kasian rakyat.termasuk saya :D klub harus mandiri dunk,apbd melulu. On 5/17/07, nurfahmi budi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sebenarnya ini berawal dari suka nulis aja, jadi tidak > ambisi apapun ya mas, hehehehehehe... > ---------------------------------------------------------- > Perlu Dana Asing! > Salam Olahraga! > Sepertinya menarik sekali tentang pelarangan > penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah > (APBD) sebagai objek penggelontoran dana bagi > operasionalisasi sebuah tim sepakbola.Bagaimana tidak > menarik, meski itu isu yang cukup lawas, namun sangat > afdol mengingat hampir 90 persen tim sepakbola di > Indonesia didanai pemerintah daerah, tak peduli yang > berada di divisi utama maupun divisi I dan II. > Di sisi lain, ini adalah kisah mengenai sebuah > idealisme yang berperang melawan > dilematis.Lho?Layaknya sebuah kapal tentu harus ada > bahan bakar yang berguna untuk menggenjot tenaga. Tak > ada bahan bakar?sebenarnya masih ada jalan lain yakni > mendayung, tapi jelas performanya bakal kalah jauh.Pun > di dunia sepakbola kita. Sebuah cita-cita idealisme > yang sangat positif tentunya jika dana operasional > semua peserta Liga Indonesia berasal dari kalangan > profesional, baik perusahaan maupun individu yang > bersemangat dan memiliki interest besar mengurus > sebuah klub sepakbola.Bisa dibayangkan bakal gemuruh > dan bercoraknya warna Liga Indonesia jika memang > benar-benar dibiayai kalangan swasta. Tidak hanya dari > sisi gengsi, nama daerah maupun loyalitas sesaat, > namun pendanaan dari sektor swasta bakal membuat > persaingan antar penggelontor dana guna membantu > memajukan performa tim yang mereka danai, selain tentu > kostum tim bisa sangat bervariasi, tidak seperti > sekarang yang tidak bisa lepas dari warna putih, biru, > merah, kuning dan hijau. Jenuh melihatnya!(Apalagi > disuguhi "pertandingan" menarik di luar lapangan: > rusuh!). Penerapan aturan ini dipandang sebagai > langkah efektif untuk menjaring tim-tim yang > benar-benar memiliki pendanaan kuat yang imbasnya bisa > jadi kualitas kompetisi bakal meningkat tajam, tentu > timnas bakal semakin terbantu performanya dan > kesejahteraan para pemain juga meningkat. > Di sisi lain, seperti laiknya sebuah idealisme yang > terkadang harus mengorbankan sisi dilematis. Tentu > kita bisa meraba ada berapa klub sih yang bisa > bertahan hidup jika kondisi seperti di atas > benar-benar digunakan?paling-paling cuma 15 klub saja > yang bisa berkompetisi penuh selama satu musim, yang > lainnya tentu mengikuti aturan main alam, yakni > tersingkir seiring "Angin dana" yang lebih mendera. > Dan ini sangat potensial menimbulkan kecemburuan > sosial dan bisa mengakibatkan hal negati, sebuah sisi > dilematis yang ada di Indonesia jika sepakbola sudah > seperti sebuah ajang aktualisasi sebuah daerah, yang > bisa terlihat aroma persaingannya. > Namun jika PSSi sebagai otoritas tertinggi sepakbola > Indonesia tidak bisa berbuat tegas, dipastikan > sepakbola Indonesia tidak akan pernah berubah. Saya > bisa mencontohkan Singapura dengan S-League-nya. Empat > tahun lalu kita mungkin hanya mengenal Geylang United, > gara-gara ada Fandi Ahmad, namun seiring pagelaran dan > pengaturan manajemen yang menarik, mereka bisa membuat > kompetisi yang sangat teratur dan bisa kita saksikan > itu (melalui TV saluran 5 Singapura setiap Jumat). > Soal dana, 12 tim di S-League ditambah dari Korsel > (sayang Indonesia ditolak mentah-mentah), juga tetap > mengandalkan dana dari sektor swasta, padahal mereka > juga mengusung nama tim dari sebuah kawasan distrik > (kalau di Indonesia setingkat kabupaten).Satu lagi, > mereka juga tidak manja dan tidak mudah juga > mendapatkan dana, meski Singapura bertabur basic > perusahaan-perusahaan raksasa dunia, hal sama yang > digunakan hampir semua kesebelasan di Liga Premier > Malaysia dan Vietnam. Jangan tanya di Hongkong, Cina > ataupun Jepang tentunya, meski dua negara yang pertama > kualitas timnya juga tidak terlalu jauh dengan jawara > liga Indonesia tentunya. > Satu lagi adalah konsepsi kesebelasan laksana Badan > Usaha Milik Daerah (BUMD). Logikanya, jika benar-benar > menjadi sebuah kebanggaan, jadilah brand kesebelasan > sebagai alat untuk menjual diri. Di sini juga bisa > berperan masyarakat luas, yakni berpartisipasi dalam > penggalangan dana baik itu lewat tiket terusan, > pembelian saham, merchandise resmi, tiket masuk jangan > nerobos sampai menyumbang secara sukarela untuk > kelangsungan klub. Satu lagi, instrumen ini harus > didukung PSSI dengan tidak ada larangan untuk mencari > sponsor. Justru jika liga mendapat sponsor, PSSI bisa > memberi subsidi operasional tanpa mengikat. > Pakai Dana Asing? > Satu langkah yang mungkin belum pernah dibicarakan dan > dilakukan adalah mencari pendanaan dengan menggunakan > dana dari pihak asing. Meski ini proyek jangka panjang > dengan syarat harus ada keteraturan sistem kompetisi > dan pasar yang bagus, namun sangat potensial karena > Indonesia berdekatan dengan jalur ekonomi dan > bekekuaran 200 juta orang. Jika > konglomerat-konglomerat Indonesia dan kawasan Asia > Tenggara berebut memiliki klub-klub di Eropa, tidakkah > mereka menginginkan adanya dana yang digelontorkan > untuk kawasannya sendiri meski hanya 10 persen, > misalnya. Kunci lobi dan produk kompetisi yang sangat > bagus memang harus benar-benar ada, jika tidak jangan > harap hal itu terjadi. Tentu disertai profesionalitas > PSSI untuk memberi ruang promosi.Jadi, selamat > merenung.Bye.. > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > >
[Non-text portions of this message have been removed]
