Komentar semua orang di Indonesia hampir sama. Kesalahan Fatal yang dibuat oleh Markus yg mebuahkan Gol ke-3 buat Syria memaksa seluruh rakyat pencinta sepakbola di Indonesia mencemooh dia. Sangat berbeda ketika dia bermain di Piala Asia, seluruh rakyat Indonesia memuji Markus setinggi langit, hingga dia hampir menjadi selebriti saat itu. Tapi semuanya udah melupakan saat2 itu, dibenak kita hanya ada Markus yang bikin blunder yg membuat mental bermain rekan2nya semakin menurun dan akhirnya kalah 1-4 dari Syria yg bebeda 1 peringkat FIFA dari Indonesia. Kita seharusnya tidak bikin komentar miring saat pemain performanya dibawah rata2 dan tidak terlalu memuji mereka saat performanya diatas rata2. Sepakbola adalah permainan TIM, dan bukan hanya krn 1 atw 2 org pemain. Review gw ttg pertandingan Jumat kmrn secara keseluruhan, Timnas Indonesia bermain di bawah Form, lini tengah dan belakang ga ada koordinasi sama sekali. Gol pertama dan kedua hasil dari 'poor clearance' dan telat menutup gerak lawan. Yang sangat disayangkan, ulah Ponaryo yg mendapatkan kartu kuning yg seharusnya ga perlu dilakukan. Masa seorang kapten berbuat begitu?? Gol ketiga Syria krn kegagalan Markus menahan laju bola, dan tidak menangkap bola dgn sempurna berbuah membuat suporter Indonesia dan pemain Timnas kita tercengang, apalagi sudah memasuki injury time. Terlepas dari semua itu, PSSI memang harus benar2 berbenah didalam dan luar tubuh mereka. Hal yang paling utama adalah yang paling disorot oleh Dunia yaitu kasus Nurdin Halid. Dia sudah pantas turun dari jabatannya.
*cleo giselle* :: it ain't funny living without sadness and happiness :: ------------------------------ *From:* [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On Behalf Of *dicha_4ever *Sent:* 09 Nopember 2007 22:10 *To:* [email protected] *Subject:* [BolaML] roh itu telah hilang Catatan khusus tentu patut dialamatkan pada seorang Markus Harison, yang notabene sepertinya tidak siap menghadapi partai maha penting seperti malam ini. Meski berlabel kiper timnas, tapi Markus seolah memberi contoh jika dirinya pantas bermain di divisi I, bahkan mungkin di divisi II. (mungkin lain kali kolev perlu melihat juga aksi kiper di divisi I or II Liga Indonesia). Markus benar-benar menjadi momok tersendiri bagi rekan-rekannya, sehingga bek pun jadi tidak pede lagi, akibatnya selain kurang koordinasi Maman, Charis, Ridwan tampak gugup setiap menerima serangan, apalagi menghadapi crossing lawan yang penyerangnya rata-rata bertinggi di atas 175 cm. [Non-text portions of this message have been removed]
