Wah nich artikel pantesnya masuk Majalah..... tapi sayang harus dikasih label "The same old story!.... ^ ^
Piala Asia yang diharapkan jadi MOMENTUM pun kayaknya sekarang udah gak berbekas momennya... huh... Tapi bener tuh kalo ngomongin sepakbola nasional.. H. Arif Ikram said :"BENCI TAPI RINDU"... mending ngomongin liga Inggris ajah, yang kayak GOSIP... Makin diGOSok makin SIPP... dan sesekali ngomongin SERIE-A yang "DIBUANG SAYANG"... FORZA CATANIA! FORZA VARGAS! FORZA GATTUSSO! --- In [email protected], "dicha_4ever" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > MEMALUKAN, menyedihkan, mengecewakan dan entah ungkapan apa lagiyang > pas untuk mendeskripsikan prilaku segelintir suporter yang mencederai > aroma fair play sebuah pertandingan. Tak pernah bisa mengontrolemosi, > itulah yang terjadi pada perhelatan partai kedua babak delapan besar > Liga Djarum Indonesia di stadion Brawijaya Kediri. > Bukan bermaksud membandingkan, setelah disuguhi indahnya pesona > pertandingan dan prilaku suporter di ajang Copa Dji Sam Soe minggu > lalu, ternyata dunia sepakbola nasional langsung disambut "kado nan > indah" kembali, yakni kerusuhan!. Ironisnya, kejadian tersebut justru > terjadi di level kompetisi tertinggi di negeri ini, Liga Indonesia. > Sepertinya masih ada terus kesalahan yang harus lebih dalam dipelajari > semua ornamen yang ada di Liga Indonesia. Kalau perlu, belajarlah dari > nilai-nilai yang ada di level kompetisi lain. Jika mengikuti emosi, > jelas itu tidak tahu ujung pangkalnya. Ibarat nafsu, manusia tidak > akan pernah merasa cukup dengan apa yang telah diraihnya. Nah belajar > dari filosofis itulah seharusnya suporter Indonesia kembali berpikir > bijak. Lebih baik melepaskan emosinya dengan gerakan-gerakan yang > menghibur, kreasi-kreasi seni dan atribut yang eye catching karena > ditonton ole seluruh publik sepakbola Indonesia via layar televisi. > Yang terjadi malah sebaliknya. Hal itu-itu lagi yang selalu terulang. > Meskipun ada kesalahan di pihak wasit ataupun hakim garis, bukan > kerusuhan, main hakim sendiri sampai perusakan stadion yang harus > dilakukan. Aturan mainnya kan sudah jelas, jika ada wasit yang > bersalah nanti juga ada hukuman kode etik wasit tersendiri. Tidak > hanya sepakbola Indonesia kembali tercoreng, di sisi lain jelas sarana > dan prasarana stadion yang rusak tentu menjadi masalah tersendiri. > Berapa ratus juga kerugian yang harus ditanggung panitia, belum lagi > si empunya stadion yakni Persik Kediri tentunya juga terusik. > Lalu apa yang masih salah dari suporter Indonesia?mungkin satu yang > paling tepat adalah kedewasaan. Seperti laiknya manusia, sisi > kedewasaan jelas tidak selalu terpengaruh usia seseorang. Namun > pengalaman dan pembelajaranlah yang sangat menentukan sisi kedewasaan. > Bagi suporter Indonesia, sepertinya masalah itu sangat kurang. Dan > kita pun harus mengakui, kedewasaan itu belum tumbuh sempurna atau > bahkan mungkin belum ada di dada setiap orang yang datang ke stadion. > So, belajarlah (lagi) suproter Indonesia. Jadikan sepakbola di negeri > sesuatu yang sangat menghibur di akhir pekan dan tengah pekan. Anarkis > justru akan merugikan diri sendiri..... > > salam, > nurfahmi budi >
