
Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah
jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal yang
mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nasrudin memang
sering harus melintasi batas wilayah. 

Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. “Aku
tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak
pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah
penasaranku: apa yang engkau selundupkan ?”
“Jubah,” kata Nasrudin, serius.





MISKIN DAN SEPI
                
                Seorang
pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal
sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun
karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu
per satu kawan-kawannya pun menjauhinya. 

Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi
Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya]
dijadikan perantara untuk memohon berkah.

“Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus 
saya lakukan?” keluh pemuda itu.

“Jangan khawatir,” jawab Nasrudin, “Segalanya akan normal
kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan
bahagia.”

Pemuda itu gembira bukan main. “Jadi saya akan segera kembali kaya?”

“Bukan begitu maksudku. Kalu salah tafsir. Maksudku, dalam waktu
yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin
dan tidak mempunyai teman.”





HIDANGAN UNTUK BAJU (1)
                
                Nasrudin
menghadiri sebuah pesta. Tetapi karena hanya memakai pakaian yang tua
dan jelek, tidak ada seorang pun yang menyambutnya. Dengan kecewa
Nasrudin pulang kembali. 

Namun tak lama, Nasrudin kembali dengan memakai pakaian yang
baru dan indah. Kali ini Tuang Rumah menyambutnya dengan ramah. Ia
diberi tempat duduk dan memperoleh hidangan seperti tamu-tamu lainnya. 

Tetapi Nasrudin segera melepaskan baju itu di atas hidangan dan berseru, “Hei 
baju baru, makanlah! Makanlah sepuas-puasmu!” 

Untuk mana ia memberikan alasan “Ketika aku datang dengan baju
yang tadi, tidak ada seorang pun yang memberi aku makan. Tapi waktu aku
kembali dengan baju yang ini, aku mendapatkan tempat yang bagus dan
makanan yang enak. Tentu saja ini hak bajuku. Bukan untukku.”




HIDANGAN UNTUK BAJU (2)
                
                Nasrudin
menghadiri sebuah pesta pernikahan. Dilihatnya seorang sahabatnya
sedang asyik makan. Namun, di samping makan sebanyak-banyaknya, ia
sibuk pula mengisi kantong bajunya dengan makanan. 

Melihat kerakusan sahabatnya, Nasrudin mengambil teko berisi
air. Diam-dian, diisinya kantong baju sahabatnya dengan air. Tentu saja
sahabatnya itu terkejut, dan berteriak,
“Hai Nasrudin, gilakah kau ? Masa kantongku kau tuangi air!” 

“Maaf, aku tidak bermaksud buruk, sahabat,” jawab Nasrudin,
“Karena tadi kulihat betapa banyak makanan ditelan oleh kantongmu, maka
aku khawatir dia akan haus. Karena itu kuberi minum secukupnya.”



PERIUK BERANAK
                
                Nasrudin
meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia
mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya.
Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu. 

“Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya 
dengan selamat.”
Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang. 

Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu.
Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai
gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin, 

Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, “Oh, sungguh
sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di
rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan.”

Sang tetangga menjadi marah, “Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. 
Mana ada periuk bisa meninggal dunia!”

“Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia,” kata 
Nasrudin, sambil menghentikan isaknya.



Mempercayai Keledai
                
                Seorang tetangga datang untuk meminjam keledai Nasruddin.   
“Keledai sedang dipinjam,” kata Nasruddin.   


Pada saat itu binatang itu meringkik dari kandangnya. “Tetapi saya
dengar ringkikannya,” kata tetangga itu. “Jadi siapa yang kaupercaya,
keledai atau saya?”





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke