Baik-baik Masih di tempat yang dulu kok Masih belum mood untuk nonton bareng, kesedihan atas kekalahan Inggris masih belum hilang, ha.ha..ha.. Mau nonbar apa ? Argentina Jerman atau Brasil Belanda ?
--- Pada Kam, 1/7/10, Arif Ikram <[email protected]> menulis: Dari: Arif Ikram <[email protected]> Judul: Re: [BolaML] World Cup and Pinalty Shootout Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 1 Juli, 2010, 3:14 AM Welkambek brader Lama tak basuo Masih di radio kah? Besok kita mau nobar, lg nunggu keputusan tuan david utuk kepastian tempatnya Ikut dong -- <3 <3 <3 -- -----Original Message----- From: doddy rosadi <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Thu, 1 Jul 2010 14:41:19 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Cc: <[email protected]>; <[email protected]> Subject: [BolaML] World Cup and Pinalty Shootout Piala Dunia dan Adu Pinalti “Kami hanya satu kali mempraktikkan tendangan adu pinalti (pada sesi latihan), jadi semua orang bisa mengatakan kami tidak siap (apabila harus menghadapi adu pinalti)” kata Gerardo Martino, pelatih Paraguay. Anda bisa percaya atau tidak dengan ucapan Martino tersebut. Namun, fakta di lapangan membuktikan Paraguay jauh lebih siap dibandingkan lawannya, Jepang. Pada drama adu pinalti di babak 16 besar Piala Dunia 2010, lima eksekutor Paraguay sukses menjebol gawang Jepang. Sedangkan Jepang hanya tiga kali. Paraguay untuk kali pertama mencatat sejarah lolos ke babak perempat final di ajang Piala Dunia. Adu pinalti mulai diperkenalkan di ajang Piala Dunia pada 1982. Drama adu pinalti pertama terjadi di babak semifinal ketika Jerman (Barat) menghadapi Perancis. Jerman tampil sebagai pemenang dan lolos ke final. Sejak itu, paling sedikit tiga partai di ajang Piala Dunia selalu diwarnai drama adu pinalti. Piala Dunia 1990 dan 2006 bahkan mencatat empat pertandingan yang harus diselesaikan lewat adu pinalti. Bukan itu saja, dua final Piala Dunia juga harus ditentukan melalui tos-tosan. Pertama, pada 1994 ketika tendangan penyerang Italia Roberto Baggio melambung jauh di atas mistar gawang dan membawa Brasil meraih gelar juara Piala Dunia keempat. Pada 2006, Italia kembali terlibat drama adu pinalti melawan Perancis. Namun, kali ini tim Azzuri keluar sebagai juara setelah Fabio Grosso sukses menjalankan tugas sebagai eksekutor terakhir. Sejarah mencatat, Jerman menjadi tim yang tidak pernah kalah dalam melakoni drama adu pinalti. Dari empat kali percobaan, Jerman selalu tampil sebagai pemenang. Bahkan, hanya seorang pemain Jerman yang gagal menjalankan tugas sebagai algojo dari titik putih yaitu Uli Stielike pada Piala Dunia 1982. Setelah itu, semua pemain Jerman tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas sebagai eksekutor adu pinalti. Empat tahun lalu, Jerman menghancurkan Argentina 4-2 melalui adu tos-tosan. Empat pemain Jerman yaitu Oliver Neuville, Michael Ballack, Lukas Podolski dan Tim Borrowski sukses menjebol gawang Argentina yang dikawal Franco. Kiper Jerman Jens Lehmann tampil sebagai pahlawan dengan dua kali memblok tendangan pemain Argentina Roberto Ayala dan Esteban Cambiasso. Setelah pertandingan, Lehmann membagi rahasianya ke publik dalam memblok tendangan pinalti pemain Argentina. Ia mendapat informasi dari pelatih kiper Jerman tentang kebiasaan para pemain Argentina dalam menendang pinalti. Informasi itu termasuk ke arah mana pemain yang bersangkutan kerap mengarahkan bola ketika dipercaya menjadi eksekutor. Trauma dan Momok Kegagalan dalam mengeksekusi tendangan pinalti sudah pasti akan menimbulkan trauma bagi sang pemain. Stuart Pearce contohnya. Bekas bek Inggris ini tidak akan pernah melupakan pertandingan babak semifinal Piala Dunia 1990 di Turin. Ketika itu, Inggris berhadapan dengan Jerman (Barat). Pearce dipercaya menjadi salah satu eksekutor. Di tim nasional Inggris, Pearce merupakan pemain yang dipercaya untuk mengambil tendangan bebas atau tendangan penjuru. Publik Inggris akan selalu mencatat kegagalan Stuart Pearce dan juga Chris Waddle dalam mengeksekusi pinalti pada pertandingan itu sebagai awal dari mimpi buruk The Three Lions. Sejak kegagalan itu, Pearce sempat berjanji tidak akan lagi mengambil tendangan pinalti apabila Inggris kembali harus melakoni drama adu pinalti. Namun, Pearce menelan air ludahnya sendiri ketika Inggris bertemu Spanyol di babak perempat final Piala Eropa 1996. Pertandingan itu harus diselesaikan melalui drama adu pinalti. Stuart Pearce dengan percaya diri mengambil tendangan pinalti dan sukses mengecoh kiper Spanyol Andoni Zubizaretta. Pearce langsung meluapkan kegembirannya. Fotografer di Inggris menjadikan foto Stuart Pearce sebagai headline. Redemption, atau penebusan, itulah sejumlah ungkapan yang menjadi judul dari foto tersebut. Pearce juga mengaku lega bisa menebus kegagalannya dalam mengeksekusi pinalti pada 1990. Pearce juga menjadi salah satu eksekutor Inggris ketika menghadapi Jerman di babak semifinal. Pearce sukses menjalankan tugas namun Inggris kembali menjadi pecundang. Adu pinalti memang menjadi momok yang menakutkan bagi tim nasional Inggris. Dari tiga kali melakoni adu pinalti, Inggris selalu kalah. Setelah Jerman (Barat) pada Piala Dunia 1990, giliran Argentina yang memaksa Inggris angkat koper dari Piala Dunia 1998 lewat adu tos-tosan. Pertandingan ini diwarnai kartu merah David Beckham, calon kapten The Three Lions. Ia diusir keluar lapangan setelah mentackling Diego Simeone. Koran Inggris menulis judul : Ten Brave Lions and One Stupid Boy. Publik di Inggris menilai, The Three Lions bisa menaklukkan Argentina tanpa melalui adu pinalti apabila Beckham tidak diganjar kartu merah. Empat tahun lalu, Inggris kembali harus mengubur impian jadi juara Piala Dunia setelah dipermalukan Portugal di babak perempat final. Ironisnya, hanya satu pemain Inggris yang sukses menjadi algojo dari titik putih yaitu Owen Hargreaves. Sedangkan tendangan Frank Lampard, Steven Gerard, dan Jamie Carragher mampu ditepis kiper Ricardo. Portugal menang 3-1 atas Inggris. Brasil, yang sudah lima kali menjadi juara dunia juga pernah merasakan kejamnya drama adu pinalti. Pada Piala Dunia 1986, Brasil takluk di tangan Perancis setelah tendangan Zico mampu ditepis kiper Joel Bats. Ini menjadi kekalahan pertama Brasil melalui adu pinalti di Piala Dunia. Pada dua kesempatan berikutnya, Brasil mampu mengatasi tekanan psikologis adu pinalti. Pada 1994, Brasil menjadi juara setelah menang atas Italia dan empat tahun berikuktnya giliran Belanda yang ditaklukkan di babak 8 besar lewat tos-tosan. Roberto Baggio mengaku, kegagalan dalam mengeksekusi pinalti pada final Piala Dunia 1994 merupakan momen terburuk di sepanjang karirnya. Perasaan bersalah selalu menggelayuti pikiran Baggio. Bahkan, Roberto berandai-andai, apabila dia bisa menghapus kenangan di dalam otaknya, maka momen ketika Italia melawan Brasil di Piala Dunia 1994 pasti akan menjadi pilihan pertama. Sejumlah nama-nama besar di lapangan hijau juga sudah pernah merasakan gagal dalam menjadi algojo adu pinalti. Pele Putih Zico gagal menjalankan tugasnya ketika Brasil menghadapi Perancis di Piala Dunia 1986. Legenda hidup Perancis Michel Platini juga gagal pada pertandingan tersebut. Empat tahun kemudian, Maradona juga gagal mencetak gol dari titik putih ketika Argentina harus menjalani drama adu pinalti melawan Yugoslavia. Faktor Psikologis Sejak pertama kali diperkenalkan pada Piala Dunia 1982, sudah 20 pertandingan yangb harus diselesaikan lewat drama adu pinalti pada tujuh pergelaran Piala Dunia. Berdasarkan catatan Kantor Berita REUTERS, 30 persen dari 186 tendangan pinalti yang sudah dilakukan gagal menjebol gawang lawan. Jerman menjadi satu-satunya negara yang tidak pernah kalah dalam adu pinalti dan 94 persen tendangan pemain Jerman sukses menggetarkan gawang lawan. Sedangkan Inggris menjadi yang terburuk yaitu tiga kali kalah dari tiga kali pertandingan. Tujuh dari 14 tendangan pinalti pemain Inggris gagal menjebol gawang lawan. Matt Pain, peneliti psikologi sepakbola di Universitas Loughborough di Inggris mengatakan, adu pinalti merupakan ujian mental untuk pemain dalam keadaan di bawah tekanan. Pain juga menegaskan, adu pinalti bukanlah lotere karena statistik sudah menunjukkan Jerman menjadi negara yang paling sukses dan Inggris yang paling buruk. Sejumlah peneliti sudah melakukan ratusan jam penelitian tentang drama adu pinalti. Kesimpulan sementara, 64 persen adu pinalti dimenangkan oleh tim yang melakukan tendangan pinalti pertama kali. Hasil kesimpulan ini tepat apabila melihat drama adu pinalti pertama di Piala Dunia 2010 antara Paraguay melawan Jepang. Paraguay menjadi tim pertama yang mengambil tendangan pinalti. Profesor di Sekolah Ilmu Olahraga di Oslo Norwegia Geir Jordetmengungkapkan, adu pinalti adalah seni dalam mengontrol tekanan. “Adu pinalti adalah pertandingan psikologis yang sebenarnya,” kata Jordet. Kata Jordet, adu pinalti tidak ditentukan oleh teknik atau skill pemain tapi karena kegagalan satu, dua atau tiga pemain yang tidak mampu mengatasi tekanan. Hasil penelitian Jordet juga menunjukkan pola tendangan pinalti yang dilakukan oleh para pemain dari sejumlah negara. Berdasarkan penelitian Jordet, pemain dari Inggris, Spanyol, Italia dan Belanda kerap menyandang status sebagai pemain bintang. Mereka menikmati kesuksesan di klub serta popularitas di negeri sendiri. Ini menjadi tekanan tambahan bagi pemain dari negara-negara tersebut dalam melakukan tendangan pinalti. Dari penelitan yang dilakukan Jordet, pemain dari Inggris kerap melakukan tendangan pinalti secara terburu-buru dibandingkan pemain lain. Ini menunjukkan hasrat besar dari sang pemain untuk segera menuntaskan tugas sebagai algojo dalam adu pinalti. Ini berbeda dengan para pemain Jerman. Para pemain Jerman selalu tenang dalam mengambil tendangan pinalti. Bahkan, kiper Jens Lehman usai Piala dunia 2006 lalu mengungkapkan, ia mempunyai rekaman video lebih dari 10 ribu tendangan pinalti yang dilakukan pemain dari sejumlah negara. Ia mempelajari rekaman video tersebut untuk mengetahui ke arah mana pemain kerap mengarahkan bola dalam adu pinalti. “Anda dapat melatih skill untuk memberi kesempatan lebih besar dalam mengatasi tekanan saat mengambil tendangan dalam adu pinalti” kata Matt Pain, peneliti psikologi sepakbola di Universitas Loughborough di Inggris. Tidak tertutup kemungkinan, drama adu pinalti akan dilakomo delapan tim yang masih tersisa di babak perempat final Piala Dunia 2010. Empat dari lima tim yang paling dijagokan untuk jadi juara di Piala Dunia 2010 sudah pernah merasakan pahitnya kekalahan dari drama adu pinalti. Brasil kalah adu pinalti pada Piala Dunia 1986. Belanda juga gagal dalam adu pinalti pada Piala Dunia 1998. Spanyol dipermalukan Korea Selatan pada Piala Dunia 2002. Argentina tersingkir dari Piala Dunia 2006 setelah kalah adu pinalti dari Jerman. Hanya Jerman yang tidak pernah kalah dalam adu pinalti. Bukan tidak mungkin, penentuan juara pada Piala Dunia Afrika Selatan juga akan ditentukan lewat drama adu pinalti. Italia menjadi negara terakhir yang merasakan gelar juara Piala Dunia lewat drama adu pinalti pada 2006 lalu. Kegagalan Roberto Baggio menjadi eksekutor pada final Piala Dunia 1994 kemungkinan besar menjadi inspirasi pemain Italia saat mengalahkan Perancis di final. Gagal pada Piala Dunia 1994, Baggio tidak takut untuk menjadi eksekutor saat Italia harus menjalani adu pinalti melawan Perancis di Piala Dunia 1998. Baggio sukses namun Italia tetap tersingkir. Saya tidak pernah lari dari tangung jawab, “kata Baggio,” hanya mereka yang mempunyai keberanian untuk mengambil tendangan pinalti pasti akan merindukan (untuk kembali mengambil tendangan pinalti). Sumber : REUTERS, BBC By : Doddy Rosadi, jurnalis Kantor Berita Radio 68H (KBR68H) [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
