*LONDON, KOMPAS.com* - Pelatih Inter Milan, Jose Mourinho (JM), beberapa
kali mengungkapkan keinginannya kembali melatih klub Premier League. Hal ini
ternyata berkaitan dengan perbedaan besar antara kultur sepak bola Italia
dan Inggris. Apakah itu? Berikut petikan wawancara Mourinho dengan Jamie
Redknapp (JR) dalam program *Football's Next Star* di *Sky1 HD*.

*JR:* Anda menyukai pemain Inggris. Anda bekerja dengan John terry. Saya
tahu, Anda sangat dekat dengan Frank Lampard. Apa yang Anda pikir menjadi
perbedaan besar antara pesepak bola Italia dan Inggris, dalam hal
mentalitas?

*JM: *Sulit mengatakannya karena saya tak hanya memiliki pemain Italia. Saya
memiliki pemain dari 10-12 negara berbeda.

Saya kira, lebih mudah menjadi manajer di Inggris. Anda memiliki konsep
berbeda soal siapa bosnya, apa arti bos. Dengan prinsip itu saja, keadaan
sudah jauh lebih mudah.

Di sini (Italia), Anda harus berada di atas, atas, atas dalam hal
pengendalian emosi, karena pemain lebih bebas mengekspresikan diri mereka,
menyatakan pendapat. Sesuatu yang saya lakukan dengan orang-orang saya di
Chelsea adalah untuk membuat mereka lebih berpartisipasi dalam semua proses.
Saya tak suka menjadi pemimpin yang bekerja sendirian. Saya ingin orang
terlibat dalam projek saya.

Di Chelsea, saya harus berjuang untuk itu dan membutuhkan beberapa waktu
untuk membuat orang bergabung dengan projek saya. Setelah itu, Anda
mendapatkan pemain di tangan, Anda punya pemain di kantong. Setiap orang
menjadi satu keluarga dan setiap orang mengekspresikan diri mereka sendiri.
Di sini (Italia), orang merasa lebih bebas. Ini adalah cara hidup yang
berbeda.

Anda dulu merupakan pemain top Jamie. Anda tahu bahwa di Inggris, intensitas
pertandingan lebih tinggi dari negeri lain. Namun, di waktu yang sama, di
sini lebih sulit untuk bermain bola. Setiap tim terorganisasi secara jauh
lebih baik dari segi taktik.

Saya suka mengatakan bahwa tim besar di Inggris berada pada level yang sama
baiknya dengan tim di Italia atau bahkan lebih baik. Dalam beberapa tahun
terakhir, hasil Liga Champions menunjukkan bahwa tim top Italia tidak berada
di level tim top Inggris. Namun, ketika Anda menoleh ke realitas liga, tim
kecil Italia lebih baik dari tim kecil di Inggris.

Jauh lebih sulit bagi tim besar Italia untuk memenangi laga ketimbang di
Inggris. Pasalnya, dari segi taktik, orang tak khawatir tentang kualitas
pertunjukkan. Orang hanya mengkhawatirkan soal hasil. Bila sebuah tim yang
datang ke Stamford Bridge, misalnya, kalah 0-1 dan tak melepas tembakan ke
gawang Petr Cech, orang akan mengkritik: tak ada kualitas dan tak ada ambisi
dalam pertandingan itu.

"Bila sebuah tim datang ke San Siro, kalah 0-1 dan tak menembak bola ke
gawang kami dan mereka memarkir dua bus, mereka tidak akan dikritik untuk
itu. Di sini, Anda hanya bermain untuk hasil. Bagi tim besar, kemenangan
menjadi lebih sulit.

*JR:* Saran apa yang Anda berikan kepada pemain muda yang bermimpi menjadi
pesepak bola profesional?

........... digunting di sini ...............


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke