Saya rasa ini masalah keterlanjuran.
Jika saja dari dulu atlet sepakbola di Indonesia dihargai lebih, maka 
orang-orang Indonesia yg bergizi lebih dan berotak lebih pintar akan lebih 
banyak terlihat di lapangan sepakbola. Sekarang atlet yg bermain sepakbola 
kebanyakan berasal dari keluarga-keluarga sederhana. Walaupun tidak identik 
dengan kebodohan tapi keluarga sederhana tentunya lebih banyak yg tidak cerdas 
(ini ngomong halusnya). Apakah tidak ada mereka yg berasal dari keluarga berada 
yg dari kecil gizinya terjaga dan mungkin kecerdasannya lebih? Ada, tapi 
seberapa banyak?

Apakah gw terlalu sinis ngomongnya? Gak juga ... pemain-pemain di Indonesia itu 
skill-nya bagus-bagus, tapi kecerdasannya yg kurang. Ini juga rasanya menular 
ke bulutangkis...

Trus gimana dengan Brazil? Bakat-bakat mereka berasal dari keluarga tidak mampu 
...
Ya, Brazil pengecualian. Bagi mereka sepakbola adalah hidup-agama-enithing, 
mereka juga menganggap sepakbola adalah kegembiraan untuk kehidupan mereka yg 
papa. Brazil pun diwarisi kelenturan titisan tarian mereka yg penuh kelenturan 
(Samba) dan beladiri mereka yg lincah (Capoeira). Belum lagi mereka diwarisi 
semangat pendahulu mereka termasuk Pele, itupun tidak serta-merta ... mereka 
kan baru juara dunia tahun '58 di Swedia. Tapi itulah, gabungan semua itu, 
ditambah jumlah penduduk mereka yg mirip Indonesia, jadilah Brazil seperti 
sekarang.

Indonesia? Untuk main aja gak ada lapangan. Masak main di tempat berbatu-batu? 
Lapangan bola ukuran internasional aja parah. Gw pernah main di lapangan UI 
Depok waktu kuliah dulu, dan waktu itu lapangannya belum seterawat sekarang. Gw 
sempat jatuh karena ditekel, lutut gw sampai lecet lumayan, sembuhnya lama 
karena lutut gw jatuh di tanah merah yg kering sekeras batu ... nah, kayak 
gitulah kualitas lapangan di Indonesia, jatoh lecet,luka,memar ... lah, 
lapangannya sekeras batu, gimana mo sliding yg benar, sliding takut memar/lecet 
... *keluh*

Uneg-uneg aja ... abis, pengennya pemain-pemain bola Indonesia itu anak-anak 
cerdas, nyatanya ... liat semalam sedih banget ... bek kanan tuh, siapa 
namanya? pitoyo? halah, lelet abis ...



  ----- Original Message ----- 
  From: Samuel Rismana S 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, March 28, 2007 11:35 PM
  Subject: [BolaML] Re: 230 juta penduduk bangsa ini tapi tak ada 11 orang yang 
becus main bola, sial ga itu?



  --- In [email protected], roy sinaga <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Rekor kalah lagi2 bertambah. U-23 Indonesia kalah 1-2 dari lebanon 
  pada partai praolimpiade.
  > ga ngerti aku apa memang Indonesia tercinta ini selalu kalah, ga 
  bisa menang. entah apa?
  > kupikir waktu withe dipecat, diganti Kolev Indonesia bakal bagus 
  mainnya.
  > Kolev juga bilang kalo dia penasaran ingin berbuat banyak dengan 
  Indonesia.
  > tapi hasilnya tetap nihil cupu begete kalo rang Jakarta bilang.
  > Aku pun pusing tak ngerti masak ga ada 11 oarng Indonesia yang 
  becus main bola?
  > kalo ada seleksi massal untuk jadi pemain timnas kaya nya aku 
  kepengen ikut, sama kaya si Kolev "penasaran" aku soalnya.
  > Indonesia2 banyak penduduk tapi cupu main bola. padahal katanya 
  sepakbola itu olahraga rakyat, tapi rakyat ini tak bisa main bola. 
  lantas rakyat ini main apa?

  << Sam >> : memang kondisi di Indonesia ya kayak gini ini, kalau 
  sepakbola indonesia mau maju siap gak PSSI dan sepakbola indonesia 
  di jajah sama orang asing (FA, FIGC, etc)? orang2 asing itu yg akan 
  membenahi persepakbolaan indonesia dalam jangka waktu misalnya 10-20 
  th (kontrak tanpa bisa dibatalkan), selama 10-20 th PSSI tdk punya 
  hak apa2, krn orang2 or badan asing itu kontrak dg pemerintah 
  indonesia, jadi nantinya orang2 asing or badan itu yg akan membentuk 
  organisasi baru (PSSI dibubarin aja), merencanakan dan membuat team 
  nasional, merencanakan, membuat dan menjalankan kompetisi di seluruh 
  lapisan (Liga utama, perserikatan, divisi, non divisi, dll), mencari 
  pemain2 bagus, mencari pelatih dan pengurus yg andal dan profesional 
  (bila perlu utk 1-5th pertama bule semua dah), membuat organisasi 
  menjadi profesional, dan pemerintah harus melindungi dan memberikan 
  hak penuh kepada mereka, jadi protes2 dari para demonstran yg sok 
  nasionalis bisa dibungkam semua dulu, nanti kalau masa kontrak 
  berakhir sesuai waktu dan hasilnya tetap memble maka badan yg 
  dikontrak akan membayar ganti rugi seluruh biaya yg dikeluarkan 
  pemerintah. Tp kalau hasilnya bagus, maka kontrak bisa diteruskan 
  atau dilanjutkan sendiri oleh orang2 Indonesia yg selama 10-20 th 
  dilatih sbg pengurus organisasi secara profesional bebas dari 
  korupsi! termasuk dari sisi penonton dan wasit perlu di benahi total

  masa sih gak bisa berhasil?? kalau sistem PSSI sekarang mah bener 
  tuh spt bang ian dan YW bilang...sampai cucu dan cicit kita ya 
  begini2 aja nasib sepakbola indonesia, boro2 jalan 
  ditempat...pijakan kaki utk jalan ditempat aja udah ambles....alias 
  kaki nyungsep sampai ubun2 kepala juga terbenam.......

  memang biaya yg dikeluarkan pemerintah pasti sangat besar....dan 
  kembali ke pertanyaan klasik : apa iya sih segitu pentingnya 
  membangkitkan persepakbolaan indonesia dg mengeluarkan biaya 
  sedemikian besar disisi lain masih banyak pengeluaran sosial yg 
  lebih penting utk rakyat??
  halah....spt roda berputar..naik turun tiada henti...gak tahu dah 
  mau mulai dari mana dulu.....

  btw, memang sepakbola indonesia penting gitu? saya sih lebih miris 
  melihat prestasi bulutangkis indonesia...dulu sangat di takuti dan 
  disegani...sekarang.....ah....hanya bisa menghela nafas panjang 
  saja....

  Sam,
  . 
   


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke