http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/message/22757
Morry Infra <morry.in...@...>morry.in...@... 
 Send Email 
Fwd: Sebab - Akibat...
--------- Forwarded message ----------
From: Dicky Trisnadi <>
Date: 2010/5/25


(Soal yang satu ini ngak bisa dipecahkan oleh Profesor Fisika.... Tobaat 
...Tobaaat...) SEBAB...
Rabu, 9 September 2009 | 19:45 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Penyelewengan dana 
pendidikan utamanya dilakukan aparat dinas pendidikan di daerah dan sekolah. 
Peluang penyelewengan dana pendidikan itu terutama dalam alokasi dana 
rehabilitasi dan pengadaan sarana prasarana sekolah serta dana operasional 
sekolah.Temuan tersebut dipaparkan oleh Febri Hendri, Peneliti Senior Indonesia 
Corruption Watch (ICW) saat menyoal Evaluasi Kinerja Departemen Pendidikan 
Nasional Periode 2004 - 2009 di Jakarta, Rabu (9/9). Pemetaan korupsi di sektor 
pendidikan tersebut antara lain menyoroti obyek yang dikorupsi, instansi tempat 
terjadinya korupsi, modus korupsi, lokasi korupsi, serta tersangka 
korupsi.Menurut Febri, selama kurun waktu 2004-2009, sedikitnya terungkap 142 
kasus korupsi di sektor pendidikan. Kerugian negara mencapai Rp 243,3 
miliar.  AKIBAT:MINGGU, 23 MEI 2010 | 20:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menjadi jawara Olimpiade Fisika di tingkat Asia 
rupanya tak otomatis bisa menikmati beasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi 
terbaik di negeri ini. Pengalaman getir pada tahun lalu itu dialami Hendra 
Kwee, 30 tahun. Sebagai pembina di Yayasan Tim Olimpiade Fisika Indonesia 
(TOFI), ia bermaksud membantu anak asuhannya agar bisa mendapatkan beasiswa di 
Institut Teknologi Bandung.

Namun Hendra hanya bisa terbengong-bengong ketika seorang pejabat Kementerian 
Pendidikan Nasional meminta agar si pelajar itu kuliah dulu, baru kemudian 
mengajukan beasiswa. "Kemampuan anak-anak jenius ini sungguh tak dihargai," 
kata doktor fisika dari College of William and Mary, Virginia, Amerika Serikat, 
itu saat ditemui di kantor Yayasan TOFI, Rabu lalu.

Ia tak habis mengerti, seorang peraih medali emas kompetisi pelajar tingkat 
Asia, yang sudah mengharumkan nama negara, harus berjuang sendiri untuk bisa 
kuliah di dalam negeri. Padahal universitas luar negeri mana pun, Hendra 
melanjutkan, akan menjamin seluruh biaya sejak murid itu mendaftar.

Apesnya lagi, penerima beasiswa di Tanah Air tak serta-merta bisa tenang. Ia 
ingat betul saat kuliah di ITB, 13 tahun lalu. "Teman saya yang menerima 
beasiswa harus berutang kanan-kiri karena pencairannya molor lima bulan," 
katanya. Karena itu pula, Hendra ogah mengurus beasiswa untuk dirinya sendiri. 
Padahal ia adalah jawara olimpiade fisika pada 1996.

Entah berkaca pada pengalaman Hendra atau bukan, Winson Tanputraman, 17 tahun, 
pun lebih memilih kuliah di National University of Singapore (NUS) mulai Juni 
nanti. "Kampus itu menerima permohonan beasiswa saya," kata peraih medali emas 
Olimpiade Fisika tingkat Asia di Thailand, 2009. Iming-iming dari Negeri Singa 
itu memang lebih menggoda. "Semua biaya kuliah dan hidup saya ditanggung 
mereka," ujar bekas murid SMAK 1 Penabur Jakarta Barat itu.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Djalal menjelaskan, prosedur beasiswa 
di Tanah Air mungkin terkesan birokratis. Tapi hal itu dilakukan karena 
beasiswa merupakan uang negara, dan pemerintah tak mau kecolongan. Sebab, ada 
kalanya terjadi si penerima beasiswa ternyata kuliah di kampus lain, atau 
bahkan tidak mengikuti kuliah sementara uang telah digelontorkan. "Uang-uang 
itu harus bisa dipertanggungjawabkan," katanya.

Alokasi dana beasiswa Kementerian Pendidikan Nasional tahun ini Rp 1,5 triliun 
untuk lebih dari 3 juta siswa dan mahasiswa kurang mampu. Kementerian juga 
telah menyiapkan Program Beasiswa Bidik Misi sebesar Rp 200 miliar untuk 20 
ribu mahasiswa dari keluarga kurang mampu.

"Tidak ada biaya apa pun. Bebas pendaftaran, SPP, bebas biaya hidup, semuanya 
kami siapkan," tutur Menteri Pendidikan M. Nuh kepada pers awal Januari lalu.
Ketua Yayasan TOFI Profesor Yohanes Surya mengaku geram terhadap oknum-oknum 
pemerintah yang menyepelekan pentingnya merawat para jenius muda kita. "Banyak 
oknum yang sok ngatur, tapi malah bikin kacau," katanya.

Ia mengaku terpaksa turun takhta, tak lagi mencampuri keikutsertaan Indonesia 
di Olimpiade Fisika tingkat internasional tahun depan. Yohanes dipaksa hanya 
bisa mengikutkan anak didiknya di olimpiade tingkat Asia. Padahal selama ini 
fulus pemerintah tidak selalu mengalir untuk membuat murid-muridnya menjadi 
jawara. "Kami lebih banyak didanai sponsor," ujarnya.

Fasli Djalal membantah pengabaian ini. Pemerintah, katanya, secara prinsip 
membuka tangan lebar-lebar untuk bekerja sama dengan orang semacam Yohanes 
Surya. Ada bantuan biaya berupa akomodasi sejak berangkat hingga mereka pulang 
ke Indonesia. "Kalau berangkat atas inisiatif sendiri, tidak kami bantu," 
katanya.
-- 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke