Sebenarnya ini berawal dari suka nulis aja, jadi tidak
ambisi apapun ya mas, hehehehehehe...
-----------------------------------------------------------------------
Perlu Dana Asing!
Salam Olahraga!
Sepertinya menarik sekali tentang pelarangan
penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) sebagai objek penggelontoran dana bagi
operasionalisasi sebuah tim sepakbola.Bagaimana tidak
menarik, meski itu isu yang cukup lawas, namun sangat
afdol mengingat hampir 90 persen tim sepakbola di
Indonesia didanai pemerintah daerah, tak peduli yang
berada di divisi utama maupun divisi I dan II.
Di sisi lain, ini adalah kisah mengenai sebuah
idealisme yang berperang melawan
dilematis.Lho?Layaknya sebuah kapal tentu harus ada
bahan bakar yang berguna untuk menggenjot tenaga. Tak
ada bahan bakar?sebenarnya masih ada jalan lain yakni
mendayung, tapi jelas performanya bakal kalah jauh.Pun
di dunia sepakbola kita. Sebuah cita-cita idealisme
yang sangat positif tentunya jika dana operasional
semua peserta Liga Indonesia berasal dari kalangan
profesional, baik perusahaan maupun individu yang
bersemangat dan memiliki interest besar mengurus
sebuah klub sepakbola.Bisa dibayangkan bakal gemuruh
dan bercoraknya warna Liga Indonesia jika memang
benar-benar dibiayai kalangan swasta. Tidak hanya dari
sisi gengsi, nama daerah maupun loyalitas sesaat,
namun pendanaan dari sektor swasta bakal membuat
persaingan antar penggelontor dana guna membantu
memajukan performa tim yang mereka danai, selain tentu
kostum tim bisa sangat bervariasi, tidak seperti
sekarang yang tidak bisa lepas dari warna putih, biru,
merah, kuning dan hijau. Jenuh melihatnya!(Apalagi
disuguhi "pertandingan" menarik di luar lapangan:
rusuh!). Penerapan aturan ini dipandang sebagai
langkah  efektif untuk menjaring tim-tim yang
benar-benar memiliki pendanaan kuat yang imbasnya bisa
jadi kualitas kompetisi bakal meningkat tajam, tentu
timnas bakal semakin terbantu performanya dan
kesejahteraan para pemain juga meningkat.
Di sisi lain, seperti laiknya sebuah idealisme yang
terkadang harus mengorbankan sisi dilematis. Tentu
kita bisa meraba ada berapa klub sih yang bisa
bertahan hidup jika kondisi seperti di atas
benar-benar digunakan?paling-paling cuma 15 klub saja
yang bisa berkompetisi penuh selama satu musim, yang
lainnya tentu mengikuti aturan main alam, yakni
tersingkir seiring "Angin dana" yang lebih mendera.
Dan ini sangat potensial menimbulkan kecemburuan
sosial dan bisa mengakibatkan hal negati, sebuah sisi
dilematis yang ada di Indonesia jika sepakbola sudah
seperti sebuah ajang aktualisasi sebuah daerah, yang
bisa terlihat aroma persaingannya.
Namun jika PSSi sebagai otoritas tertinggi sepakbola
Indonesia tidak bisa berbuat tegas, dipastikan
sepakbola Indonesia tidak akan pernah berubah. Saya
bisa mencontohkan Singapura dengan S-League-nya. Empat
tahun lalu kita mungkin hanya mengenal Geylang United,
gara-gara ada Fandi Ahmad, namun seiring pagelaran dan
pengaturan manajemen yang menarik, mereka bisa membuat
kompetisi yang sangat teratur dan bisa kita saksikan
itu (melalui TV saluran 5 Singapura setiap Jumat).
Soal dana, 12 tim di S-League ditambah dari Korsel
(sayang Indonesia ditolak mentah-mentah), juga tetap
mengandalkan dana dari sektor swasta, padahal mereka
juga mengusung nama tim dari sebuah kawasan distrik
(kalau di Indonesia setingkat kabupaten).Satu lagi,
mereka juga tidak manja dan tidak mudah juga
mendapatkan dana, meski Singapura bertabur basic
perusahaan-perusahaan raksasa dunia, hal sama yang
digunakan hampir semua kesebelasan di Liga Premier
Malaysia dan Vietnam. Jangan tanya di Hongkong, Cina
ataupun Jepang tentunya, meski dua negara yang pertama
kualitas timnya juga tidak terlalu jauh dengan jawara
liga Indonesia tentunya.
Satu lagi adalah konsepsi kesebelasan laksana Badan
Usaha Milik Daerah (BUMD). Logikanya, jika benar-benar
menjadi sebuah kebanggaan, jadilah brand kesebelasan
sebagai alat untuk menjual diri. Di sini juga bisa
berperan masyarakat luas, yakni berpartisipasi dalam
penggalangan dana baik itu lewat tiket terusan,
pembelian saham, merchandise resmi, tiket masuk jangan
nerobos sampai menyumbang secara sukarela untuk
kelangsungan klub. Satu lagi, instrumen ini harus
didukung PSSI dengan tidak ada larangan untuk mencari
sponsor. Justru jika liga mendapat sponsor, PSSI bisa
memberi subsidi operasional tanpa mengikat.
Pakai Dana Asing?
Satu langkah yang mungkin belum pernah dibicarakan dan
dilakukan adalah mencari pendanaan dengan menggunakan
dana dari pihak asing. Meski ini proyek jangka panjang
dengan syarat harus ada keteraturan sistem kompetisi
dan pasar yang bagus, namun sangat potensial karena
Indonesia berdekatan dengan jalur ekonomi dan
bekekuaran 200 juta orang. Jika
konglomerat-konglomerat Indonesia dan kawasan Asia
Tenggara berebut memiliki klub-klub di Eropa, tidakkah
mereka menginginkan adanya dana yang digelontorkan
untuk kawasannya sendiri meski hanya 10 persen,
misalnya. Kunci lobi dan produk kompetisi yang sangat
bagus memang harus benar-benar ada, jika tidak jangan
harap hal itu terjadi. Tentu disertai profesionalitas
PSSI untuk memberi ruang promosi.Jadi, selamat
merenung.Bye..



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke