Harta Dikuras Penipu, Vivian Rugi Rp 3 Miliar
Ken Yunita - detikNews
<a
href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE'
target='_blank'><img
src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=24&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a59ecd1b'
border='0' alt='' /></a>
Jakarta
- Komplotan penipu pengobral cinta Nigerian Sweetheart Scam tidak hanya
menggondol puluhan hingga ratusan juta rupiah. Seorang korban, sebut
saja Vivian, merugi hingga lebih dari Rp 3 miliar karena termakan
rayuan gombal sang penipu.
Vivian
mengisahkan pengalaman tidak mengenakkan itu kepada detikcom, Jumat
(3/9/2010). Meski berat untuk membuka kembali kisahnya yang terjadi
pada 2009 itu, Vivian ingin berbagi agar korban tidak lebih banyak
berjatuhan.
"Sebenarnya saya tidak ingin cerita, tapi saya
prihatin ternyata masih saja ada korban yang jatuh. Semoga dengan
mengemuka di media, tidak ada korban lagi," kata Vivian.
Vivian
mengaku menjalin cinta di internet dengan seorang pria yang mengaku
bule, sebut saja bernama Brandon. Perkenalan mereka terjadi pada awal
2009 melalui email atau surat elektronik. Setelah perkenalan itu,
keduanya terus intens berkomunikasi.
"Dia selalu mengirim
kata-kata manis ke aku, rayuannya membuat aku mabuk kepayang. Aku
selalu merasa tersanjung saat membaca email-emailnya," kata Vivian.
Singkat
cerita, setelah berhubungan selama beberapa bulan, si pria yang mengaku
pengusaha kaya raya di Inggris itu ingin lebih serius dengan Vivian.
Pria yang mengaku anak tunggal yang dari orang tua yang kaya raya itu
ingin menikahi Vivian, pacar jarak jauhnya.
"Aku senang banget
waktu dia bilang mau menikahiku. Dia bilang mau mengirimi barang-barang
mewah sebagai tanda ikatan bahwa dia mau menikah denganku. Dia juga mau
ngirim uang ribuan poundsterling," kata Vivian.
Vivian yang
berbunga-bunga akhirnya memberitahu kabar bahagia ini pada kedua orang
tuanya. Ayah dan ibu Vivian pun turun berbinar saat anak gadisnya
hendak menikah dengan orang bule.
"Orang tua aku senang banget, mereka tak sabar menunggu kiriman itu datang,"
cerita Vivian.
Hingga
pada suatu hari, Vivian mendapat telepon dari seseorang yang mengaku
dari perusahaan kurir yang berkantor di Malaysia. Orang itu mengatakan,
ada paket atas nama Vivian yang tersangkut di Malaysia. Paket tersebut
tidak bisa dikirimkan karena ternyata berisi uang yang sangat banyak
sehingga tidak bisa masuk ke Indonesia.
"Aku disuruh ngirim uang
kira-kira Rp 50 juta untuk membuat sertifikat antiteroris agar uang itu
bisa masuk ke Indonesia dan tidak dicurigai sebagai dana teroris," kata
Vivian.
Karena sudah kadung percaya pada 'pacar bulenya', vivian
pun manut saja. Apalagi, Brandon juga meyakinkan Vivian bahwa uang itu
memang diperlukan. Dikirimkanlah uang yang diminta dengan harapan
paketnya bisa segera sampai. Namun ternyata Vivian salah. Setelah uang
dikirim lewat Western Union (WU), Vivian kembali ditelepon oleh orang
yang sama.
"Dia bilang katanya aku harus ngirim uang lagi,
karena ternyata uang di paket sangat banyak sehingga perlu pajak. Aku
harus ngirim sekitar Rp 100 juta lagi," kata Vivian.
Vivian
kemudian membicarakan hal itu pada keluarganya. Keluarga Vivian
kemudian menyuruh Vivian mengirim uang tersebut, masih melalu WU. "Jadi
aku kirim lagi," kata Vivian.
Apesnya, pengiriman uang Rp 100
juta itu bukan yang terakhir. Vivian masih terus diminta untuk mengirim
uang dengan berbagai alasan. Dan entah kenapa juga, Vivian terus saja
mengirimkan uang yang diminta. Bahkan karena WU menerapkan batasan uang
yang bisa dikirim, anggota keluarga Vivian lainnya ikut membantu
mengirim uang-uang itu atas nama mereka.
"Total-total, saya sudah merugi Rp 3 miliar kali," katanya sedih.
Karena
makin lama paketnya tidak segera datang juga, ibu Vivian pun mulai
curiga. Dia berniat untuk mengambil paket itu sendiri ke Malaysia.
Jadilah Vivian dan ibunya terbang ke Malaysia ditemani salah satu
kerabat laki-laki.
"Mereka awalnya menolak, tapi karena kita bilang kalau kita bawa uang, akhirnya
mereka mau," kata Vivian.
Setelah
tiba di Malaysia, Vivian dan ibunya ditemui oleh tiga orang. Dari
ketiganya, tidak ada satu pun orang bule atau kulit putih. Begitu
melihat orang-orang itu, Vivian baru tersadar jika dirinya kena tipu.
Gadis itu pun lalu memutuskan pulang ke Indonesia tanpa membawa kopor
yang oleh penipu disebut-sebut penuh uang dan perhiasan itu.
Vivian
tidak melaporkan kasus ini ke polisi. Sama dengan perempuan yang lain,
vivian malu kasus ini mencuat ke publik. Vivian bersedia sharing karena
tidak ingin ada perempuan yang mengalami kasus tragis seperti dirinya.
"Pelajarannya,
jangan percaya dengan orang, setidaknya sebelum ketemu langsung.
Komunikasi di internet banyak sekali penipuan," pesan Vivian.
[Non-text portions of this message have been removed]