--- Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
lu tahu berapa milyar duit rakyat yang dipake biayain
tim indo, terakhir ke belanda 27 milyar, coba kalo
dibeliin beras buat rakyat yang masih makan nasi
aking, hasilnya apa ? cuman malu n malu, dongo abis,
gak ada bakat.
kita punya rakyat 240 juta, milih sebelas orang yang
bakat maen bola, gak ada yang bisa, mau pake pelatih
sekaliber Jose Morinho sekalipun gw gak yakin tim indo
bisa berjaya, karena ini masalah mental dan budaya
kita yang sudah acak adul, amburadul, ruwet kayak
benang kusut.
kalo lu hitung dari sejak jaman joao barbatana sampe
peter white berapa triliun duit rakyat yang sudah
habis dipake biaya latihan tim indo, hasilnya apa ?
jangan taro didengkul, duit itu duit rakyat, negara
kita butuh something else more important than
football, mesti realistis lah jangan ngimpi, coba lu
pikir buat kapan terakhir tim indo bisa ngalahin
thailand ??? apalagi korea, jepang, arab saudi, lawan
maladewa aja susah payah ?
apalagi kalo bukan dongooooooooooooooooooooooooo!!!!
jangan ngomong nasionalisme ama gw, gak akan
mempan, gw lebih nasionalis dari ente pada, cuman gw
gak bonek...gw dukung pake otak dan realitas ....
--------------------
Yth Pak Iwan,
pertama, anda tau Barbatana, pelatih PSSI kapan tuh,
saya gak pernah denger. dari sini saya bayangkan anda
ini seharusnya sudah cukup matang (dalam umur dan
"wisdom"), setidaknya dari kebanyakan anggota milis
(mungkin anda satu angkatan dalam usia dengan Pak
Yonas).
dari taunya anda ada pelatih PSSI yg bernama Barbatana
ini juga, kayaknya ada sudah mengamati PSSI dari jaman
dulu. dari sini rasanya teman2 milis dapat mengerti
bagaimana besar kekecewaan Pak Iwan terhadap
PSSI....seperti Pak Iwan bilang, hanya menghamburkan
uang rakyat, prestasi tidak ada (bikin malu malah kata
Bapak). dari sini pula saya rasa temen2 milis mengerti
bahwa saking besarnya kekecewaan, Pak Iwan tega
menyebut atau memvonis "DONGO" kepada mereka yang
masih mempunyai asa dan keyakinan atas Timnas mereka
bahwa suatu saat (sooner or later) mereka akan
mempunyai kebanggaan tinggi kepada timnas merah putih.
it's okey lah....kami yakin kekasaran kata2 pak Iwan
semata-mata menunjukkan bahwa sesungguhnya Pak Iwan,
seperti halnya kami, sama2 mencintai timnas, walaupun
cara ekspresi rasa cinta kita berbeda.
kedua, Pak Iwan menggeneralisasi mental bangsa kita
sebagai bangsa yang amburadul, kayak benang kusut.
sungguh tersayat hati kami yang muda2 ini membaca hal
tersebut. Maaf Pak Iwan, walaupun sehari-hari kami
seolah-olah cuma bisa ber "kekekeke" atau "wkwkwkw"
atau "berjablay ria" atau "berbasi ria" atau
"berpecundang ria",...kami masih mempunyai optimisme
atas masa depan bangsa dan negara serta Timnas kita.
Pak Iwan boleh memilih jalan ekstrim dengan mencaci
maki, tapi kami memilih jalan kami untuk tegak berdiri
dibelakang timnas kami. Seperti pak Iwan bilang, uang
untuk PSSI adalah uang rakyat, itu berarti uang Ayah2
kami, uang kakek nenek kami dan juga uang kami yang
telah kami berikan kepada negara (baca PSSI), baik
melalui berbagai pajak maupun gaji2 kami yang
dipotong. Kami rela uang kami "dihamburkan" untuk
sebuah asa dan optimisme bahwa suatu saat PSSI kami
akan bangkit. Bagi kami, caci maki kasar seorang
senior seperti Pak Iwan yang justru menjadi
menunjukkan ciri bagian kecil bangsa ini yang menurut
Pak Iwan amburadul. Satu telunjuk pak Iwan menunjuk
kami amburadul, 4 jari Pak Iwan yang lainnya menuding
diri Pak Iwan sendiri sebagai amburadul.
terakhir Pak Iwan, kami bangga dengan PSSI kami, kami
bangga bisa bangga dengan PSSI dan negara kami. caci
maki seorang tua amburadul tidak akan mematahkan
semangat kami...
Hidup Liverpool, Hidup PSSI, Hidup Bangsaku!!
*Indonesia Merah darahku, Putih Tulangku, berpadu
dalam semangatmu, gebyar, gebyar*
-omar-
*jangan serius2 euy bacanya..:)*
"England's most decorated club picks up another trophy" Martin Tyler, FA Cup
Final, 13 May 2006
________________________________________________________
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
http://id.mail.yahoo.com/