Kamis, 05 Mei 2005, Gemuruh Penonton Anfield Hanya Kalah dari Jumbo Jet
Anfield benar-benar menjadi neraka bagi Chelsea. Kesetiaan penonton di Anfield membuat Liverpool layak menang. NURANI SUSILO, London "The power of Anfield Road, I felt it." Itulah pengakuan arsitek Chelsea Jose Mourinho usai duel semifinal kedua Liga Champions kemarin. Berbekal pengalaman mengantar FC Porto menjuarai Liga Champions musim lalu, sokongan pemain kelas dunia serta taktik cemerlang, tetapi ada satu yang tidak diperhitungkan Mourinho: kekuatan penonton! Ya, itulah yang luput dari dari perhatian Mourniho dalam mempersiapkan lawatan timnya ke Anfield. Chelsea memang punya segalanya, tapi mereka tidak pernah tahu bagaimana bertanding dalam semifinal Liga Champions di Anfield. Sedangkan Liverpool, yang lama tidak menapaki fase setinggi itu, masih mengingatnya. Tidak hanya kerasnya suara teriakan penonton, tetapi kualitas teriakan yang menggambarkan semangat dan keinginan kuat agar timnya menang. Chelsea pun dibuat shock dengan kenyataan itu. Kaget dengan kerasnya suara, kaget dengan keinginan dan harapan yang begitu besar dari penonton di Anfield. Sesuatu yang tidak - atau belum - dipunyai The Blues saat ini. Apa yang disuguhkan pendukung Liverpool kemarin memang luar biasa. Yang membuat pemain Chelsea bermain tidak sebaik yang mereka bisa. Sebaliknya, membuat pemain Liverpool bermain lebih baik dari kamampuan mereka. Banyak analisis mengenai perilaku penonton, khususnya penonton Liverpool. Namun faktanya, tradisi sebuah klub tidak terletak pada pemain atau manajer, yang dalam sepak bola modern bisa berpindah klub dengan hitungan hari. Tidak ada kesetiaan dalam sepak bola. Hanya suporter yang punya kesetiaan. Mereka tidak loyal kepada satu orang pemain atau manajer. Bagi penonton Liverpool, kesetiaan itu telah teruji melalui tes panjang, bertahun-tahun penuh kegagalan. Saat perempat final melawan Juventus, mereka "dipaksa" untuk mengingat tragedi Heysel. Yang membuat mereka menahan diri untuk tidak "berteriak". Dan, semua ikatan itu lepas ketika menjamu Chelsea. Empat puluh ribu pendukung The Reds terus bernyanyi dan berteriak. "Liverpool punya emat lapis pertahanan, tiga lapis di lapangan dan lapisan terakhir adalah 40 ribu penonton di stadion," begitu tulisan di bebagai media Inggris. Uang mungkin bisa membeli segalanya, kecuali loyalitas. Chelsea punya segalanya, dan bisa membeli siapa saja untuk memperkuat tim mereka, tapi mereka tidak bisa membeli loyalitas penonton seperti yang dipunya pendukung Liverpool di Anfield. Kata loyalitas itu pun mungkin terbesit dalam pikirkan Michael Owen, yang dalam pertandingan kemarin menjadi komentator tamu ITV, televisi Inggris yang menyiarkan langsung pertandingan itu. Owen hengkang ke Real Madrid karena yakin tidak pernah bisa mencapai final Liga Champions bersama Liverpool. Tapi, Liverpool kini melakukannya. Lantas, akankah Liverpool juara Liga Champions? Just don't bet against it. (*) Fakta: Suara penonton di Anfield kemarin mencapai 119,8 desibels. Sedikit lebih rendah dari rekor dunia, yaitu suara penonton di Stadion Millenium Cardiff (stadion dengan atap tertutup) dalam final Carling Cup antara Chelsea-Liverpool yang mencapai 131 desibels. Suara pendukung Liverpool hanya kalah oleh pesawat Jumbo jet ketika lepas landas yang mencapai 150 desibels. ************************* Kamis, 05 Mei 2005, ISTANPOOL! 1 Liverpool v Chelsea 0 LIVERPOOL - Penantian 20 tahun itu berakhir sudah. Ya, menyusul kemenangan 1-0 (1-0) atas Chelsea di semifinal kedua kemarin dini hari WIB, Liverpool akhirnya bisa kembali menembus partai puncak Liga Champions sejak kalah 0-1 dari Juventus di edisi 1985 yang diwarnai Tragedi Heysel. Prestasi terbaik Liverpool di ajang ini sejak kekalahan dari Juventus itu hanyalah menembus perempat final yang terakhir mereka gapai pada musim 2001/2002 lalu. Kemenangan ini sekaligus pembalasan The Reds kepada The Blues yang mengalahkan mereka di laga home dan away di Premiership musim ini serta final Carling Cup. Bahkan di kancah domestik pun, The Reds tak pernah lagi menjadi yang terbaik di liga sejak 1990 saat masih dipilari Bruce Grobbelaar, Alan Hansen, Steve McMahon, dan John Barnes. Di Premiership musim ini, hingga dua pertandingan tersisa, Liverpool terdampar di posisi kelima dan terpaut 33 angka dari Chelsea yang sudah memastikan diri menjadi juara. Bahkan kalau tidak bisa menyalip Everton yang berada di tempat keempat serta unggul tiga angka dari mereka, Liverpool tidak akan bisa tampil di Liga Champions musim depan kendati bisa menjadi juara musim ini. "Ah, kami tak peduli itu. Menjadi juara Liga Champions jauh lebih penting dari sekadar posisi keempat karena tidak setiap musim Anda bisa merasakannya," tegas Jamie Carragher, bek Liverpool, kepada harian The Guardian. Untuk bisa menjadi juara di ajang ini kelima kalinya, di partai puncak yang akan digelar di Istanbul pada 25 Mei mendatang, The Reds harus bisa menundukkan pemenang duel PSV versus Eindhoven yang melakoni semifinal kedua dini hari tadi WIB di Stadion Phillips, Eindhoven. "Siapapun lawan kami, kami tak takut," koar Rafael Benitez, tactician Liverpool, sebagaimana dilansir Reuters. "Kami sudah menyingkirkan Bayer Leverkusen, Juventus, dan kini Chelsea. Jadi menang di final? Why not!" Benitez pantas yakin. Karena kalau Istanpool - judul headline harian Daily Mirror atas keberhasilan Liverpool ke Istanbul - menang di final nanti, eks pelatih Valencia itu akan mengikuti jejak Jose Mourinho sebagai pelatih yang sukses mengantarkan klubnya menjuarai Liga Champions setelah semusim sebelumnya menjuarai Piala UEFA. Seperti diketahui, musim lalu Rafa membawa Valencia ke tangga juara Piala UEFA. "Ini mungkin prestasi terbaik saya (sebagai pelatih) sampai saat sekarang," kata Rafa. Kemenangan ini juga menghentikan ambisi treble winners Chelsea. John Terry dkk sudah memenangi Carling Cup dan Premiership. Ini berarti rekor Manchester United sebagai klub Inggris pertama yang sukses menjuarai Premiership, Piala FA, dan Liga Champions dalam satu musim belum bisa disamai oleh tim manapun di Negeri Monarki Konstitusional tersebut. "Chelsea tak bisa mengalahkan kami karena kami lebih punya semangat dan determinasi. Ini malam terindah sepanjang karir saya. Adalah sebuah kebangaan luar biasa bisa memimpin para pemain hebat ini di Istanbul nanti," ujar Steven Gerrard, kapten Liverpool, seperti dilansir Daily Mirror. Liverpool sama sekali tidak diperhitungkan bakal bisa menembus final. Bahkan kalau saja Gerrard tidak bisa menjebol gawang Olympiakos di masa injury time di laga terakhir Grup A lalu di Anfield, The Reds sudah pasti akan tersingkir. Di laga itu, Liverpool, yang tertinggal dulu 0-1, dituntut bisa menang dengan beda minimal dua gol. Musim lalu, FC Porto, yang hanya menang 2-1 di laga pertama, juga nyaris disingkirkan Manchester United di laga kedua Babak 16 Besar di Old Trafford setelah hingga menit ke-90 masih tertinggal 0-1. Tapi, gol Costinha di masa injury time membuat Porto lolos dan akhirnya tim yang kala itu diasuh Jose Mourinho tersebut tak tertahan menuju gelar. Background sama, akankah Liverpool bisa menapaktilasi jejak Porto? "Dari hati saya yang paling dalam, saya berharap Liverpool akan menjadi juara. Karena gelar itu bukan hanya untuk Liverpool, tapi untuk Premiership," ujar Mourinho.(ttg) ***************************** Kamis, 05 Mei 2005, Antara Kontroversi dan Kelelahan Sir Bobby Robson, mentor Jose Mourinho, pernah memuji bekas muridnya itu sebagai sosok yang sangat cerdas. Keberhasilan Mourinho mengantarkan FC Porto ke tangga juara Piala UEFA dan Liga Champions dia dua musim beruntun adalah buktinya. Kredibilitas itu pun dilengkapi dengan trofi Carling Cup dan Premiership yang diraih tim asuhannya kini, Chelsea. Tapi semua itu seperti menghilang di semifinal Liga Champions melawan Liverpool. Baik di first leg pekan lalu maupun di laga kedua kemarin, Mourinho gagal membongkar efektivitas pola 4-2-3-1 yang dikembangkan Rafael Benitez, arsitek Liverpool. Pola 4-3-2-1 yang dikembangkan Mourinho guna menyiasati absennya dua winger andalannya, Damien Duff dan Arjen Robben, sama sekali tak berkembang. Hanya free kick Frank Lampard pada menit ke-66 serta tembakan keras Eidur Gudjohnsen yang tipis menyamping gawang Jerzy Dudek sesaat menjelang bubar saja yang sempat membuat Liverpool berdebar. Sisanya, Chelsea benar-benar dibuat frustrasi. Tapi, seperti biasa, Mourinho menolak mengakui kekalahan maupun kesalahannya. Ia lebih suka menuding ketidakbecusan kinerja asisten wasit Roman Slysko asal Slovakia sebagai biang kerok kekalahan timnya. Atas sinyal dari Slysko, wasit Lubos Michel mengesahkan gol Luis Garcia pada menit keempat yang di mata Mourinho belum melewati garis gawang. "Saya sudah melihat di tayangan ulang televisi, dan saya tetap tidak melihat bola itu melewati garis gawang. Tanya saja asisten wasit itu, ia pasti tidak akan bisa 100 persen yakin bahwa itu gol," kata Mourinho, sebagaimana dilansir BBC Sport. "Tapi sepak bola kadang memang kejam. Dampak dari keputusan itu, tim terbaik justru jadi pecundang kali ini. Saya kecewa tapi tetap bangga dengan penampilan anak-anak," lanjut pelatih berusia 42 tahun itu. Dari tayangan ulang televisi memang terlihat kalau posisi bek Chelsea William Gallas, yang membuang bola sontekan Garcia, menutupi pandangan Slykos. Tapi saat membuang bola itu, kaki Gallas mungkin sudah satu meter di belakang garis gawang. Itu artinya bola memantul itu sudah melewati gawang. Dan menurut peraturan, itu gol. Tapi tidak bagi John Terry, bek dan kapten Chelsea. "Asisten wasit tak mungkin bisa melihat bola itu sudah melewati garis gawang atau tidak karena tertutupi William Gallas. Lalu dari mana Ia yakin? Harusnya asisten wasit dan wasit yakin 100 persen dulu sebelum mengsahkan sebuah gol," katanya. Kalau saja UEFA mengijinkan pemasangan kamera di dalam