Best regards,
Satria

------ Forwarded Message
From: Herry Munhanif <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 15 Sep 2006 00:13:33 -0700 (PDT)
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: FW: majalah hidayah dan pop, ternyata saudara kandung

HIDAYAH BUKAN SAUDARA TABLOID POP
Assalamu¹alaikum wr. Wb.
Semula saya agak kaget melihat email serta milis yang
isinya sangat menyudutkan majalah Hidayah, dimana saya
kerja di media tersebut. Bagaimana tidak, Hidayah yang
selama ini lekat dengan pembaca sebagai majalah yang
sejuk, membimbing orang untuk belajar agama, dicap
sebagai majalah yang mengusung jargon Islam Belatung,
majalah yang menyajikan cerita-cerita horor yang patut
dipertanyakan kebenarannya, majalah yang mengejar
profit besar dengan menghalalkan segala cara yakni
menjual nama agama meski dengan cerita-ceritra sampah
sampai majalah yang bersaudara dengan Tabloid Pop
(Tabloid Porno). 
Namun setelah saya cermati, informasi miring tersebut
tampaknya sekedar sensasi belaka, bualan semata yang
menjurus pada fitnah. Entah didasari apa sehingga
pelempar bola panas tersebut berani mengatakan sesuatu
yang sebenarnya sangat tidak diketahuinya, tidak
sesuai dengan fakta yang sesungguhnya serta pemahaman
yang serampangan. Apakah ada motif ingin menjatuhkan
citra Hidayah di depan khalayak melalui black campaign
(kampanye hitam) dengan seolah-olah mengatakan bahwa
apa yang ditulisnya benar-benar merupakan investigasi
yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik ataukah
ada motif-motif lainnya.
Maklumlah, menurut hasil riset NMR (Nielsen Media
Research) kuartal pertama 2006, di sembilan kota besar
tercatat majalah Hidayah adalah majalah yang paling
banyak dibaca (menempati rangking pertama) di antara
10 majalah lain, baru disusul majalah GADIS, BOBO,
ANEKA YESS!, KARTINI, ETNIX, SABILI, TEMPO, MISTERI
dan INTISARI. Dari sekitar 40 juta pembaca yang
disurvei NMR (usia 10 tahun ke atas), sekitar 4,9% di
antaranya memilih Hidayah sebagai bacaan mereka.
Pembaca Hidayah jauh melampaui pembaca majalah-majalah
lain, sementara peringkat kedua yaitu GADIS hanya
meraup 1,81%, dan majalah Intisari yang berada di
peringkat sepuluh meraup 0,64%   (lihat Majalah Cakram
Fokus edisi 6/2006).
Melihat perjalanan Hidayah yang baru berumur 5 tahun
namun hasilnya cukup fenomenal, maka tak mengherankan
hantaman melalui isu-isu murahan dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan, pun coba dihembuskan oleh
oknum-oknum yang sentimen terhadap Hidayah. Kata
orang, semakin di atas semakin kencang angin
bergoyang, mungkin ada benarnya. Kondisi itulah yang
kini dihadapi Hidayah.
Saya melihat, banyak hal yang sengaja dilencengkan dan
diplintar-plintir oleh pembawa informasi miring
tersebut dari fakta yang sesungguhnya.
Pertama, penulis (penebar informasi tak jelas
tersebut) kurang memahami isi majalah Hidayah. Sebab
bila ia paham betul, ia tidak akan menyimpulkan bahwa
Hidayah mengusung Islam Belatung. Ia ingin memberi
label itu karena melihat cover Hidayah yang
seram-seram dan ada keterkaitan dengan azab yang
diterima seseorang menjelang/sesudah meninggal dunia
karena amal perbuatan  buruknya sewaktu di dunia,
ditambah lagi dengan tayangan televisi yang marak
dengan sinetron dengan tema yang hampir serupa dengan
Hidayah. 
Padahal sejatinya, cerita yang dimaksudkan itu bagian
kecil dari seluruh isi majalah Hidayah. Porsi untuk
cerita-cerita yang baik (husnul khatimah) yang
sama-sama bisa diambil iktibarnya juga cukup banyak.
Belum lagi rubrik-rubrik lain yang sangat disenangi
pembaca. Seperti: Kisah Kitab (rujukannya pada
kitab-kitab klasik yang memuat kisah-kisah yang patut
direnungi), Kisah Qur¹an (kisah yang tidak asing lagi
yang diinukilkan dari ayat-ayat al-Qur¹an dan
kitab-kitab tafsir), profil dai (menampilkan dai-dai
yang sudah malang melintang di tanah air), tokoh-tokoh
Islam, Syiar (lembaga Islam yang lebih mengedepankan
pengembangan keislaman), serta artikel-artikel
keagamaan yang diminati banyak orang.
Dan sejak sinetron-sinetron yang hampir sama dengan
Hidayah menjamur di berbagai tayangan televisi yang
keluar pakem dari Hidayah, dengan penyajian dan
penggarapan yang justru bisa membuat citra kurang
baik, Hidayah Indonesia sudah sejak lama menarik diri
dari peredaran di televisi.
Dengan mengacu hal di atas, maka penilaian Hidayah
yang dipersepsikan Islam Belatung adalah penilaian
yang sangat cetek. Dan tampaknya sang penebar
informasi miring tersebut menyimpulkan berdasar
kekurangpahamannya terhadap Hidayah, ia hanya
mengetahui kulit luarnya saja tanpa memahami
isi-isinya. 
Kedua, rujukan yang digunakan sang penebar isu
tersebut layak dipertanyakan kebenarannya. Darimana
informasi didapat, benarkah dari salah seorang
reporter GATRA, ataukah hanya alasan yang digunakan
untuk menjustifikasi dugaannya. Saya menangkap bahwa
apa yang dituduhkan ini hanya berdasarkan ³katanya²
bukan dari investigasi yang benar-benar. Nah, jika
rujukan tersebut bersifat ³katanya² karena bukan
berasal dari rujukan primer, bagaimana mungkin orang
bisa mempercayai kebenaran tulisan tersebut. Dalam
ilmu mushtalahul hadits, sanadnya (penyampai berita)
mungkin tidak tsiqah (kurang bisa dipercaya) hingga
orang yang meriwayatkan pun (rawi) akhirnya
asal-asalan. Maka berita itu pun dianggap dhaif
(lemah), dan karena kedhaifannya, maka berita tersebut
tidak bisa dijadikan rujukan.
Oleh karena itu, orang patut curiga maksud si penulis
berita. Benarkah, mengada-ada atau ada maksud kurang
baik. Dalam etika jurnalistik, hal semacam ini tidak
bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.
Ketiga, ia benar-benar tidak tahu atau hanya
mengarang. Sebab Perusahaan yang menerbitkan majalah
Hidayah bukanlah PT VARIA POP NUSANTARA melainkan yang
benar adalah PT VARIAPOP GROUP. Sangat berbeda sekali.
Dan media-media yang berada di bawah naungan bendera
PT VARIAPOP GROUP adalah MAJALAH HIDAYAH (Sebuah
Intisari Islam), PARAS (Wanita Islam), MUSLIMAH (Trend
Remaja Islam), ANGGUN (Pengantin Islam), VARIASARI,
DIDIK (Anak Islam), CHEF (masakan) serta BERITA
INDONESIA yang khusus diedarkan di Malaysia. Jadi,
TABLOID POP tidak ada di dalamnya. Dengan kata lain,
jika seseorang menyandingkan atau bahkan menganggap
bahwa majalah HIDAYAH saudara sekandung dengan TABLOID
POP yang konon katanya media porno alias esek-esek,
maka penilaian tersebut SALAH BESAR dan sangat tidak
berdasar. 
Keempat, Pak Kyai Ali Yafie tentu bisa menilai tentang
isi dan misi majalah HIDAYAH sebelum menjatuhkan
sepakat untuk menjadi penanggung jawab rubrik
Konsultasi Fiqh. Saya yakin, beliau tidak akan mau
mengasuh rubrik ini jika kenyataannya HIDAYAH punya
saudara media yang hanya mengumbar syahwat, TABLOID
POP. Kalau pun tahu belakangan, beliau akan segera
menyetop rubrik asuhannya. Tapi kenyataannya tidak
demikian kan. Beliau tetap mengawal majalah Hidayah
sebagai pengasuh rubrik konsultasi fiqh sudah lebih
dari 33 edisi (hampir 3 tahun). Dan alhamdulillah
hingga kini beliau masih setia menerima kedatangan
saya tiap sebulan sekali, saat hendak mewawancarainya
(dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari pembaca)
yang akan dimuat di rubrik konsultasi fiqh.
Demikianlah beberapa hal yang perlu diluruskan atas
berita yang tidak mengenakkan ini. Jika penasaran,
silahkan konfirmasi kebenarannya secara langsung ke
redaksi Hidayah. Kepada penebar berita miring ini,
kalau Anda punya nyali, silahkan datang ke kantor
Redaksi HIDAYAH atau Perusahaan yang menerbitkan
HIDAYAH. Kita bicara blak-blakan sejauhmana tuduhan
Anda benar. 
Wassalamu¹alaikum wr. wb
Herry M (staf redaksi HIDAYAH)


-----Original Message-----
 
MAJALAH HIDAYAH DAN POP,TERNYATA SAUDARA KANDUNG

Saya sangat khawatir dengan perkembangan "Islam Belatung" yang cukup pesat
sekarang ini. Yang saya maksud dengan "Islam Belatung" adalah Islam yang
digambarkan melalui cerita teror-horor seperti "belatung keluar dari perut
si fulan karena melakukan dosa anu" atau "kuburan tak mau menerima jasad si
fulan karena dosa anu" dan cerita2 semacamnya. Maaf jika istilah saya untuk
menggambarkan 'Islam' yang disampaikan dengan cara itu cukup kasar, sebab
saya kira cerita2 demikian sesungguhnya dusta dan hanya menodai kesucian dan
kemurnian Islam yang "sejati". Cerita2 itu sekadar sampah, yang karena
ketidaktahuan umat Islam, kemudian menjadi seolah-olah kisah agung yang
wajib diketahui semua muslim yang saleh..

Sekitar dua-tiga tahun lalu, saya masih ingat persis seorang teman yang juga
alumni HMI Bogor pernah bercerita kepada saya. Dia waktu itu reporter
majalah Gatra dan sedang ditugaskan untuk menginvestigasi majalah
Hidayah-Intisari Islam, sebab majalah tsb dianggap fenomenal. Dalam arti,
oplag-nya besar meskipun usianya relatif baru beberapa tahun.

Ketika datang ke kantor majalah Hidayah, ia sempat kebingungan karena tempat
yang didatangi ternyata kantor tabloid Pop, tabloid porno. Hampir balik lagi
karena menyangka salah alamat, ia tanya orang2 di tempat itu. Ealah...
ternyata kantor Hidayah letaknya juga di tempat yang sama. Ia penasaran,
mengapa tabloid dari 'aliran' berbeda bisa menempati kantor yang sama?
Selidik punya selidik, ternyata penerbit keduanya sama, yaitu PT Varia Pop
Nusantara.

Setelah mendengar cerita dia, saya cek dengan melihat nama penerbit pada
majalah dan tabloid tsb. Astaghfirullah, ternyata sama... PT Varia Pop
Nusantara.. Silakan teman2 juga cek langsung.
Teman saya juga sempat bertanya kepada pimred Hidayah waktu itu, apakah
 cerita yang ditampilkan dalam Hidayah benar adanya. Dijawab, bahwa cerita2
tsb diperoleh reporter Hidayah dari masyarakat. Benar tidaknya wallahu
a'lam!

Kesimpulan saya:
1. Karena penerbitnya sama, sebenarnya tujuan Hidayah dan Pop juga sama,
yakni, mencari untung sebesar2nya. Bedanya, Pop membidik pasar pria2 mesum,
sedangkan Hidayah mentargetkan pasar kaum muslim kebanyakan. Saya tidak tahu
seberapa besar jumlah pria mesum yang suka Pop. Tetapi, jumlah kaum muslim
yang bisa dipikat dengan cerita2 horor yang ditampilkan Hidayah, saya yakin
sangat banyak. Terbukti, Hidayah dibeli banyak orang.
2. Strategi yang digunakan penerbit tsb adalah "mengalalkan segala cara".
Porno atau 'Islami', selama itu menguntungkan, sikat teruss...
3. Ada kemungkinan, keuntungan dari Hidayah digunakan untuk mensubsidi Pop.
(Pop butuh subsidi karena kalah bersaing dengan media porno sejenis, menurut
info seorang teman yang lain). Jadi kalau kita beli Hidayah, sama saja
mensupport Pop.
4.Asumsi saya, siapapun di balik majalah Pop adalah manusia bejat moral.
Tidak logis jika manusia semacam itu, melalui majalah Hidayah-nya, punya
niat baik untuk mendakwahkan Islam yang benar.
5.Majalah Hidayah adalah majalah tipu2 dan menyesatkan umat Islam. Demikian
pula majalah sejenis yang akhir2 ini bermunculan. Saya bertanya-tanya,
apakah kyai2 kita tidak tahu hal ini? Dalam rubrik konsultasi majalah
Hidayah, salah satu pengisinya adalah Kyai Ali Yafie, kyai sepuh yang tak
diragukan lagi kualitas keilmuannya terutama dalam bidang ilmu fiqih.
(Dalam versi Hidayah sekarang, juga ada Ust Arifin Ilham ulama2 lain yang
cukup terkenal).
Saya tidak pernah mendengar Nabi mengajarkan Islam dengan cerita2 horor.
Kalaupun ada dalam Quran hanyalah cerita2 tentang neraka, tak lebih dari
itu. Islam yang disampaikan Nabi adalah Islam yang penuh hikmah dan
mauidzah.








 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bonsi97/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bonsi97/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke