Belajar Ilmu Hidup dari seorang Ivan Klasnic www.bolanova.com Kurang lebih, 2-3 tahun lalu, seorang pria berambut pirang, berpostur bak manusia Bavaria, menarik perhatian dunia. Bukan dengan penampilan fisiknya, tetapi dengan "aplikasi" sepakbola di lapangan hijau.
Sebagai striker di klub elit Werder Bremen, Klasnic (yang namanya gampang diingat), awalnya diorbitkan sebagai pendukung peranan Ailton, sang target man. Namun, peranannya ternyata seimbang dengan eks bintang Brazil tersebut. Ketika tim membutuhkan gol, maka Klasnic adalah solusinya. Thomas Schaaf (pelatih Bremen), sangat yakin akan kemampuan anak asuhnya. Kala Ailton "dilepas" ke klub lain, Klasnic tetap ditahannya. Sampai pada akhirnya, sebuah berita miring menerpa kencang. Ivan Klasnic dinyatakan mengidap gagal ginjal. Bak petir di siang bolong, dirinya harus menyingkir dari lapangan hijau semenjak Januari 2007. Untung bagi Ivan, karena ibu kandungnya bersedia "menyumbang" salah satu ginjalnya, untuk "dicangkok" ke dalam tubuh anaknya. Namun ternyata kisah sedih masih berlanjut, tubuhnya "menolak" transplantasi ginjal tersebut. Tuhan memberikan kesempatan kedua, dan kali ini sang ayah, mencoba memberikan solusi dari organ ginjalnya. Operasi dilakukan pada Maret 2007. Untuk yang satu ini, hasilnya sepadan. Tubuh Ivan Klasnic sukses untuk menerima sumbangan organ tersebut. Tidak ada yang terpikir bahwa, seorang Ivan Klasnic akan kembali bermain sepakbola, dengan penyakit yang dideritanya. Kesembuhan merupakan hal yang realistis, daripada bermuluk-muluk ria, mengharapkan comeback dirinya kembali menjadi football star. Namun, Klasnic membuktikan, bahwa dalam hidup, tidak boleh ada kata menyerah. Bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Bahwa dirinya layak disetarakan dengan olahragawan bermental baja lainnya. Di basket ada Alonzo Mourning, yang "melawan" penyakit jantung yang dideritanya, dan menggapai gelar Juara NBA bersama Miami Heat. Ataupun si rajanya Tour de France, Lance Armstrong, ketika menjadi seorang legenda balap sepeda dunia melewati Eddy Merckx ataupun Miguel Indurain, justru ketika telah divonis mengidap kanker testis. Sabtu 15 Desember 2007, adalah hari yang tak terlupakan bagi Klasnic. Dalam lanjutan Bundesliga, 2 gol dari kakinya, melengkapi kemenangan 5-2 atas Bayer Leverkusen. Penonton bersorak, namun Klasnic lebih "terharu" biru. Bermain kembali bersama Werder Bremen, sudah merupakan "mimpi" bagi Klasnic, dan mencetak gol, hanya membuat dirinya melayang ke surga ketujuh. Success will come for those who wait...and Klasnic deserved for it. [Non-text portions of this message have been removed]
