Chauvinisme dalam Sepakbola
Liza Arifin - detikcom

Jakarta, Pada awalnya sepakbola adalah sebuah permainan sederhana 
yang mudah dimainkan secara berbanyak. Tak mengherankan kalau 
sepakbola bisa berkembang dengan cepat dan masal.

Tetapi evolusi selama seratusan tahun lebih sedikit, sejarah 
persepakbolaan modern membuat sepakbola tidak lagi satu permainan 
semata. Tergantung konteks pembicaraan seperti apa.

Ambil contoh penunjukan Fabio Capello sebagai pelatih Inggris. Bagi 
kedua negara yang tersangkut paut, Inggris dan Italia, ini bukan 
sekadar persoalan penunjukan pelatih.

Dunia sepakbola Italia tahu, apapun yang terjadi, Inggrislah ibunda 
sepakbola modern. Sejarah sepakbola Italia adalah turunan langsung 
sepakbola Inggris, dan pada awalnya jelas-jelas berkiblat pada 
Inggris. Klub seperti AC Milan bahkan didirikan langsung oleh orang 
Inggris. Apa boleh buat sejarah sudah tersurat. 

Tentu sepakbola Italia kemudian mengambil jalannya sendiri. Latar 
belakang budaya, mentalitas, dan jaringan kehidupan sosial serta 
politiknya, akhirnya merumuskan bentuk permainan khas Italia yang 
sangat berbeda dengan gaya permainan di Inggris. Celakanya memang 
permainan Italia dianggap banyak penggemar bola, terutama oleh orang 
Inggris, membosankan.

Namun jelas bahwa prestasi Italia jauh unggul dibanding Inggris. 
Bukan hanya ditingkat tim nasional, tetapi juga ditingkat klub. 
Hanya prestasi ini tidak pernah bisa menghilangkan rasa minder dunia 
sepakbola Italia.

Semakin Italia memamerkan prestasi mereka, semakin mereka 
mengecilkan Inggris, justru rasa minder semakin menonjol.

Penunjukkan Capello sebagai pelatih tim Inggris seperti memberi 
selokan untuk meluncaskan luapan emosi keminderan itu, dinding 
inferioritas harus dijebol, diambrukkan. Getaran energi luapan emosi 
itu sungguh sangat terasakan.

Coba simak kata-kata yang dirangkai harian La Repubblica, salah satu 
harian terbesar di Italia. "Setelah seratus tahun lebih memandang 
rendah kita, orang Inggris akhirnya menyerah kepada mereka yang 
bermain licik, kotor, dan bertahan, tetapi menang. Capello mungkin 
harus belajar bahasa Inggris, tetapi ia akan mengajari orang Inggris 
cara bermain sepakbola".

Atau simak sambutan koran olahraga terbesar Italia, Gazetta Dello 
Sport. "Bersyukurlah dengan pengakuan positif dari luar negeri sana 
yang menunjukkan cuaca cerah untuk Italia saat ini. Fabio Capello 
mengangkat harkat Italia. Penunjukannya merupakan balas dendam kita 
terhadap mereka yang menciptakan permainan sepakbola".

Masih ada yang menganggap sepakbola sekadar permainan olahraga 
semata?

Kirim email ke