Tetap dengan Skenario Lama
Mulai tahun lalu, tradisi mempertemukan jawara antarklub Eropa (Liga
Champions) dan Amerika Selatan (Libertadores) yang sejak 1980 dikenal dengan
nama Piala Toyota telah dihapus. Sebagai ganti ajang yang awalnya dulu
bernama Piala Interkontinental (1960-1979) itu, induk organisasi sepakbola
dunia (FIFA) membuat sebuah format baru kejuaraan yang mempertemukan klub
terbaik dari keenam konfederasi yang ada.

"Anda tak bisa menyebut juara laga itu (Piala Toyota) sebagai kampiun
antarklub dunia jika mereka belum pernah bertemu dengan juara dari belahan
benua lainnya," kata Sepp Blatter, presiden FIFA, kepada situs resmi
organisasi yang dipimpinnya itu tahun lalu.

Benih ajang ini sebenarnya sudah mulai disemai enam tahun lalu di Sao Paulo.
Saat itu, enam klub jawara dari enam konfederasi didatangkan, plus Real
Madrid (Spanyol) dan Corinthians (Brazil)yang berstatus undangan. Ironisnya,
Corinthians yang berstatus undangan justru tampil sebagai juara setelah
menaklukkan klub senegara Vasco da Gama melalui drama adu penalti.

Namun, respon terhadap eksperimen FIFA itu ternyata tak seperti yang
diharapkan. Toh begitu, FIFA tetap berencana menggelar kejuaraan serupa
setahun kemudian di Spanyol. Jumlah kontestan ditambah menjadi 12 klub.
Namun, turnamen itu berakhir sebelum digelar. Pasalnya, ISL yang menjadi
sponsor utama mengalami kebangkrutan. FIFA pun akhirnya memutuskan kembali
ke format Piala Toyota yang lama yang hanya mempertemukan juara Liga
Champions Eropa dengan kampiun Copa Libertadores Amerika Latin.

Dibanding kejuaraan sebelumnya, format kejuaraan tahun lalu yang mulai
memakai label FIFA Club World Cup Championships jauh lebih tertata dan
profesional. Tapi, itu pun masih mengundang cibiran.

FIFA terkesan ingin memaksakan final ideal antara jawara Eropa dan Amerika
Selatan yang tetap dianggap sebagai kutub kekuatan sepak bola dunia. Jawara
Liga Champions dan Libertadores tak perlu melewati babak-babak awal dan
langsung mendapat tempat di babak semifinal.

Format tahun ini pun tetap sama. Barcelona sebagai juara Eropa dan
Internacional Porto Alegre selaku kampiun Libertadors tak perlu berlaga di
perempat final. Artinya, memang sudah ada skenario Barca dan Internacional
dipertemukan di partai puncak.

Satu lagi yang perlu menjadi catatan buat FIFA, meski sudah dua kali Jepang
menjadi tuan rumah sejak format FIFA Club World Cup Championships
digulirkan, tak ada satu pun klub tuan rumah yang pernah mencicipi kejuaraan
tersebut.

Ini terjadi karena klub-klub Jepang tak tampil sebagai kampiun Liga
Champions Asia dalam dua tahun terakhir. Sudah pasti hal ini sedikit
mengurangi kemeriahan ajang ini. Karena itu, FIFA berencana mengubah format
kejuaraan tahun depan dengan menambah kuota klub menjadi delapan. Satu
tempat tambahan akan diisi klub tuan rumah. (bas)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke