Hahaaa bener
Taufik digebukin chong wei tuh di senayan

Tp anyway malaysia emang lebih punya keterikatan historik dan emosi dgn afsel
Sama2 negara commonwealth
Hubungan budaya dan bisnisnya lebih jalan
Mahathir Muhammad adalah sahabat dekat Nelson Mandela
Malaysia airlines terbang langsung ke afsel
Last but least, tenaga perminyakan lokal afsel rata2 adalah didikan para expert 
dari Petronas

Hidup malaysia!!!!

-- <3 <3 <3  --

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Tue, 6 Jul 2010 04:57:07 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [BolaML] Sedihnya Selalu Disapa Malaysia - dari Afsel

Setuju dgn wak Arif. Bahkan utk urusan badminton aja kita udah ketinggalan nih. 

Powered by Telkomsel BlackBerry®



-----Original Message-----

From: "Arif Ikram" <[email protected]>

Sender: [email protected]

Date: Tue, 6 Jul 2010 04:55:11 

To: <[email protected]>

Reply-To: [email protected]

Subject: Re: [BolaML] Sedihnya Selalu Disapa Malaysia - dari Afsel



Kenapa mesti sedih sih!?

Emang jelas2 malaysia lebih maju wajarlah kalok lebih ngetop



-- <3 <3 <3  --



-----Original Message-----

From: "xmen.football" <[email protected]>

Sender: [email protected]

Date: Tue, 6 Jul 2010 11:42:41 

To: <[email protected]>

Reply-To: [email protected]

Subject: [BolaML] Sedihnya Selalu Disapa Malaysia - dari Afsel



hiks.. sedihnya jadi orang indonesia di afsel.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Copied without permission from

http://worldcup.kompas.com/read/2010/06/28/13161555/sedihnya.selalu.disapa.malaysia



Senin, 28 Juni 2010 | 13:16 WIB

Sedihnya Selalu Disapa Malaysia

Laporan Wartawan KOMPAS.com, Hery Prasetyo dari Afrika Selatan



JOHANNESBURG, KOMPAS.com —



 "*Hi, Malaysia! Come on, buy something and spend your money*!'

Sapaan itu hampir selalu muncul setiap beberapa wartawan Indonesia

peliput Piala Dunia 2010 memasuki kawasan perdagangan atau pasar.

Artinya, "Hai, Malaysia! Mari, silakan membeli sesuatu dan belanjakan

uang Anda!"



Demikian pula jika sedang berada di stadion untuk meliput

pertandingan, atau berada di tengah temu pers. Orang Indonesia sering

disapa Malaysia. Bahkan, polisi Afrika Selatan (Afsel) pun sering

mengira orang Indonesia sebagai Malaysia.



Rasanya menjadi sedih. Yang lebih menyedihkan, ketika dijelaskan bahwa

kami dari Indonesia, sering kali mereka tak tahu. "Indonesia? Di mana

itu?"



Ketika berjalan di ring luar Stadion Free State, Bloemfontein, Minggu

(27/6/2010), sekelompok polisi menyapa. "Hai, Malaysia?"



Kami pun segera menjawab sebagai orang Indonesia. Salah seorang

polisi, Mashushu, kembali bertanya, "Indonesia? Dekatkah dengan Kuala

Lumpur? Sebelah mananya dengan Bangkok?"



Wajah seperti tertampar. Hati seperti teremas. Apalagi, polisi itu

mengira Indonesia negara kecil yang sulit dicari di peta. Maka, dengan

kesabaran yang dipaksakan dan kesedihan yang dipendam, kami buka peta

di *handphone*. Lalu kami tunjukkan letak geografis Indonesia.



"*Oh, big country. Is it Indonesia*?" kata polisi itu dengan kekagetan

yang tak dibuat-buat. Maksudnya, "Oh, negara besar. Benarkah ini

Indonesia?"



Pertanyaan yang menambah luka. Dunia ternyata masih banyak yang belum

kenal Indonesia. Ketika bilang Soekarno pun, generasi sekarang sudah

banyak yang lupa atau bahkan tak kenal. Ketika mengatakan Bali, hanya

orang-orang tertentu yang mengetahuinya.



Lalu, kami sering membanggakan batik, produk khas Indonesia. Apalagi,

batik menjadi pakaian kegemaran tokoh besar mereka, Nelson Mandela,

dan Indonesia sudah beberapa kali memberi hadiah batik kepadanya.

Ternyata, sebagain orang Afsel tak tahu itu namanya batik. Mereka

menyebutnya "Madiba's Shirt" alias pakaian Mandela. Madiba adalah nama

populer untuk menyebut Mandela. Di pasar pun, orang menyebut Madiba's

Shirt, bukan batik.



Dalam sebuah temu pers di Sandton Convention Center, Johannesburg,

seorang wartawan Afsel bersalaman dan mengajak kenalan. "Anda dari

Malaysia atau Thailand?" tanyanya.



Sekali lagi, kebangsaan dan harga diri tertampar. Lalu, seperti biasa

harus menjelaskan tentang Indonesia. Segala yang bisa dibanggakan

diceritakan, meski kadang lawan bicara seolah tak percaya.



Wartawan Afsel itu pun kembali pertanya, siapa tim yang Anda dukung di

Piala Dunia. Kami pun menunjuk tim sesuai selera karena kedekatan

lewat layar kaca.



"Tim Anda belum pernah bermain di Piala Dunia, ya?" tanyanya lagi.



*Urrrrrrrrrgh.*

..! Pertanyaan yang makin menyebalkan. Seolah, dia ingin membandingkan

timnya dengan Indonesia. Soal sepak bola, jelas-jelas kami mati kutu.

Tak ada yang bisa kami banggakan, kecuali pernah ikut Piala Dunia

1938. Itu pun, Indonesia masih dijajah Belanda dan memakai nama West

Indies, bukan "INDONESIA". Mau cerita tentang timnas Indonesia, kami

kesulitan menjelaskannya. Mau cerita soal PSSI, sudah malu sebelum

bercerita.



Seorang staf Adidas, Thomas, yang asal Belanda, dengan akrab menyapa.

Kami pun menjelaskan dari Indonesia. Dia lalu bertanya, tentu banyak

orang Belanda di Indonesia karena pernah dijajah negerinya.



Luka lama pun semakin terkorek, meski dia bertanya tanpa pretensi apa

pun. Lalu, kami pun balik bertanya apa yang dia tahu tentang

Indonesia.



"Oh, saya tahu banyak Indonesia dan ingin ke sana. Salah satu negara

terbesar di dunia. Tapi, anehnya di Belanda, banyak yang tak tahu

Indonesia itu negara besar. Mereka kira Indonesia negara kecil,"

kisahnya.



Pada 10 Juni, sehari menjelang Piala Dunia 2010 dibuka, KBRI

mengeluarkan atraksi khas Indonesia, pencak silat, dalam karnaval di

Pretoria. Ternyata, masih ada yang mengira itu kung fu dari China.

Padahal jelas, tim Indonesia membawa spanduk bertuliskan pencak silat

dan Indonesia dan membawa bendera Merah Putih.



Rupanya, Indonesia mungkin masih kurang berkiprah di dunia

internasional. Segi teknologi kita dianggap terbelakang. Olahraga tak

begitu berbicara, apalagi sepak bola. Segi kebudayaan kurang

promosinya. Segi pariwisata malah mulai kalah dari negara tetangga.

Negeri demokrasi masih belum teruji. Negeri bahari belum terlalu

dimengerti.



Herannya, orang justru lebih kenal negara tetangga. Hampir setengah

bulan di Afsel, entah sudah berapa kali disapa sebagai Malaysia. Sulit

menghitungnya.





------------------------------------



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.



==========================================================

Milis Tabloid BOLA

Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat 
[email protected]

Forum: http://fans.bolanews.com

==========================================================Yahoo! Groups Links









[Non-text portions of this message have been removed]




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke