http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/04/or/3500549.htm

Jumat, 04 Mei 2007

Budaya Menang Liverpool

Hati-hati dengan apa yang Anda harapkan. Jose Mourinho selalu mengeluh
timnya tak pernah mendapatkan penalti seperti Manchester United.
Namun, saat yang diinginkannya itu datang, timnya harus tersingkir
menyakitkan karena adu penalti di semifinal Liga Champions, di depan
gemuruh penonton Anfield.


"Di Yunani Kuno, kami akan memenanginya enam kali," begitu nyanyian
"The Kop", pendukung Liverpool di Anfield. Hal itu mengingatkan kepada
Mourinho bahwa betapa berbicara itu sangat murah, tetapi trofi Eropa
itu sesuatu yang sangat mahal dan berharga.

"Beberapa klub selalu membuat headline— tapi klub lainnya membuat
sejarah," demikian tertulis dalam sejumlah spanduk di Anfield,
menyindir kesukaan Mourinho berbicara hingga sering menjadi berita
utama di media. Sebaliknya, Liverpool kembali membuat sejarah, tampil
untuk ketujuh kalinya di final Liga Champions.

Sesuatu yang spesial memang sudah disiapkan untuk menyambut Mourinho
di Anfield. Sebelum laga, ucapan manajer asal Portugal yang menyebut
Liverpool sebagai klub kecil menjadi bahan tertawaan pemain "The
Reds". Termasuk bek Jamie Carragher. "Mourinho merupakan pelawak
paling lucu yang pernah datang dari London sejak Del Boy dan Rodney,"
katanya.

Manajer Rafael Benitez menyindir Mourinho yang memproklamasikan diri
sebagai "The Special One". "Penonton Anfield yang merupakan 'The
Special One' sebenarnya," ujarnya.

Namun, bukan Mourinho jika tak membuat kontroversi. Selain menyebut
timnya lebih baik pada laga itu, ia juga mempertanyakan keabsahan gol
Daniel Agger pada menit ke-22. "Ada yang melaporkan kepada saya,
pergerakan Salomon Kalou di blok saat terjadi gol," katanya.

Terlepas dari kontroversi Mourinho, penalti itu sendiri akan menjadi
sejarah. Dengan Reina di bawah mistar, Liverpool bisa berharap sejarah
dalam adu tendangan penalti akan semakin mencorong. Dalam 11 kali adu
penalti, Liverpool baru satu kali gagal. Reina menyusul pendahulunya,
Jerzy Dudek yang sukses di Istanbul dan Bruce Grobbelaar di Roma.

Namun, Chelsea sebenarnya memiliki kiper yang dihormati saat tendangan
penalti, Petr Cech. Ia juga penendang penalti yang mumpuni. Mungkin
hal itu menjadi tak berguna karena ada pemain ke-12, yakni puluhan
ribu suporter yang memenuhi Anfield, meskipun hal itu coba dinihilkan
Mourinho.

Sebelum adu penalti digelar, "The Blues" menang dalam tos-tosan
pemilihan sisi gawang untuk penalti. Seperti telah diduga sebelumnya,
kapten Chelsea John Terry memilih sisi tribun Anfield Road End, bukan
sisi Kop End. Tribun Anfield Road End dipilih karena di sini duduk
ribuan pendukung Chelsea yang datang dari London.

Namun, meski dekat dengan kelompok suporternya sendiri, suara mereka
kalah dari gemuruh pendukung tuan rumah. Bola Zenden dengan tenang
mengelabui Cech, Robben gagal, Xabi Alonso sukses, Frank Lampard
membuka harapan, Steven Gerrard sukses, Geremi gagal, dan Dirk Kuyt
memastikan Liverpool ke Athena.

Sebuah akhir yang indah bagi Kuyt yang sepanjang pertandingan kurang
beruntung. Sekali sundulannya menaklukkan Cech tetapi hanya menerpa
mistar. Pada babak perpanjangan waktu, dia akhirnya berhasil mencetak
gol, tetapi dianulir wasit karena off side, sebuah keputusan yang bisa
diperdebatkan.

Perjalanan "Pasukan Merah" hingga ke partai puncak cukup lancar
terutama di babak awal. Pada penyisihan grup, Steven Gerrard dan
kawan-kawan lolos sebagai juara grup dengan empat kali menang, sekali
imbang, dan sekali kalah.

Selepas fase grup, Liverpool memperoleh lawan berat, unggulan pertama
menjuarai Liga Champions, juara bertahan Barcelona. Sangat sedikit
yang menjagokan "The Reds", kecuali para suporter yang paling
optimistis.

Namun, mereka membalikkan ramalan, menyingkirkan Barcelona. Kemenangan
2-1 di Nou Camp, meski kalah 0-1 di Anfield, sudah cukup membawa
Liverpool ke perempat final melawan PSV Eindhoven.

Liverpool menunjukkan mental juaranya, menang 3-0 di kandang PSV dan
1-0 saat tampil di Anfield. Hal itu memastikan "The Reds" kembali
bertemu "The Blues" untuk kedua kalinya pada tiga tahun terakhir di
semifinal Liga Champions. Dua-duanya, Liverpool menggagalkan Chelsea
untuk menjadi yang terbaik.

Mengapa Chelsea selalu ka- lah? Liverpool punya budaya menang, sesuatu
yang tak dimiliki Chelsea. (Prasetyo Eko P)

========

peter cech kok penendang penalti?? penahan penalti kali.


HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke