Piala Dunia dan Adu Pinalti

 

“Kami
hanya satu kali mempraktikkan tendangan adu pinalti (pada sesi latihan), jadi
semua orang bisa mengatakan kami tidak siap (apabila harus menghadapi adu
pinalti)” kata Gerardo Martino, pelatih Paraguay. 

 

Anda
bisa percaya atau tidak dengan ucapan Martino tersebut. Namun, fakta di
lapangan membuktikan Paraguay
jauh lebih siap dibandingkan lawannya, Jepang. Pada drama adu pinalti di babak
16 besar Piala Dunia 2010, lima eksekutor Paraguay
sukses menjebol gawang Jepang. Sedangkan Jepang hanya tiga kali. Paraguay
untuk kali pertama mencatat sejarah lolos ke babak perempat final di ajang
Piala Dunia.

 

Adu
pinalti mulai diperkenalkan di ajang Piala Dunia pada 1982. Drama adu pinalti
pertama terjadi di babak semifinal ketika Jerman (Barat) menghadapi Perancis.
Jerman tampil sebagai pemenang dan lolos ke final. Sejak itu, paling sedikit
tiga partai di ajang Piala Dunia selalu diwarnai drama adu pinalti. Piala Dunia
1990 dan 2006 bahkan mencatat empat pertandingan yang harus diselesaikan lewat
adu pinalti.

 

Bukan
itu saja, dua final Piala Dunia juga harus ditentukan melalui tos-tosan.
Pertama, pada 1994 ketika tendangan penyerang Italia Roberto Baggio melambung
jauh di atas mistar gawang dan membawa Brasil meraih gelar juara Piala Dunia
keempat. Pada 2006, Italia kembali terlibat drama adu pinalti melawan Perancis.
Namun, kali ini tim Azzuri keluar sebagai juara setelah Fabio Grosso sukses
menjalankan tugas sebagai eksekutor terakhir.

 

Sejarah
mencatat, Jerman menjadi tim yang tidak pernah kalah dalam melakoni drama adu
pinalti. Dari empat kali percobaan, Jerman selalu tampil sebagai pemenang.
Bahkan, hanya seorang pemain Jerman yang gagal menjalankan tugas sebagai algojo
dari titik putih yaitu Uli Stielike pada Piala Dunia 1982. Setelah itu, semua
pemain Jerman tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas sebagai eksekutor adu
pinalti.

 

Empat
tahun lalu, Jerman menghancurkan Argentina 4-2 melalui adu
tos-tosan. Empat pemain Jerman yaitu Oliver Neuville, Michael Ballack, Lukas
Podolski dan Tim Borrowski sukses menjebol gawang Argentina yang dikawal Franco.
Kiper Jerman Jens Lehmann tampil sebagai pahlawan dengan dua kali memblok
tendangan pemain Argentina Roberto Ayala dan Esteban Cambiasso.

 

Setelah
pertandingan, Lehmann membagi rahasianya ke publik dalam memblok tendangan
pinalti pemain Argentina.
Ia mendapat informasi dari pelatih kiper Jerman tentang kebiasaan para pemain 
Argentina
dalam menendang pinalti. Informasi itu termasuk ke arah mana pemain yang
bersangkutan kerap mengarahkan bola ketika dipercaya menjadi eksekutor. 

 

Trauma dan Momok

 

Kegagalan
dalam mengeksekusi tendangan pinalti sudah pasti akan menimbulkan trauma bagi
sang pemain. Stuart Pearce contohnya. Bekas bek Inggris ini tidak akan pernah
melupakan pertandingan babak semifinal Piala Dunia 1990 di Turin. Ketika itu,
Inggris berhadapan dengan Jerman (Barat). Pearce dipercaya menjadi salah satu
eksekutor. Di tim nasional Inggris, Pearce merupakan pemain yang dipercaya
untuk mengambil tendangan bebas atau tendangan penjuru. Publik Inggris akan
selalu mencatat kegagalan Stuart Pearce dan juga Chris Waddle dalam
mengeksekusi pinalti pada pertandingan itu sebagai awal dari mimpi buruk The
Three Lions. Sejak kegagalan itu, Pearce sempat berjanji tidak akan lagi
mengambil tendangan pinalti apabila Inggris kembali harus melakoni drama adu
pinalti. Namun, Pearce menelan air ludahnya sendiri ketika Inggris bertemu
Spanyol di babak perempat final Piala Eropa 1996.

 

Pertandingan
itu harus diselesaikan melalui drama adu pinalti. Stuart Pearce dengan percaya
diri mengambil tendangan pinalti dan sukses mengecoh kiper Spanyol Andoni
Zubizaretta. Pearce langsung meluapkan kegembirannya. Fotografer di Inggris
menjadikan foto Stuart Pearce sebagai headline. Redemption, atau penebusan,
itulah sejumlah ungkapan yang menjadi judul dari foto tersebut. Pearce juga
mengaku lega bisa menebus kegagalannya dalam mengeksekusi pinalti pada 1990.
Pearce juga menjadi salah satu eksekutor Inggris ketika menghadapi Jerman di
babak semifinal. Pearce sukses menjalankan tugas namun Inggris kembali menjadi
pecundang.

 

Adu
pinalti memang menjadi momok yang menakutkan bagi tim nasional Inggris. Dari
tiga kali melakoni adu pinalti, Inggris selalu kalah. Setelah Jerman (Barat)
pada Piala Dunia 1990, giliran Argentina
yang memaksa Inggris angkat koper dari Piala Dunia 1998 lewat adu tos-tosan.
Pertandingan ini diwarnai kartu merah David Beckham, calon kapten The Three
Lions. Ia diusir keluar lapangan setelah mentackling Diego Simeone. Koran
Inggris menulis judul : Ten Brave Lions and One Stupid Boy. Publik di Inggris
menilai, The Three Lions bisa menaklukkan Argentina tanpa melalui adu pinalti
apabila Beckham tidak diganjar kartu merah.

 

Empat
tahun lalu, Inggris kembali harus mengubur impian jadi juara Piala Dunia
setelah dipermalukan Portugal
di babak perempat final. Ironisnya, hanya satu pemain Inggris yang sukses
menjadi algojo dari titik putih yaitu Owen Hargreaves. Sedangkan tendangan 
Frank Lampard, Steven
Gerard, dan Jamie Carragher mampu ditepis kiper Ricardo. Portugal menang 3-1 
atas Inggris.

 

Brasil, yang sudah lima kali menjadi juara dunia juga pernah
merasakan kejamnya drama adu pinalti. Pada Piala Dunia 1986, Brasil takluk di
tangan Perancis setelah tendangan Zico mampu ditepis kiper Joel Bats. Ini
menjadi kekalahan pertama Brasil melalui adu pinalti di Piala Dunia. Pada dua
kesempatan berikutnya, Brasil mampu mengatasi tekanan psikologis adu pinalti.
Pada 1994, Brasil menjadi juara setelah menang atas Italia dan empat tahun
berikuktnya giliran Belanda yang ditaklukkan di babak 8 besar lewat tos-tosan.

 

Roberto
Baggio mengaku, kegagalan dalam mengeksekusi pinalti pada final Piala Dunia
1994 merupakan momen terburuk di sepanjang karirnya. Perasaan bersalah selalu
menggelayuti pikiran Baggio. Bahkan, Roberto berandai-andai, apabila dia bisa
menghapus kenangan di dalam otaknya, maka momen ketika Italia melawan Brasil di
Piala Dunia 1994 pasti akan menjadi pilihan pertama. 

 

Sejumlah
nama-nama besar di lapangan hijau juga sudah pernah merasakan gagal dalam
menjadi algojo adu pinalti. Pele Putih Zico gagal menjalankan tugasnya ketika
Brasil menghadapi Perancis di Piala Dunia 1986. Legenda hidup Perancis Michel
Platini juga gagal pada pertandingan tersebut. Empat tahun kemudian, Maradona
juga gagal mencetak gol dari titik putih ketika Argentina
harus menjalani drama adu pinalti melawan Yugoslavia. 

 

Faktor Psikologis

 

Sejak
pertama kali diperkenalkan pada Piala Dunia 1982, sudah 20 pertandingan yangb
harus diselesaikan lewat drama adu pinalti pada tujuh pergelaran Piala Dunia.
Berdasarkan catatan Kantor Berita REUTERS, 30 persen dari 186 tendangan pinalti
yang sudah dilakukan gagal menjebol gawang lawan. Jerman menjadi satu-satunya
negara yang tidak pernah kalah dalam adu pinalti dan 94 persen tendangan pemain
Jerman sukses menggetarkan gawang lawan.

 

Sedangkan
Inggris menjadi yang terburuk yaitu tiga kali kalah dari tiga kali
pertandingan. Tujuh dari 14 tendangan pinalti pemain Inggris gagal menjebol
gawang lawan. Matt Pain, peneliti psikologi sepakbola di Universitas 
Loughborough
di Inggris mengatakan, adu pinalti merupakan ujian mental untuk pemain dalam
keadaan di bawah tekanan. Pain juga menegaskan, adu pinalti bukanlah lotere
karena statistik sudah menunjukkan Jerman menjadi negara yang paling sukses dan
Inggris yang paling buruk.

 

Sejumlah
peneliti sudah melakukan ratusan jam penelitian tentang drama adu pinalti.
Kesimpulan sementara, 64 persen adu pinalti dimenangkan oleh tim yang melakukan
tendangan pinalti pertama kali. Hasil kesimpulan ini tepat apabila melihat drama
adu pinalti pertama di Piala Dunia 2010 antara Paraguay melawan Jepang. Paraguay
menjadi tim pertama yang mengambil tendangan pinalti.

 

Profesor
di Sekolah Ilmu Olahraga di Oslo Norwegia Geir Jordetmengungkapkan, adu pinalti
adalah seni dalam mengontrol tekanan. “Adu pinalti adalah pertandingan
psikologis yang sebenarnya,” kata Jordet.

 

Kata
Jordet, adu pinalti tidak ditentukan oleh teknik atau skill pemain tapi karena
kegagalan satu, dua atau tiga pemain yang tidak mampu mengatasi tekanan.  Hasil 
penelitian Jordet juga menunjukkan pola
tendangan pinalti yang dilakukan oleh para pemain dari sejumlah negara.

 

Berdasarkan
penelitian Jordet, pemain dari Inggris, Spanyol, Italia dan Belanda kerap
menyandang status sebagai pemain bintang. Mereka menikmati kesuksesan di klub
serta popularitas di negeri sendiri. Ini menjadi tekanan tambahan bagi pemain
dari negara-negara tersebut dalam melakukan tendangan pinalti. Dari penelitan
yang dilakukan Jordet, pemain dari Inggris kerap melakukan tendangan pinalti
secara terburu-buru dibandingkan pemain lain. Ini menunjukkan hasrat besar dari
sang pemain untuk segera menuntaskan tugas sebagai algojo dalam adu pinalti.

 

Ini
berbeda dengan para pemain Jerman. Para pemain
Jerman selalu tenang dalam mengambil tendangan pinalti. Bahkan, kiper Jens
Lehman usai Piala dunia 2006 lalu mengungkapkan, ia mempunyai rekaman video
lebih dari 10 ribu tendangan pinalti yang dilakukan pemain dari sejumlah
negara. Ia mempelajari rekaman video tersebut untuk mengetahui ke arah mana
pemain kerap mengarahkan bola dalam adu pinalti.

 

“Anda
dapat melatih skill untuk memberi kesempatan lebih besar dalam mengatasi
tekanan saat mengambil tendangan dalam adu pinalti” kata Matt Pain, peneliti
psikologi sepakbola di Universitas Loughborough di Inggris.

 

Tidak
tertutup kemungkinan, drama adu pinalti akan dilakomo delapan tim yang masih
tersisa di babak perempat final Piala Dunia 2010. Empat dari lima tim yang 
paling dijagokan untuk jadi
juara di Piala Dunia 2010 sudah pernah merasakan pahitnya kekalahan dari drama
adu pinalti. Brasil kalah adu pinalti pada Piala Dunia 1986. Belanda juga gagal
dalam adu pinalti pada Piala Dunia 1998. Spanyol dipermalukan Korea Selatan
pada Piala Dunia 2002. Argentina
tersingkir dari Piala Dunia 2006 setelah kalah adu pinalti dari Jerman. Hanya
Jerman yang tidak pernah kalah dalam adu pinalti. Bukan tidak mungkin,
penentuan juara pada Piala Dunia Afrika Selatan juga akan ditentukan lewat
drama adu pinalti.

 

Italia
menjadi negara terakhir yang merasakan gelar juara Piala Dunia lewat drama adu
pinalti pada 2006 lalu. Kegagalan Roberto Baggio menjadi eksekutor pada final
Piala Dunia 1994 kemungkinan besar menjadi inspirasi pemain Italia saat
mengalahkan Perancis di final. Gagal pada Piala Dunia 1994, Baggio tidak takut
untuk menjadi eksekutor saat Italia harus menjalani adu pinalti melawan
Perancis di Piala Dunia 1998. Baggio sukses namun Italia  tetap tersingkir.

 

Saya
tidak pernah lari dari tangung jawab, “kata Baggio,” hanya mereka yang
mempunyai keberanian untuk mengambil tendangan pinalti pasti akan merindukan
(untuk kembali mengambil tendangan pinalti).

 

 

Sumber : REUTERS, BBC

 

By
: Doddy Rosadi, jurnalis Kantor Berita Radio 68H (KBR68H)

 

 

 

 

 






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke