Menyesakkan, menyebalkan, ataukah menyedihkan?sepertinya tiga
perbendaharaan kata berimbuhan tersebut belumlah cocok untuk
menggambarkan betapa permainan tim nasional Indonesia melawan Syria
alias Suriah benar-benar "mengejutkan". Bagaimana tidak, setelah
disanjung setinggi langit akibat permainan ciamik saat piala Asia
kemarin, penampilan Ponaryo Astaman dkk malam ini benar-benar berada
di luar nalar sehat.
Tidak hendak mencemooh timnas sendiri, tapi kondisi permainan membuat
kita sebagai penonton yang mendambakan permainan minimal seperti yang
ditampilkan pada Piala Asia lalu bisa muncul, tentu sangat
menyebalkan. Nyaris tanpa gairah yang berarti. Yang lebih fatal lagi
ternyata timnas Indonesia bermain seolah tanpa roh kalaupun ada roh
itu telah hilang, lenyap entah kemana.
Passing akurat, gocekan maut ataupun crossing yang yahud saat Piala
Asia lalu ternyata lenyap tak berbekas. Ada apa sebenarnya timnas
Indonesia dan Ivan Kolev?sebetulnya sejak kick off, sepertinya memang
ada yang tidak beres. Entah kondisi lapangan yang tidak mulus lagi,
pemanasan yang kurang ataupun makanan apa yang disantap sebelum
pertandingan salah atau tidak, terbukti permainan kolektif sudah tidak
ada lagi. Yang ada malah justru kebingunngan untuk menyerang,
kebingungan juga untuk bertahan. Empat gol yang bersarang tentu
menjadi gambaran nyata betapa buruknya performa anak-anak terbaik
Indonesia ini.
Catatan khusus tentu patut dialamatkan pada seorang Markus Harison,
yang notabene sepertinya tidak siap menghadapi partai maha penting
seperti malam ini. Meski berlabel kiper timnas, tapi Markus seolah
memberi contoh jika dirinya pantas bermain di divisi I, bahkan mungkin
di divisi II. (mungkin lain kali kolev perlu melihat juga aksi kiper
di divisi I or II Liga Indonesia). Markus benar-benar menjadi momok
tersendiri bagi rekan-rekannya, sehingga bek pun jadi tidak pede lagi,
akibatnya selain kurang koordinasi Maman, Charis, Ridwan tampak gugup
setiap menerima serangan, apalagi menghadapi crossing lawan yang
penyerangnya rata-rata bertinggi di atas 175 cm.
Di sisi lain, prestasi timnas kali ini benar-benar melengkapi
penderitaan persepakbolaan nasional. Bagaimana tidak, diawali lebih
seringnya terjadi bentrok dan kerusuhan antarsuporter di arena Liga
Indonesia, terus terpukul betapa keukeuhnya Nurdin Halid untuk turun
tahta dari PSSI sampai ancaman FIFA pun bisa jadi muncul. Kekalahan
menyesakkan dari Suriah dengan brondongan 4 gol tentu menjadikan
bangsa Indonesia, khususnya dunia persepakbolaannya sangat prihatin
dan patut untuk sementara menaikkan bendera setengah tiang. Meski
timnas U-16 berhasil lolos, namun itu hanyalah setitik. Jadi bagaimana
peluang di leg kedua nanti?bukannya pesimis banget, tapi tidak
dibantai dengan berondongan selusin gol saja, timnas Indonesia jelas
beruntung...Semoga mereka bisa bermain baik di Damascus (doa dan
harapan di tengah pesimis tentunya...)
Salam

Kirim email ke