Kalo soal fanatisme, entah itu ke klub atau ke timnas, kayaknya ga bisa disederhanakan seperti contoh yang Anda buat. Fanatisme bagi seseorang itu sifatnya personal dan tiap orang punya argumen yang ga bisa didebat siapapun. Apalagi menyangkut sepakbola yang buat banyak orang udah menyerupai religi.
Di klub gue fans Liverpool. Di timnas gue fans Spanyol + Argentina. Dan kebetulan banyak pemain Spanyol di Liverpool. Jauh lebih banyak pemain Spanyol di starting line up ketimbang pemain Inggris sendiri. Jadi kalo soal peduli karena keterlibatan pemain, gue lebih peduli sama Spanyol. So, tulisan awal gue sama sekali bukan denial. Gue prihatin Inggris tersingkir bukan karena fans mereka tapi karena dengan kapasitas pemain yang mereka punya, seharusnya bisa masuk putaran final. Samalah kalo misalnya Itali, Perancis atau Jerman ga lolos. ===================================================== > > gw lebih setuju kl pendapat diatas ini adalah denial.. > Contoh sederhana : kala gw menggemari liga italia, maka gw mengetahui > siapa siapa saja yg bermain di klub kesayangan gw dan pemain2 bagus di > klub klub lawan. > > So pasti tiap minggu gw sudah memperhatikan mereka semua ini bermain > dalam timnya masing2. Lalu apakah gw punya rasa penasaran bagaimana > jika kumpulan pemain terbaik ini bermain secara bersamaan ? Jawabnya > pasti iya. Apakah gw berharap mereka mampu mempertontonkan sepak bola > yg bagus dan memberikan prestasi yg membanggakan, ya jelas iya. >
