MEMALUKAN, menyedihkan, mengecewakan dan entah ungkapan apa lagiyang
pas untuk mendeskripsikan prilaku segelintir suporter yang mencederai
aroma fair play sebuah pertandingan. Tak pernah bisa mengontrolemosi,
itulah yang terjadi pada perhelatan partai kedua babak delapan besar
Liga Djarum Indonesia di stadion Brawijaya Kediri.
Bukan bermaksud membandingkan, setelah disuguhi indahnya pesona
pertandingan dan prilaku suporter di ajang Copa Dji Sam Soe minggu
lalu, ternyata dunia sepakbola nasional langsung disambut "kado nan
indah" kembali, yakni kerusuhan!. Ironisnya, kejadian tersebut justru
terjadi di level kompetisi tertinggi di negeri ini, Liga Indonesia.
Sepertinya masih ada terus kesalahan yang harus lebih dalam dipelajari
semua ornamen yang ada di Liga Indonesia. Kalau perlu, belajarlah dari
nilai-nilai yang ada di level kompetisi lain. Jika mengikuti emosi,
jelas itu tidak tahu ujung pangkalnya. Ibarat nafsu, manusia tidak
akan pernah merasa cukup dengan apa yang telah diraihnya. Nah belajar
dari filosofis itulah seharusnya suporter Indonesia kembali berpikir
bijak. Lebih baik melepaskan emosinya dengan gerakan-gerakan yang
menghibur, kreasi-kreasi seni dan atribut yang eye catching karena
ditonton ole seluruh publik sepakbola Indonesia via layar televisi. 
Yang terjadi malah sebaliknya. Hal itu-itu lagi yang selalu terulang.
Meskipun ada kesalahan di pihak wasit ataupun hakim garis, bukan
kerusuhan, main hakim sendiri sampai perusakan stadion yang harus
dilakukan. Aturan mainnya kan sudah jelas, jika ada wasit yang
bersalah nanti juga ada hukuman kode etik wasit tersendiri. Tidak
hanya sepakbola Indonesia kembali tercoreng, di sisi lain jelas sarana
dan prasarana stadion yang rusak tentu menjadi masalah tersendiri.
Berapa ratus juga kerugian yang harus ditanggung panitia, belum lagi
si empunya stadion yakni Persik Kediri tentunya juga terusik.
Lalu apa yang masih salah dari suporter Indonesia?mungkin satu yang
paling tepat adalah kedewasaan. Seperti laiknya manusia, sisi
kedewasaan jelas tidak selalu terpengaruh usia seseorang. Namun
pengalaman dan pembelajaranlah yang sangat menentukan sisi kedewasaan.
Bagi suporter Indonesia, sepertinya masalah itu sangat kurang. Dan
kita pun harus mengakui, kedewasaan itu belum tumbuh sempurna atau
bahkan mungkin belum ada di dada setiap orang yang datang ke stadion.
So, belajarlah (lagi) suproter Indonesia. Jadikan sepakbola di negeri
sesuatu yang sangat menghibur di akhir pekan dan tengah pekan. Anarkis
justru akan merugikan diri sendiri.....

salam,
nurfahmi budi


Kirim email ke