http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/04/or/3500562.htm

Jumat, 04 Mei 2007

Mister "Mouringant"

Barangkali memang sulit diingkari, Jose Mourinho adalah salah satu
manajer terbaik di dunia. Gelar Eropa bersama FC Porto dan dua titel
Premiership untuk Chelsea telah bicara dengan sendirinya. Namun dalam
dunia sepak bola, deretan gelar saja tak cukup berarti untuk menjadi
"yang istimewa" atau bahkan "the great". Dia membutuhkan kearifan
untuk mengakui ketidaksempurnaan.

>dropSS11< Hal terakhir itulah yang tidak dimiliki Mourinho, manajer
asal Portugal yang selalu menyebut dirinya "I'm The Special One".
Bahkan para legenda besar sekaliber Franz Beckenbauer, Cesar Luis
Menotti, atau Marcelo Lippi sekalipun tidak pernah melambungkan
dirinya setinggi itu.

Bagi penggila atau fanatikus Chelsea, Mourinho memang pahlawan tanpa
cela. Seakan-akan, apa pun yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran
tak terbantahkan. Ketika harian ini mengkritik pembelaannya pada
Didier Drogba dan Arjen Robben yang dicap pers Inggris sebagai master
of diving, serta-merta para fans mereka murka.

Caci maki mengalir ke harian ini seakan Mourinho adalah orang suci.
Namun bukan cuma harian ini yang kritis mencela sikap tidak sportif
Mourinho. Sebuah produsen bir bertaraf internasional membuat parodi
diving Drogba dan Robben untuk mempromosikan produknya.

Fanatisme buta pendukung Chelsea rupanya belajar dari sikap-sikap
Mourinho yang sesungguhnya tak layak dijadikan model bagi orang yang
bergelut di dunia olahraga. Harus dikatakan, kecemerlangannya sebagai
pelatih, motivator ulung dan ahli strategi, tak akan pernah pudar
kalaupun dia mau sedikit saja merendahkan hatinya.

Menghargai sesama

Sepak bola tak akan lagi indah tanpa sportivitas dan fairplay. Di
dalamnya juga mengandung makna penting, menghargai dan menghormati
siapa pun: pendukung, wasit, pemain lawan, dan sesama kolega.

Perseteruannya dengan Cristiano Ronaldo, yang membangkitkan amarah
Carlos Queiroz dan Alex Ferguson, serta penghinaannya pada kesuksesan
Liverpool di arena Liga Champions, menggambarkan betapa Mourinho
adalah seorang yang tidak mampu mengakui ketidaksempurnaannya sebagai
manusia.

Terakhir, Mourinho bahkan membawa-bawa isu pertentangan kelas dalam
konfliknya dengan Cristiano. Sebelumnya, Mourinho menyebut Cristiano
sebagai pembohong, dan itu dipengaruhi oleh latar belakang keluarganya
yang dari kelas sosial pekerja.

Mourinho, yang oleh pers disebut "Mister Arrogant" atau dipelesetkan
dengan "Mouringant", memang datang dari kelas menengah di Kota
Setubal. Kefasihannya menguasai berbagai bahasa Eropa mengantarkannya
ke "sentral kekuasaan" sepak bola Eropa. Meski tidak pernah menjadi
pemain besar, keenceran otaknya membuat dirinya sangat fasih menyerap
ilmu sepak bola.

Setelah belajar banyak dari Sir Bobby Robson di klub Barcelona, dia
memulai kariernya sebagai pelatih di klub ternama Kota Lisabon, SL
Benfica, sampai kemudian mengantarkan Porto dan Chelsea ke jajaran
elite dunia.

Namun, prestasi besar itu tak harus membuat dirinya angkuh. Queiroz
menyebut Mourinho adalah tipe orang yang tidak pernah menghargai
prestasi lawan. "Kami beda. Kami adalah tim besar yang selalu
mengapresiasi kelebihan lawan," ujarnya.

Berlebihankah Queiroz? Tampaknya tidak. Sebab, Rafael Benitez dan
Steven Gerrard pun tak habis pikir: mengapa manajer sebesar Mourinho
bisa berwatak seperti itu. Duet sentral Liverpool ini merasakan betul
betapa "si tuan angkuh" itu sudah kelewatan. "Dia mengatakan Liverpool
adalah klub kecil. Yeah, klub kecil yang mencapai dua final Liga
Champions dalam tiga tahun," ujar Gerrard penuh makna.

Tidak seperti Queiroz dan Ferguson yang cenderung ceplas- ceplos dan
meladeni ocehan Mourinho, Benitez, dan Gerrard lebih dingin
menanggapinya. Dalam sebuah kesempatan, Benitez hanya berujar, "Dulu,
(dengan Mourinho), saya berkawan akrab. Tapi setelah tim saya mulai
mengalahkan timnya, dia memulai permusuhan."

Gerrard dan Benitez memang tak perlu menanggapi secara emosional. Dari
segi prestasi Eropa dan Liga Inggris, Liverpool jauh lebih besar
ketimbang Chelsea. Lima kali gelar tertinggi Eropa dan 18 gelar liga
membuktikan semua itu.

Mourinho, dengan timnya yang luar biasa, sesungguhnya sangat potensial
mengejar prestasi Liverpool, yang menurut dia, "tidak lebih baik
ketimbang Chelsea". Hanya saja, jika sikap yang arogan tak kunjung
berkurang, akan menjadi kontraproduktif. Kinerja cemerlang John Terry,
Michael Ballack, Frank Lampard, dan Salomon Kalou akan sangat
terganggu oleh kehebohan mulutnya di luar lapangan.

Secara teknis, Chelsea adalah tim luar biasa. Dalam kondisi terpaan
cedera pemain sekalipun, mereka tetap tim yang sangat tangguh. Sayang,
manajer mereka yang hebat, Mister "Mouringant", terlalu banyak bikin
sensasi di luar lapangan.

===

gk tau siapa wartawan kompas yg nulis ini.tpi seneng baca tulisan
ini.terutama bagian yg ini :

' Sepak bola tak akan lagi indah tanpa sportivitas dan fairplay. Di
dalamnya juga mengandung makna penting, menghargai dan menghormati
siapa pun: pendukung, wasit, pemain lawan, dan sesama kolega."

Kirim email ke