http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/04/04235911/at.mahmud.kerisauan.seorang.pendidik




AT Mahmud, Kerisauan Seorang PendidikKamis, 4 Februari 2010 | 04:23 WIB
Oleh tonny d widiastono
Februari 2010 merupakan bulan istimewa bagi pencipta lagu anak-anak, Abdullah 
Totong Mahmud, atau lebih dikenal dengan AT Mahmud. Tanggal 3 Februari lalu, 
pria jangkung berkumis putih melintang ini memasuki usia 80 tahun. 
Istrinya, Mulyani, pada tanggal yang sama memasuki usia 76 tahun. Dari 
pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga anak, yaitu Ruri Mahmud, Rika Mahmud, 
dan Revina Ayu. Anggota keluarga AT Mahmud kini sudah kian besar dengan 
hadirnya sejumlah cucu.
Meskipun memasuki usia istimewa, tak tampak kesibukan menonjol di rumah AT 
Mahmud di Jalan Tebet Barat, Jakarta. Satu-satunya karangan bunga datang dari 
sebuah perusahaan rekaman. Selebihnya, tak ada apa-apa. ”Memang tidak ada 
apa-apa. Rencananya hari Minggu nanti akan ada pengajian dengan tetangga,” kata 
Mulyani.
Saat menerima Kompas, pria kelahiran Palembang, yang menyelesaikan pendidikan 
HIS hingga SMA di kota asalnya itu, terlihat tak segagah dulu. Konsentrasinya 
mulai berkurang, kesehatannya pun tak lagi prima, dan kemampuan pendengaran 
telinga kiri juga menurun. Itu semua terjadi setelah AT Mahmud terkena serangan 
stroke ringan pada Februari 2007. Sejak itu, aktivitasnya mulai banyak 
berkurang.
”Kegiatan pagi hari saya adalah jalan kaki mengelilingi kompleks, lalu makan 
telur dan minum susu. Setelah itu, saya baru mencari kegiatan yang lain. Dulu, 
beberapa kali masih melayani wawancara mahasiswa yang akan membuat skripsi. 
Tetapi, sejak tahun lalu, kegiatan itu dihentikan,” ujar pencipta lagu Pelangi, 
Ambilkan Bulan, dan ratusan lagu anak-anak lainnya itu.
AT Mahmud tak lagi ingat, bagaimana dan mengapa ia terjun ke dunia lagu 
anak-anak. Latar belakang pendidikannya adalah bahasa Inggris di IKIP Jakarta 
dan pernah mengecap pendidikan di The University of Sydney, Australia, selama 
setahun. Namun, sejauh ingatannya, persentuhan dengan lagu anak-anak dialami AT 
Mahmud saat di HIS di Palembang. Atas kegigihannya menekuni lagu anak-anak 
itulah, AT Mahmud pernah dipercaya TVRI untuk merancang dan mengasuh acara bagi 
anak-anak, Ayo Menyanyi, dengan pemandu Ibu Fat. Juga, acara Lagu Pilihanku 
dengan pemandu Ibu Mul, yang tak lain adalah istrinya sendiri.
”Saya tak ingat lagi, berapa ratus lagu yang sudah saya buat. Mungkin lebih 
dari 700 atau 800 buah. Yang tercetak di buku Pustaka Nada terbitan Grasindo 
saja ada lebih dari 300 buah. Dan, berapa lagu yang ada pada buku Amalku, yang 
berisi lagu-lagu bernapaskan Islami atau pada buku Nyanyian Dua Suara. Saya tak 
ingat lagi,” katanya.
Risau
Berbicara tentang lagu anak-anak, kita tidak bisa melupakan nama-nama, seperti 
almarhum Pak Dal, Pak Kasur, dan Ibu Kasur. Mereka umumnya guru yang sering 
berkumpul dengan anak-anak. Hal ini mendorong mereka menciptakan lagu yang 
sesuai perkembangan psikologi anak. Maka, lahir lagu anak-anak untuk permainan, 
atau yang berbicara tentang alam, atau mengungkap kasih orangtua. Bagi AT 
Mahmud sendiri, kebebasan dari orangtua telah mendorongnya untuk membuat lagu 
anak-anak yang bertutur tentang alam atau kebesaran Tuhan, seperti tecermin 
dalam lagu Pelangi, Bintang Kejora, dan Amelia.
Meskipun sudah banyak membuat lagu anak-anak, AT Mahmud masih terus merasa 
risau. Ini adalah kerisauan seorang pendidik. Pasalnya, meskipun banyak lagu 
anak-anak sudah tercipta dari sejumlah komponis, tetapi yang dikenal hanya 
beberapa. Bagaimanapun juga, seni—termasuk lagu—mempunyai fungsi sosial. 
Artinya, karya itu baru berarti bila dikomunikasikan. Sebagus apa pun lagu, 
jika tidak dikomunikasikan, tidak akan dikenal. Sebaliknya, sejelek apa pun 
lagu jika terus diekspos, akan tertanam di benak dan dianggap bagus.
”Maaf, ya, saat ini, media televisi kita lebih banyak memberikan porsi musik 
untuk konsumsi orang dewasa. Ada pop, ada jazz, ada dangdut, keroncong, dan 
lainnya. Untuk anak-anak? Mana? Dalam persaingan televisi yang kian ketat, 
kebutuhan anak-anak akan lagu-lagu mereka sepertinya terlupakan. Mungkin media 
lupa bahwa mereka juga harus mengemban aspek pendidikan,” kata AT Mahmud 
terpatah-patah.
Maka, tidak perlu heran bila sekarang ini perbendaharaan lagu-lagu yang 
dimiliki anak-anak lebih banyak berisi lagu-lagu dewasa. Anak-anak kecil sudah 
fasih menyanyikan lagu-lagu cinta. ”Anehnya, kita semua sering merasa biasa 
saja. Seolah tidak ada yang perlu dirisaukan. Tetapi, saya amat risau dengan 
keadaan ini,” tutur AT Mahmud.
Peran sekolah
AT Mahmud juga menyoroti kurangnya perhatian kita terhadap musik anak-anak. 
Sejauh ini, kita belum pernah berbicara, seperti apa sebenarnya musik anak-anak 
itu, bagaimana aransemennya, alat musik apa yang cocok untuk anak-anak. Yang 
terjadi, musik anak-anak sering sudah diplot sehingga yang terlahir bukan lagi 
musik anak-anak murni, tetapi tak lebih dari musik orang dewasa yang dimainkan 
anak-anak.
Perlu dipahami, anak-anak amat suka dengan bunyi-bunyian. Maka, kepada mereka 
selayaknya diberi alat musik perkusi, tamborin, drum, simbal, dan lainnya yang 
bisa dipukul- pukul. Bunyi-bunyi yang dipukul berirama akan mendorong imajinasi 
anak. Dan, pada saat itu, imajinasi anak bisa berkembang, mengembara tanpa 
batas.
Hilangnya lagu-lagu anak juga disebabkan oleh sekolah yang tak lagi memberikan 
perhatian pada pelajaran kesenian ini. Dalam kurikulum, mata pelajaran menyanyi 
digabungkan dengan paket pelajaran kerajinan dan kesenian. Di dalamnya, 
tercakup keterampilan, seni rupa, seni musik, seni tari, dan lainnya dengan 
waktu yang tak lebih dari dua jam pelajaran.
Cukupkah waktu dua jam? Padahal, pelajaran seni itu terkait upaya mengasah 
kepekaan jiwa, menumbuhkan harmoni, dan menghargai keindahan. Agaknya, 
penyatuan seluruh pelajaran kesenian diarahkan pada keterpaduan.
”Masalahnya, mampukah para guru kita menangani seluruh pelajaran kesenian itu? 
Pada akhirnya, yang diajarkan adalah pelajaran tentang seni, bukan bagaimana 
berkesenian. Saya menduga, banyak guru SD yang mengalami kesulitan dalam 
mengajarkan kesenian,” lanjut AT Mahmud.
***
ABDULLAH TOTONG MAHMUD (AT MAHMUD)• Lahir: Palembang, 3 Februari 1930• 
Istri: Mulyani, lahir 3 Februari 1934• Anak: 
1. Ruri Mahmud 
2. Rika Mahmud 
3. Revina Ayu 

• Beberapa Penghargaan:1. Piagam Penghargaan dari Panitia Pusat Hari Bersejarah 
ABRI tahun 1974 
2. Piagam Penghargaan dari Pejabat Gubernur KDKI Jakarta (1977) 
3. Piagam Penghargaan dari Bank Indonesia (1978) 
4. Piagam Penghargaan dari Direktorat Radio (1979) 
5. Bintang Budaya Parama Dharma (2003) dari Presiden Megawati Soekarnoputri 
6. Penghargaan dari Partai Golkar yang ditandatangani Jusuf Kalla 
7. AMI Lifetime Achievement Award 2003, dan lain-lain 

• Menciptakan lebih dari 800 lagu anak-anak, antara lain tertuang dalam: 

1. Pustaka Nada jilid 1 sampai 3 
2. Amalku, berisi lagu anak-anak bernapaskan Islami 
3. Nyanyian Dua Suara, dan lainnya



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke