2008/7/4 Frely Pakan <[EMAIL PROTECTED]>: > ngelengkapin datanya om rudy... > ini ada chart perbandingan revenue total liga inggris dibanding dengan > liga-liga top yang laen di eropa. > > > http://newsimg.bbc.co.uk/media/images/44697000/gif/_44697265_euro_league_money_226.gif > > grafiknya dari artikel tanggal 28 mei tuh, tapi datanya blom masukin musim > kemaren ini. http://news.bbc.co.uk/2/hi/business/7424379.stm > > kok bisa beda jauh banget yakk di matchday revenuenya. orang italia, > spanyol, perancis males ngeluarin duit buat nonton di stadion? ato kursi > stadionnya kurang nyaman untuk tiduran?
[rudy] Tiket liga inggris sangat mahal sampai membuat fansnya sendiri muak karena merasa diperas oleh klub yang mereka dukung. Di Italia tiket jauh lebih murah, makanya pendapatan mereka dari sini juga sedikit, kekosongan stadion bukan karena masalah harga tiket tapi karena kekecewaan tifosi dengan adanya berbagai kasus yang terjadi di Serie A, ditambah lagi katanya mereka lebih suka menonton di televisi karena memang sudah membayar mahal untuk berlangganan. Ketika klub2 Italia seperti Lazio dan Parma dulu jor-joran uang mereka dapat dana dari penyokong dana utama seperti Cragnotti dan keluarga Tanzi, bukan dari tifosi dengan cara memperlakukan harga tiket yang mahal atau yang lainnya. [quote] 04/06/2008 2:52 | Goal.com Klub-klub Liga Primer Kian Rakus, Fans Enggan Beli Tiket Sebanyak 19 persen fans Manchester United tidak akan membeli tiket untuk satu musim mendatang, karena terus naikhnya harga tiket. Jangan heran jika musim depan Anda menyaksikan tidak seluruh kursi di stadion klub-klub Liga Primer terisi. Fans klub-klub Liga Primer mulai muak dengan kian mahalnya harga tiket pertandingan, dan banyak dari mereka enggan membeli tiket musiman. Sebuah survey yang dirilis, Selasa (3/6), oleh Virgin Money memperlihatkan rata-rata satu dari tujuh fans klub Liga Primer enggan membeli tiket untuk satu musim mendatang, karena merasa diperas oleh kenaikan harga yang terjadi setiap musim. Fans Manchester United (MU) berada di antara mereka yang paling marah dengan kenaikan ini. Satu dari lima fans Setan Merah menyatakan tidak akan membeli tiket untuk satu musim depan, yang kini berharga lebih dari 912 pounds, atau Rp 16.500.000. Pukulan paling serius menghantam West Ham United. Seperempat fans mereka menyatakan tidak akan lagi mendatangi Upton Park pada musim depan, karena harga tiket yang meningkat empat persen, menjadi 885 pounds, atau Rp 15,4 juta. Portsmouth, juara Piala FA yang akan berlaga di Piala UEFA musim depan, menaikkan harga tiket sampai 17,5 persen, atau menjadi 925 pounds (Rp 16,6 juta). Fans juga harus mengeluarkan 87,75 pounds, atau Rp 1,6 juta, untuk satu pertandingan. Atau meningkat 12 persen dibanding tahun 2006, yang hanya 77,95 pounds (Rp 1,4 juta). Fans hanya memperoleh fasilitas berupa makanan dan minuman ringan untuk harga semahal itu. Federasi Suporter Sepak Bola menyebut klub-klub ini terlalu rakus. ''Banjir uang dari televisi yang dinikmati klub-klub Inggris, seharusnya menjadikan harga tiket tidak terus naik,'' kata Malcolm Clarke, ketua Federasi Suporter Sepak Bola. ''Untuk waktu lama, klub-klub yakin tidak ada batasan untuk mengeksploitasi fans.'' Dalam situasi keuangan sulit yang kami hadapi saat ini, kata Clarke, industri sepak bola harus sadar dan tidak makin rakus. Scott Mowbray, dari Virgin Money, mengatakan fans sedang menderita dan banyak dari mereka tidak akan menghabiskan uangnya dengan membeli tiket pertandingan. Gusti Satya Jumlah fans klub yang menolak membeli tiket musiman: West Ham United (25 persen), Reading (22 persen), Portsmouth (21), Manchester City (20), Manchester United (19), Fulham (18), Bolton (17), Birmingham (16), Everton (14), Tottenham (21), Sunderland (12), Middlesbrough (11), Newcastle United (10), Chelsea (10), Arsenal (8), Aston Villa (8), Wigan Athletic (8), Liverpool (5), Blackburn (5), Derby County (3). [/quote] [/rudy] > > sama dengan chart sebelumnya, di tahun 01/02 puncak ancur2nya keuangan klub > di liga italia. total lossnya ampe 400 juta pound. > kalo perusahaan normal yg ngabisin 90% revenuenya untuk bayar gaji > pegawainya mah dah langsung disuruh ngajuin bangkrut ke bank tuh ma > stakeholdernya. > > > _frely_ > > > > > [rudy] Ketika itu memang terjadi kesalahan yang sangat fatal, klub-klub Italia sangat bergantung kepada penyokong dana utama seperti Cragnotti di Lazio, keluarga Tanzi di Parma, dan Ceccigori di Fiorentina. Bos2 itu sama sekali tidak memperhatikan neraca keuangan klub karena yang mereka gunakan memang uang sendiri. Dan ketika mereka bangkrut maka klub juga ikut bangkrut. Setelah kasus itu kemudian FIGC dan Lega Calcio membentuk sebuah badan pengawas keuangan klub-klub Italia yang dinamakan dengan "COVISOC". Badan ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa klub-klub Italia memiliki neraca keuangan yang sehat, sehat di sini bukan berarti kaya raya tapi yang dimaksud mereka memiliki neraca yang positif. Ibaratnya seseorang memiliki penghasilan 1jt/bln tapi pengeluarannya 800rb/bln tentu lebih sehat ketimbang orang dengan penghasilan 3jt/bln tapi pengeluarannya 3,5jt/bln. COVISOC memastikan kemandirian klub-klub Italia dan memastikan mereka tidak akan "besar pasak daripada tiang". Dan dengan adanya COVISOC, Berlusconi dan Moratti memiliki uang sebanyak apapun tidak akan bisa "jor-joran" di pasar transfer karena memang Milan dan Inter secara keuangan tidak memungkinkan. Semua transfer harus dilaporkan ke badan pengawas ini, kecuali mereka memalsukannya, beli 40 juta laporannya 20 juta. Badan ini cukup berhasil, makanya Galliani juga tidak pernah berani menyerang secara langsung COVISOC atas segala pembatasan yang mereka lakukan. Mungkin dia banyak mengeluh supaya diberikan kelonggaran untuk klub-klub tertentu yang memang memiliki penyokong dana yang kuat seperti Milan dan Inter. Keberhasilan COVISOC bisa dilihat di AS Roma, ketika Italpetrol milik keluarga Sensi yang "dulu" menjadi penyokong utama dana AS Roma mengalami kebangkrutan, AS Roma tetap bisa bertahan...bahkan saham mereka di bursa sama sekali tidak terpengaruh karena Italpetrol sekarang hanya berkedudukan sebagai pemilik mayoritas saham AS Roma(bukan penyokong utama dana klub). Bayangkan kalau kebangkrutan ini terjadi ketika mereka memiliki Batistuta, Emerson, Samuel, Cafu yang datang atas campur tangan "uang" Sensi dan dengan gaji mahal yang mungkin juga dari uang "Sensi". AS Roma akan serta merta menjual pemain2-nya tentunya dengan harga yang murah karena kepepet, istilahnya sudah jatuh tertimpa tangga. Saham mereka juga pasti akan rontok dan akhirnya dinyatakan pailit serta dilempar ke Serie C seperti Fio :D Tapi terus terang gw masih ga yakin klub-klub Inggris seperti Chelsea atau Liverpool adalah klub yang tidak besar pasak daripada tiang seperti yang aku sebutkan tadi. Pendapatan Liverpool 198.9m Euro, sedangkan AS Roma 157.6m Euro. Dengan selisih ga nyampai 50m Euro pengeluaran mereka gw yakin sangat jauh(sorry ini logika sederhana gw tanpa dasar). Sekarang tinggal kita lihat, apakah Italia akan bertahan seperti ini dengan keluh kesah dari patron2 seperti Galliani(sebenernya cuma Galliani aja sich yang ngeluh :D) atau klub2 Inggris dan Spanyol yang akhirnya juga cape ga ada habisnya jor2an duit. CMIIW Ciao [/rudy] -- Cavaliere AC Milan atau tidak sama sekal! [Non-text portions of this message have been removed]
