Terkadang banyak orang yang hanya menghargai pekerjaan yang dikerjakan secara 
singkat, walaupun singkat tetapi waktu yang ditempuh untuk membuat pekerjaan 
menjadi singkat itu yang harus di renungkan dan dipikirkan oleh setiap kita 
semua........

banyak orang tidak menghargai hasil pekerjaan yang dilakukan secara singkat.... 
mungkin dengan waktu yang panjang orang baru percaya..... walaupun itu hanya 
pekerjaan yang sepele.....

 



________________________________
From: Nugroho Laison <[email protected]>
To: Smiling Heart <[email protected]>; SMA 1 Bekasi 
<[email protected]>; Binusnet <[email protected]>; bluejackets 
98-2 
<[email protected]>; Blue Jackets <[email protected]>; 
Muhammadiyah Society <[email protected]>; WarnaIslam 
yahoogroups <[email protected]>; eramuslim yahoogroups 
<[email protected]>; tauziyah <[email protected]>; Komunitas 
Tarbawi <[email protected]>; Mualaf Indonesia 
<[email protected]>; Majelis Rasulullah 
<[email protected]>; Alumni AnNabaa <[email protected]>; 
Alumni Majelis Taklim Alkhowarizmi <[email protected]>; Muslim Binus 
<[email protected]>
Sent: Tue, July 13, 2010 4:59:39 PM
Subject: [BinusNet] Fwd: [Warna Islam] Jurang Kompetensi

  
di copy paste dari salah satu rubrik karangan Kang Jay, di website Warna 
Islam.Sebelumnya juga pernah mendengar kisah yg mirip, ttg engineer 
troubleshooter IBM yg non official (bukan pegawai dari IBM) yg mengalahkan 
keahlian teknisi IBM yg official...mirip inti ceritanya, dan tetap menggelitik, 
tetapi mencubit...utk menyadarkan kita apa itu makna kompetensi.
Best Regards and Wassalam,

Nugon

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

http://www.warnaislam.com/blog/jayideas/2010/7/9/20040/Jurang_Kompetensi.htm
 

Jurang 
Kompetensi
Jumat, 09 
Juli 2010 05:34

Siang itu, mungkin siang yang kurang menyenangkan 
bagi saya. Mobil yang tadi pagi masih baik-baik saja, siang itu sulit 
dihidupkan. Dan setelah mesin hidup, ACnya tidak berfungsi sebagaimana 
mestinya. 

Siang yang terik terasa semakin panas di tengah kemacetan Jakarta.
Siang itu juga saya mampir ke bengkel AC. Hampir 
satu jam diperiksa, tidak ditemukan kelainan. Montir AC menyerah. Saya 
disarankan ke bengkel resmi karena disinyalir kerusakan ada pada Engine Control 
Unit. Ini adalah perangkat yang mengatur sirkulasi kelistrikan pada mobil. AC 
tidak berfungsi karena ECU tidak memberikan suplai daya listrik ke kompresor 
AC.

Saat itu juga saya ke bengkel resmi. Dan benar. ECU sudah tidak bisa 
digunakan. Jika saya ingin fungsi AC kembali normal, ECU harus diganti. Tidak 
ada alternatif diperbaiki. Harga barunya, 2,8 juta. Dan untuk menggantinya, 
saya 

harus menunggu 3 - 4 hari karena barang harus dikirim dari Pekanbaru, 
Riau.

Saya pulang ke rumah. Iseng-iseng browsing internet dan bertanya 
pada oom Google. Kata kuncinya servis ECU. Ada cukup banyak rekomendasi, dan 
setelah beberapa kali klik, saya dapat satu alamat di daerah Jakarta Barat. 
Tempat ini bisa memperbaiki sekaligus menjual ECU, baru atau 
bekas.

Esoknya, saya telepon dulu. Niatnya, mau ganti baru. Cuma, suara 
di seberang sama menyarankan untuk diperiksa dulu. Ia tidak percaya pada 
bengkel 

resmi!

Usai mampir di kantor sebentar untuk menanda-tangani beberapa 
berkas, saya meluncur ke TKP. Tidak susah mencarinya. ECU, yang bentuknya 
semacam PCB peralatan elektronik, langsung dicopot dan diperiksa di depan saya. 
Sebelumnya, ECU dibersihkan menggunakan, - believe or not, minyak kayu putih. 
Beberapa kali sang montir melakukan pemeriksaan menggunakan alat sederhana yang 
sepertinya hasil modifikasi sendiri.

Dia mengambil seutas serabut kabel 
halus dari tembaga. Mungkin beberapa milimeter, dan kemudian menyoldernya di 
atas ECU.

Tak perlu menunggu lama, ECU kembali dipasang. Mobil mudah 
dihidupkan, dan AC berfungsi seperti semula. Pekerjaan selesai tidak lebih dari 
10 menit!

Berapa biaya yang harus saya bayar untuk pekerjaan tak lebih 
dari 10 menit? Lima ratus ribu rupiah. Kemahalan? Awalnya saya pikir begitu. 
Begitu sang montir menyebut angka, langsung saya tawar separuhnya.

Bung. 
Sebagian besar umur, saya habiskan untuk belajar dan menekuni sistem elektronis 
kendaraan bermotor. Mulai dari yang bentuknya sederhana, sampai yang rumit 
seperti ini. Rentang waktu yang lama itu lebih banyak berisi kesulitan. Sekian 
lama saya menyusuri jurang, untuk menguasai sebuah kompetensi. Dan saat ini, 
izinkan saya menikmati hasil perjalanan saya!

Yes. Jurang kompetensi. 
Kalau cuma kerja 10 menit dan semua orang bisa melakukannya, pasti bayarannya 
tidak setinggi itu. Sang montir, memang bekerja 10 menit, tapi untuk menguasai 
tekniknya, ia harus belajar puluhan tahun, ribuan jam terbang. Dan kompetensi 
itu, tidak dimiliki setiap orang.

Ia pantas menerima bayaran sebesar itu. 
Pertanyaannya, berapa tarif kita untuk kerja 10 menit? 

Sudah dimuat di Rubrik 
Inspirasi Harian Semarang, 3 Juli 
2010) 

[Non-text portions of this message have been removed]





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke