----- Forwarded Message ----
From: puteri <[email protected]>
To: Bisnis Center <[email protected]>; Biz cen 
<[email protected]>; CitaCinta <[email protected]>; 
Indonesian-Business <[email protected]>; abuafika 
<[email protected]>; ratih anggraini <[email protected]>; arif_oemar 
<[email protected]>; dheanwhazha <[email protected]>; Qonita Koe 
<[email protected]>; lia. emilia12 <[email protected]>; mc-ers 
<[email protected]>
Cc: [email protected]; [email protected]
Sent: Wednesday, June 3, 2009 2:46:11 PM
Subject: BC @ FW: Kampanye email pada RS OMNI Internasional






dokter sekarang makin payah…gmn orang mau berobat ke RS Indonesia…lulusan 
dokter makin PAYAH!!!
 
From: hasymi hamid [mailto:hasymi.hamid@ bringinlife. co.id] 
Sent: Wednesday, June 03, 2009 1:28 PM
Subject: Kampanye email pada RS OMNI Internasional
 
Guys...udah baca, kan tentang Ibu Prita yang dipenjarakan karena menceritakan 
keluhan dia akan pelayanan RS OMNI?  
Kita dukung Ibu Prita yuuuk biar segera dibebaskan dari penjara:
Mari mulai dengan KAMPANYE EMAIL ini. Bagaimana caranya? 

1. Copy-paste email di bawah 

2. Bubuhkan nama Anda sebagai pengirim 

3. Kirimkan ke alamat i...@omnihealthcare .co.id dan i...@omni-hospitals .com 
cc kan ke pengacaranya Risma Situmorang, Heribertus & Partners di [email protected]. 
id 

4. Jika ingin lebih Anda bisa menyalurkan keluhan ini juga lewat telepon 
+622153125555 atau print dan fax +622153128666 

4. Redaksional email dapat diubah, sesuai dengan keingingan Anda (jangan 
gunakan kata kasar/sara tentunya) 

5. Tolong sebarkan KAMPANYE EMAIL ini melalui milis/forum atau email ke 
teman-teman Anda yang lain, ajak untuk mengirimkan email juga. 


Semoga aksi nyata dan bentuk dukungan ini bisa efektif dan memberi dampak nyata 
pada kebebasan Prita Mulyasari secepatnya! 

Ayo emailkan sekarang juga! 

= = = = = = = = email untuk di copy-paste = = = = = = = = = 
to: i...@omnihealthcare .co.id, i...@omni-hospitals .com 
cc: [email protected]. id 

Yth. 
Management RS OMNI International dan Pengacaranya 
Tanggerang 

Dengan hormat, 

Berkenaan dengan kasus hukum Prita Mulyasari salah satu mantan pasien RS OMNI 
International tangerang dan pemberitaan yang kami baca melalui Internet dan 
media massa maka kami berpendapat bahwa tindakan dari Management RS OMNI 
International sangatlah BERLEBIHAN dan TIDAK PERLU. 

Surat Pembaca dan Email Pribadi Prita Mulyasari yang dia tulis adalah ungkapan 
kekecewaan terhadap pelayanan yang RS OMNI International tangerang berikan. 

Bukannya menanggapi keluhan pelanggan tersebut dengan baik dan menyelesaikan 
masalahnya, RS OMNI International tangerang malah melakukan tuntutan hukum 
PERDATA dan PIDANA dan dalam proses melakukan KRIMINALISASI pada pasien Anda 
sendiri. 

Keluhan pelanggan/pasien yang mana hak-nya dijamin oleh UU No 8 Tahun 1999 
tentang Perlindungan Konsumen. 

Karena sebab diatas maka kami menuntut agar RS OMNI International tangerang 
agar: 

- Menghentikan segera semua upaya tuntutan hukum Perdata maupun Pidana pada 
Prita Mulyasari 

- Dalam kasus Perdata, karena terlanjur diputuskan: tidak melakukan banding dan 
tidak melakukan eksekusi hukumnan 

- Dalam kasus Pidana, karena sudah terlanjur masuk persidangan, memberikan 
support pada Prita Mulyasari dan memberikan kesaksian yang meringankan 

- Memberikan layanan yang terbaik, sesuai hukum dan kode etik pelayanan 
kesehatan bagi para pasiennya 

- Tidak lagi mengkriminalisasi pasien-pasien dan pelanggan RS Omni 
International tangerang 

Ini adalah suara publik dan pelanggan yang kami yakin akan Anda dengarkan dan 
pertimbangkan dengan serius dan masak-masak. 

Mohon agar kasus ini dapat diselesaikan dengan segera dan tidak berlarut-larut. 

Hormat saya, 


[Puteri] 
[Jakarta Pusat] 
[03/06/09]
 
 
 
Fw: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang 
Posted by: "Eliana_Eliana@ app.co.id" Eliana_Eliana@ app.co.id 
Thu Aug 21, 2008 2:43 am (PDT) 
----- Forwarded by Eliana Eliana/SRP/APP on 08/21/2008 04:41 PM -----

----- Forwarded by Bui Hiung/SRP/APP on 08/21/2008 04:18 PM -----

From: prita mulyasari [mailto:prita.mulyasari@ yahoo.com] 
Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
To: customer_care@ banksinarmas. com; hendra.goenawan@ banksinarmas. com; 
Hendra Goenawan; mario pasla; Lesthya theresa; Lucy Juliana Sapri; Andri 
Nugroho; Anton Ferdiansyah; ADI ATMANTO; Adia Adithiya Pradithama; Cindy 
Robertha; Credit Card Supervisor; Yusuf Centerix; dekkyharyanto@ yahoo.com; 
kakak gue; Setiawan Diana; Johan; Nadhya Budhiman; Renny Rosanna; Vanty 
Valentina
Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang 
Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, 
terutama anak-anak, lansia dan bayi. 
Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title 
International karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka 
semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan. 
saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya 
mengalami kejadian ini di RS Omni International. 
Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas 
tinggi dan pusing kepala, datang ke RS.. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS 
tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli 
kedokteran dan manajemen yang bagus. 

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 
derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah 
thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya 
diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya 
wajib rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample 
darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 
27.000. Dr. Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya 
gunakan tapi saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta 
dengan RS ini. Lalu referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky 
memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan 
bahwa ini sudah positif demam berdarah. 

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau 
ijin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan 
pagi, dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab 
semalam bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya 
kaget tapi dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya 
diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin 
pasien atau keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa 
sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena 
demam berdarah. Saya sangat kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak 
yang masih batita jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan 
dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh 
dokter profesional standard Internatonal. 

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap 
suntik tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya 
meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih 
terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus 
menerimanya. Satu box lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan 
disertai banyak ampul. 

Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan 
suntikan dan minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang 
sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin 
naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga 
tidak tahu dokter apa, setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan 
menunggu dr. Henky saja. 

Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster 
untuk memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter 
tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. 
Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap 
menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan 
kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit 
sekali. 

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang 
sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun 
hanya berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam 
kondisi infus padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti 
tangan kiri saya. 
Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan 
suntikan dan obat-obatan. 

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr.. Henky untuk ketemu dengan kami 
namun janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan 
kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, 
suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan 
sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. 
Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri 
saya. 

Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut 
malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan 
kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat 
mengenai kondisi saya dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini 
dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. 
Dr. Henky menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang 
memuaskan. 

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai 
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau 
dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan 
data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan 
data medis yang fiktif.. 

Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal 
itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya 
samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya 
yang 181.000 bukan 27.000. 

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat 
dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak 
adalah 181.000, kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya 
complaint dan marah-marah, dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil 
lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu 
langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut. 

Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi 
(customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda 
terima tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar 
dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service 
nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya 
meminta tanda terima pengajuan complaint tertulis. 

Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas 
nama Ogi (customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service 
manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang 
terjadi dengan saya. 
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan 
dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 
makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 
181.000 saya masih bisa rawat jalan. 

Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint 
saya ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan 
baik, dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. 
Mimi informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen 
dan dr. Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan 
ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 
sore. 

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya 
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut 
analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah 
parah karena sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki 
bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas 
mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi 
saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan 
macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. 
Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang 
saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas. 

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 
tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan 
meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan 
paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang 
yang datang dari Omni memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace 
sebagai penanggung jawab compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya 
baru mau jalan ke rumah saya namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan 
ternyata belum ada juga yang datang kerumah saya. Kembali saya telepon 
dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas 
nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali, 
dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta disebutkan alamat jelas 
saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. 
Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya 
kemana kan ? makanya saya sebut Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. 
Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang. 
Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai 
pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini 
cantum. 

Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat 
tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke 
resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati 
kami, pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan 
kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 
27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang 
mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS 
Omni. 

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin 
tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja 
supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali 
kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 
adalah FIKTIF dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak 
perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah 
karena bisa langsung tertangani dengan baik. 

Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan 
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal 
mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. 

Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. 
Bina) namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan 
kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain. 

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang 
selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak 
jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu 
yang cukup untuk menyembuhkan. 

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing, 
benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang 
dpercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, 
semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya 
diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang 
tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak 
terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini. 

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan 
atau dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr.. Grace, dr. 
Henky, dr. Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia 
hanya demi perusahaan Anda. 

Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak 
mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari 
dokter ini. 

salam, 

Prita Mulyasari 
Best Regards, 
Ayu SM. Fabian
Corporate Marketing
Golden Rama Kelapa Gading Office
Jl. Bulevar Raya Blok WB 2/14
Komplek Kelapa Gading Permai 
Jakarta Utara 14240 - Indonesia
Telp    :    (021) 451 3300 (Hunting)
Fax     :    (021) 453 1859
Mobile:    9350 5253
email   :    sales-grkgp@ golden-rama. com
YM     :     ayu_fab...@yahoo. com
SMS Only for Complaints  at : 021-9352 7000
(Office Hours Only Monday to Friday at 09.00am to 04.00pm) 
 
 

[Non-text portions of this message have been removed]





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke