Inggris Memang Tak Pantas Lolos
Andi Abdullah Sururi - detikcom

Jakarta, Sudah ditolong orang lain, Inggris masih gagal pula. Akan 
lebih memalukan kalau dinihari tadi Steven Gerrard dkk sampai 
ditolong juga oleh Andorra. Jadi, Inggris memang tak pantas lolos.

Terdaftar di Grup E babak kualifikasi Euro 2008, dari reputasinya, 
saingan Inggris hanya Kroasia dan Rusia. Tapi dari reputasi itu pula 
Inggris semestinya lebih baik daripada dua negara dari Eropa Timur 
itu. 

Banyak embel-embel yang membuat posisi Inggris di belantikan 
sepakbola dunia selalu ada di kelas atas. Mereka tim juara dunia 
(satu kali, 1966), punya kompetisi liga yang disebut-sebut terbaik 
di dunia, sampai klaim kebanggaan sebagai ibu yang melahirkan 
sepakbola.

Jadi, jika Frank Lampard kk mengalahkan Andorra, Macedonia, Estonia, 
bahkan Kroasia dan Rusia, hal tersebut semestinya bukanlah hal 
istimewa. Faktanya, Rusia mampu menundukkan mereka pula di Moskow (2-
1, 17 Oktober 2007), dan Kroasia bahkan dua kali mempecundangi "Tiga 
Singa" (2-0 di Zagreb, dan 3-2 di London). 

Jangankan Rusia dan Kroasia, pasukan Steve McClaren malahan bisa 
ditahan imbang tanpa gol oleh Israel dan Macedonia (!). Jadi, jelas 
bahwa Inggris tidak kompetitif untuk mencari satu tempat di putaran 
final Piala Eropa tahun depan di Austria-Swiss.

Karena tak mampu membuka jalannya sendiri, tak heran kalau Inggris 
sampai mengandalkan orang lain untuk mengais harapan. Akhir pekan 
lalu semua orang di Kerajaan Ratu Elizabeth II berdoa agar Israel 
dapat menghentikan Rusia dan Guus Hiddink-nya. 

Doa tersebut terkabul. Israel menang di menit-menit akhir. Saking 
girangnya, seorang kaya raya di Inggris siap mengirimi sang pencetak 
gol kemenangan Israel, Omer Golan, sebuah mobil mewah -- tapi yang 
bersangkutan menolak.

Setelah pertolongan tersebut Inggris kembali harus mengurus dirinya 
sendiri. Sayang, mereka seperti lantas jumawa. Pers-pers setempat 
belum apa-apa sudah mengklaim Inggris akan lolos, salah satunya 
karena Kroasia dipercaya takkan terlalu serius karena sudah 
mengantongi tiket tersebut.

Tapi yang terjadi kemudian adalah sebuah petaka dan ironi. Di 
kandang kebesarannya, di stadion yang terkenal keramat yang telah 
dipugar pula menjadi salah satu yang termewah dan termegah di dunia, 
Wembley, Inggris takluk 2-3.

Alih-alih mendominasi permainan, Inggris malah tertinggal dua gol 
lebih dulu dalam kurun waktu enam menit di babak pertama. Ups! Maka 
anak-anak McClaren mulai kalang kabut.

Untuk sesaat mereka sempat berhasil. Tendangan penalti Lampard dan 
gol spektakuler Peter Crouch memanjangkan lagi nafas Inggris. 
Sialnya, kemampuan mencetak dua gol balasan tersebut tidak 
dilengkapi dengan upaya memperbaiki buruknya lini belakang mereka 
sejak menit pertama.

Akibatnya, di menit 77 Kroasia kembali mengoyak gawang Scott Carson 
dan kembali memimpin 3-2. Inggris pun sekarat lagi karena 
pertandingan tidak tersisa banyak dan jauh di sana Rusia sudah 
unggul 1-0 atas Andorra.

Barangkali ketika sampai menit 90 Inggris belum bisa lagi menjebol 
gawang Kroasia, sebagian fans mereka berdoa lagi supaya Andorra 
memberi kejutan dengan mencetak gol balasan ke jala Rusia. Jika 
pertandingan itu seri, maka Inggris-lah yang lolos karena menang 
head-to-head atas Rusia.

"Untunglah", skenario "murahan" macam itu tidak terjadi. Sungguh, 
takkan lebih memalukan apabila Inggris lolos ke Austria-Swiss hanya 
karena mendapat bantuan dua kali dari tim medioker Israel dan salah 
satu tim terlemah di Eropa, Andorra.

Tak terbayangkan jika hari ini koran-koran Inggris memasang headline-
nya besar-besar, "Thank God We Have Israel and Andorra!" Karena 
jalannya demikian, tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Inggris 
memang tak pantas lolos.

Kirim email ke