Skandal Liga Italia Tak Pernah Jera meski Dihukum Berat SERIE A Liga Italia tengah dirundung tragedi. Citra kompetisi paling glamour sejagat itu sekali lagi ternoda. Empat klub terkemuka, Juventus, AC Milan, Lazio, dan Fiorentina, dijatuhi hukuman berat. Mereka terbukti terlibat dalam skandal pengaturan pertandingan yang melibatkan juga puluhan ofisial tim dan pejabat teras Federasi Sepak Bola Italia (FIGC).
DALAM dua musim ini, jangan berharap melihat aksi-aksi Juventus di Serie A. Klub terkuat Italia itu sudah resmi dibuang ke Serie B oleh Pengadilan Olahraga Italia, Jumat (14/7) lalu, karena terbukti terlibat skandal pengaturan pertandingan. Juve bukan saja didegradasi. Mereka masih mendapat sanksi tambahan berupa pengurangan skor 30 poin. Itu artinya, Pavel Nedved dan kawan- kawan bakal memulai kompetisi musim depan di Serie B (Divisi II) dengan nilai awal minus 30! Mereka baru bisa meraih poin jika sudah menang 11 kali berturut- turut. Sebuah sanksi yang sangat berat, dan tampak sebagai sebuah kemustahilan bagi mereka untuk promosi lagi ke Serie A dalam semusim. Dua gelar juara klub berseragam hitam-putih itu juga dipereteli oleh FIGC. Juve memang akan melakukan banding, sehingga masih mungkin akan ada perubahan hukuman. Namun tampaknya, sangat musykil akan ada perubahan sanksi yang revolusioner. Kini klub-klub pesaing mereka yang bersiap memanen. Bukan saja menerima limpahan gelar, namun juga mendapat ''warisan'' pemain- pemain top. Hampir pasti akan terjadi eksodus besar-besaran dari klub itu. Pavel Nedved, Mauro Camoranesi, Fabio Cannavaro, Zlatan Ibrahimovic, Gianluca Zambrotta dan Gianluigi Buffon sudah ancang- ancang untuk hengkang ke klub lain. Hanya Alessandro del Piero yang tetap loyal, berjanji tak akan pindah. Inilah skandal terbesar dalam sejarah Italia selama 20 tahun terakhir. Tapi, ini bukanlah untuk kali pertama Liga Italia diguncang masalah. Kasus serupa pernah terjadi beberapa kali. Sanksinya dipastikan berat. Tapi ternyata, klub-klub itu tak juga kapok. AC Milan, Juventus, dan Lazio bahkan bisa disebut sebagai ''residivis''. Mereka tak hanya sekali ini saja terlibat skandal. Sejarah buram Serie A dibuka tahun 1927. Torino dihapus gelarnya sebagai juara Seri A pada ujung musim kompetisi 1926/1927. Klub sekota dengan Juventus itu tengah merayakan gelar juara Seri A untuk kali pertama ketika media-media setempat meminta FIGC menyelidiki klub itu, yang diduga menyogok beberapa pemain lawan. Hasil penyelidikan membuktikan, ofisial Torino memberi uang kepada pemain bertahan Juventus, Luigi Allemandi sebesar 50.000 lira agar dia tampil tidak maksimal dalam pertandingan derby itu. Torino menang 2-1 dan menjadi juara. Tapi, gelar mereka dicabut. Allemandi dihukum seumur hidup. namun mendapatkan amnesti tahun berikutnya ketika sepak bola Italia mendapat medali perunggu Olimpiade. Skandal lebih menghebohkan meledak tahun 1980. AC Milan dan Lazio didegradasi karena mengatur pertandingan. Skandal pengaturan pertandingan pada akhir musim kompetisi 1979-80 itu tidak ubahnya seperti skandal yang terjadi belakangan ini. Ketua AC Milan, Felice Colombo, serta belasan pemain Lazio, Avellino, Perugia, Genoa dan Lecce ditahan karena terlibat dalam pengatauran pertandingan serta pertaruhan. Colombo dihukum seumur hidup. Beberapa pemain, termasuk mantan penjaga gawang tim nasional Enrico Albertosi juga menerima hukuman. Pahlawan Italia di Piala Dunia 1982, Paolo Rossi, juga menerima sanksi. Sebelum dijatuhi sanksi Jumat lalu, Juventus sebenarnya masih berkutat di pengadilan doping sejak 2001. Hingga kini, kasus kontroversial yang berawal pada Juli 1998 ketika pelatih Ceko Zdenek Zeman -yang kemudian menanganti AS Roma- membeberkan kepada majalah L'Espresso bahwa "sepak bola Italia terlibat masalah obat terlarang.'' Dia kemudian menyebut nama Juventus. Penyelidikan yang dilakukan Raffaele Guariniello menyatakan, dokter klub Riccardo Agricola memberikan obat terlarang (doping) kepada para pemain sepanjang tahun 1994-1998. Agricola dinyatakan bersalah dan dihukum 22 bulan dalam penjara pada akhir November 2004. Dia mengajukan banding pada Desember 2005. Keputusan akhir dari kasus itu diharapkan keluar tahun ini. Skandal paling segar terjadi musim lalu, kala Genoa turun dari Seri A ke Seri C1. Pada akhir musim kompetisi, klub tertua Italia itu sebenarnya kembali ke Serie A setelah promosi dari Serie B. Namun perayaan promosi berubah, karena hasil penyelidikan menunjukkan klub itu bersalah telah membayar Venezia 250.000 euro agar mengalah dalam pertandingan terakhir musim kompetisi itu. Genoa bukannya mendapat promosi, sebaliknya malah diturunkan ke Seri C1 (Divisi III). (Gunarso-40) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design. http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
