http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/8956
---------- Forwarded message ----------
----- Original Message -----
From: Farid Gaban
To: [email protected]
Sent: Friday, September 03, 2010 1:51 PM
Subject: [jurnalisme] The New Scientist/Antara: Internet Hilangkan Kemampuan
Berpikir Konseptual
Internet Hilangkan Kemampuan Berpikir Konseptual
Jumat, 3 September 2010
Jakarta (ANTARA News) - Sebelum ini Nicholas Carr mengalami masalah konsentrasi
dan sulit fokus saat membaca artikel panjang atau buku. Tapi itulah yang
mendorongnya menulis buku "The Shallow What the Internet Is Doing to Our
Brains," sebuah buku yang bercerita tentang hubungan internet dengan otak
manusia.
"Buku itu mencoba memperoleh dasar dari persoalan itu," kata Carr seperti
dikutip New Scientist.
Dia melanjutkan, "Saya sulit fokus lama. Pikiran saya ingin bertindak seperti
ketika sedang online, mencari banyak hal dan menggali sedikit informasi,
ketimbang fokus pada satu hal."
Keadaan itu mengantarkannya untuk memanfaatkan teknologi komunikasi digital
yang disebutnya sangat menarik dan menguntungkan manusia.
"Dulu kita dihargai karena kemampuan kita mengalihkan perhatian secara cepat
dan belajar sebanyak yang kita mampu mengenai keadaan sekitar. Kini, internet
mengajak kita kembali pada gaya berpikir yang lebih mengalihkan dan
menyebarkan, membaca sepintas dan mengamati dari jauh," kata lulusan Darmouth
College dan Universitas Harvard ini.
Carr tidak setuju dengan pendapat bahwa memiliki akses ke banyak informasi,
mencari banyak hal secara bersamaan, dan bekerja dengan banyak orang, adalah
cara ideal untuk menggunakan pikiran.
Menurutnya kebiasaan "memperhatikan" mengantarkan manusia pada gaya berpikir
baru di mana dengan cara itu manusia memindahkan ingatan yang sedang berjalan
menjadi ingatan jangka panjang.
Itu juga mengaktifkan proses mental yang meningkatkan konsep berpikir, berpikir
kritis dan bahkan kreativitas.
Menurut Carr, dari sudut pandang teoritis, sepanjang sejarah, teknologi seperti
peta, jam dan alfabet membentuk cara berpikir manusia.
Penemuan neuroplastisitas lalu memberi pandangan mengenai bagaimana teknologi
membentuk cara berpikir manusia.
Lingkungan manusia yang berbasis website menekankan membaca hanya sepintas,
lalu mengamati, kemudian membaca dan melakukan banyak pekerjaan pada waktu
bersamaan.
Keadaan ini menguatkan jaringan sel otaak yang mendukung proses ini. Namun,
jika gaya berpikir merenung diabaikan, maka rangkaian mental malah tidak
diperkuat.
Carr memang mengakui saat ini tak banyak bukti yang menunjukkan bagaimana
internet mempengaruhi otak.
Namun, satu penelitian dari Universitas California, Los Angeles, mesin pencari
pada Internet telah mengubah pola aktivasi otak manusia, lewat "attention
deficit hyperactivity disorder" (ADHD). Di sini, otak diganggu dan terus
mencari banyak rangsangan.
Carr mengatakan setidaknya ada satu teori yang mengaitkan ADHD dengan kapasitas
kerja memori manusia.
"Jadi saat kita mengalami kelebihan muatan kognitif, yang terjadi tidak hanya
gangguan, tapi juga meningkatkan gangguan yang kita rasakan karena kita tidak
bisa mengingat apa yang harus kita perhatikan," kata Carr.
Saat mengalami kelebihan muatan kognitif secara terus-menerus, maka manusia
tidak akan bekerja lebih dalam, lebih konseptual, dan berpikir lebih kritis.
"Mungkin cara berpikir ini akan menjadi dominan dan akan bernilai bagi
masyarakat. Tetapi, kita kehilangan sesuatu yang penting," kata Carr.(*)
Sumber: New Scientist/Disadur Andrian Henny R.
COPYRIGHT © 2010
[Non-text portions of this message have been removed]
--
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist's, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra'd [13]: 28
[Non-text portions of this message have been removed]