tukang_sapu_curva_sud <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Satu point yang patut
menjadi catatan kita bersama :
"Terlalu bergantung pada sosok juara"
kita liat sejarah :
- Pasca Alan Budikusumah hanya Taufik Hidayat yang mampu berbicara di level
dunia, Sonny D Kuncoro & Simon blum bisa berbuat banyak. Pasca Taufik blum ada
nama baru yang muncul
- Pasca Susi Susanti, praktis tunggal putri tidak dapat berbuat apa2
ditambah lagi hengkangnya Mia Audina ke Belanda.
Sangat tragis jika kita terus mengandalkan sosok2 juara ini, mau sampai kapan
mereka bermain ?? Taufik di usianya yang segitu saja sudah mengatakan "Jangan
berharap lagi pada saya"
--------------------------
apa yang salah dengan bergantung dengan juara??? kita melahirkan juara memang
untuk jadi tempat bergantung kok.
masalahnya ya gimana menciptakan juara-juara baru. sehingga kita bisa
bergantung pada banyak juara. kita gagal menciptakan juara-juara baru tidak ada
kaitannya dengan kita bergantung dengan taufik, susi, dll. pada saat taufik,
susi, berjaya saya yakin pbsi terus menggodok calon2 juara baru. masalahnya:
juara-juara baru itu gagal lahir.
lha jadul apa kita nggak tergantung dengan rudy, king, icuk, tjuntjun,
christian??? bedanya, waktu jadul itu pada saat kita bergantung dengan rudy,
pbsi juga mampu mengasah king, trus icuk, trus alan, ardy. saat kita bergantung
pada christian, pbsi juga mampu melahirkan juara baru pada diri ricky, rexi,
dst. ada kontinuitas.
jadi masalahnya sekarang, ada di pembinaan pemain muda. bisa sistem pelatnas,
bisa kualitas pelatih, bisa semangat juang pemain muda. akibatnya kontinuitas
menghasilkan pemain muda berbakat seakan terhenti. why????? lha ini, jujur,
bungkem deh gue. apa perlu ada seminar khusus tentang masalah ini???......:)
-omar-
"England's most decorated club has another trophy" Martin Tyler, FA Cup Final,
13 May 2006
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]