gawang seperti yang biasa terjadi di Premiership Inggris, kontroversi ini tidak akan muncul. "Sayangnya aturan UEFA tidak memungkinkan hal itu terjadi," kata Gabby Yorath, host di kanal televisi ITV. Tapi, katakanlah itu bukan gol, bukan berarti Chelsea terbebas dari ancaman. Sebab, pelanggaran yang dilakukan kiper Petr Cech pada Milan Baros yang mengawali lahirnya gol itu, pasti akan membuat wasit menunjuk titik putih tanda penalti. "Bukan itu saja, Cech juga harus dikartumerah," kata Rafael Benitez, arsitek Liverpool, seperti dilansir situs resmi UEFA. Karenanya, Mourinho mungkin sebaiknya berkaca diri. Kekalahan ini sangat mungkin terkait dengan keputusannya untuk tetap turun dengan kekuatan penuh di laga melawan Bolton akhir pekan lalu. Chelsea akhirnya menang 2-0 di laga itu dan memastikan teraihnya gelar liga pertama mereka dalam 50 tahun terakhir. Tapi dampaknya, John Terry dkk seperti kehabisan energi dan ide di Anfield. (ttg) ******************************* Kamis, 05 Mei 2005, Carragher, Pahlawan tanpa Kata John Terry, Frank Lampard, Petr Cech (ketiganya Chelsea), Thierry Henry (Arsenal), dan Andrew Johnson (Crystal Palace) masuk daftar pemilihan terbaik versi PFA (Asosiasi Pemain di Liga Inggris) lalu. Terry akhirnya memenangi penghargaan bergengsi itu. Tapi lewat kolomnya di harian The Guardian, pelatih Charlton Athletics Alan Curbihsley menilai ada satu "cacat" di pemilihan kali ini. Yakni tidak dimasukannya nama bek Liverpool Jamie Carragher dalam daftar tadi. "Jamie Carragher memang bukan pemain yang akrab dengan media. Ia sosok yang lebih suka bekerja daripada berbicara. Dan itu yang membuat penampilannya sungguh konsisten di sepanjang musim ini," puji Curbihsley. Dan, dua duel semifinal Liga Champions antara Liverpool versus Chelsea menjustifikasi pujian Curbishley kepada pemain asli kelahiran dan didikan Liverpool tersebut. Luis Garcia boleh menjadi penentu lolosnya Liverpool ke final lewat gol-nya di laga kedua kemarin, tapi Carragher lah yang kembali membuat para punggawa Chelsea frustrasi. Berduet dengan Sami Hyypia di jantung pertahanan The Reds, Carragher tampil bak karang. Begitu tenang, dingin, dan tanpa kompromi. Ini yang membuat target man Chelsea Didier Drogba benar-benar tak berdaya. Sepanjang 180 menit duel kedua tim ini, tak sekalipun Drogba bisa membahayakan gawang Jerzy Dudek. Atas kegemilangannya itu, Carragher pun resmi terpilih sebagai man of the match di laga kedua kemarin. "Jamie tampil sungguh luar biasa. Brilian. Saya sampai tak tahu harus bilang apalagi," puji Steven Gerrard, kapten Liverpool, sebagaimana dilansir harian Daily Mirror. Hebatnya, tak hanya di jantung pertahanan Carragher bisa tampil seprima itu. Sembilan tahun berada di Anfield, bekas pemain Timnas U-21 Inggris dengan jumlah caps terbanyak itu juga fasih bermain sebagai bek kanan atau kiri dan bahkan gelandang bertahan. (ttg) DATA DIRI Nama : Jamie Carragher Tempat lahir : Liverpool/28 Januari 1978 Karir : Liverpool (1996-.) Statistik Musim Ini Premiership 36 Penampilan/0 Gol Liga Champions 12 Penampilan/0 Gol Carling Cup 3 Penampilan/0 Gol Timnas Inggris 3 Penampilan/0 Gol -- Best Regards Tombo Ati ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/6iY7fA/5WnJAA/Y3ZIAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
