http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/04/03322084/hangatnya.kerukunan.dalam.segelas.susu

Hangatnya Kerukunan dalam Segelas SusuKamis, 4 Februari 2010 | 03:32 WIB
Susu kedelai adalah minuman khas Pangkal Pinang, Bangka. Rasanya gurih, tak 
terlalu encer, dengan aroma sedap. Lewat segelas susu kedelai ini pula 
kerukunan warga terjalin. Malam hari, warga menikmati segelas susu sambil 
mengobrol santai. Itu terlihat antara lain di pusat kota dekat Bioskop Banteng 
dan seputar Lapangan Merdeka. Di situlah warga Pangkal Pinang dari etnis 
Tionghoa, Melayu, Jawa, dan lainnya membaur dalam suasana keakraban.
Suasana akrab seperti di warung susu kedelai merupakan gambaran kecil tentang 
kerukunan hidup antaragama di Pangkal Pinang dan Bangka. Gesekan di antara 
mereka hampir tidak pernah ada. Bahkan, saat terjadi kerusuhan etnis di Jakarta 
tahun 1998, situasi di Bangka tetap aman kendati muncul provokasi yang mengadu 
domba etnis Tionghoa dengan etnis lain.
Kok, bisa? ”Karena tak ada kesenjangan sosial di semua etnis,” kata Wakil Ketua 
Kepengurusan Klenteng Kwan Tie Miau, Pangkal Pinang, Henry Kurniawan. Etnis 
Tionghoa di Bangka berada di semua strata sosial, mulai dari lapisan bawah 
sampai atas. ”Di Bangka, orang Tionghoa juga menjalani pekerjaan kasar seperti 
tukang batu, kernet, atau petani. Orang Tionghoa di Bangka tidak menganggap 
dirinya berbeda dan tidak menganggap orang lain berbeda.”
Faktor pernikahan campuran antara etnis Tionghoa dan etnis lain juga 
menyebabkan toleransi antaragama dan hubungan antaretnis berlangsung mulus. 
Abdullah Idi dalam buku Bangka Sejarah Sosial Cina dan Melayu menulis, 
asimilasi etnis Tionghoa dan etnis Melayu membutuhkan proses panjang selama 
ratusan tahun. Proses dimulai ketika usaha penambangan timah di Bangka dibuka 
awal abad ke-18. Para imigran China berdatangan ke Bangka, bekerja sebagai kuli 
di penambangan timah.
Abdullah menyimpulkan, asimilasi etnis Tionghoa dan Melayu tidak terlepas dari 
keberadaan tambang timah. Tambang timah mengubah status sosial imigran China 
berubah dari warga miskin di negerinya menjadi lebih baik di Bangka. Hal itu 
menyebabkan asimilasi etnis Tionghoa dan Melayu di Bangka lebih menonjol 
dibandingkan dengan asimilasi etnis Tionghoa dengan pribumi lokal lainnya. (WAD)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke