wah telat luh bel , gw udah kasih tau ke yg lain tentang hidayah dan tab POP ini sodaraan. harusnya kalo ada milis kaya gini ,lu tambahin , kata kata bijakana gimana gitu / jangan langsung percaya atau apagitu dari lu sendiri ok bro , tapi bagus deh kalo emang ga sodaraan keep sending good stories
----- Original Message ----- From: "Satria Yuliafianto" <[EMAIL PROTECTED]> To: "Panasonic Friends moslems" <[EMAIL PROTECTED]>; "TI'97 Group" <[EMAIL PROTECTED]>; <[email protected]> Cc: "Herry Munhanif" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, September 15, 2006 14:57 Subject: [bonsi97] INFO= FW: majalah hidayah dan pop, ternyata saudara kandung (konfirmasi dari Hidayah) > > Best regards, > Satria > > ------ Forwarded Message > From: Herry Munhanif <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Fri, 15 Sep 2006 00:13:33 -0700 (PDT) > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: FW: majalah hidayah dan pop, ternyata saudara kandung > > HIDAYAH BUKAN SAUDARA TABLOID POP > Assalamu¹alaikum wr. Wb. > Semula saya agak kaget melihat email serta milis yang > isinya sangat menyudutkan majalah Hidayah, dimana saya > kerja di media tersebut. Bagaimana tidak, Hidayah yang > selama ini lekat dengan pembaca sebagai majalah yang > sejuk, membimbing orang untuk belajar agama, dicap > sebagai majalah yang mengusung jargon Islam Belatung, > majalah yang menyajikan cerita-cerita horor yang patut > dipertanyakan kebenarannya, majalah yang mengejar > profit besar dengan menghalalkan segala cara yakni > menjual nama agama meski dengan cerita-ceritra sampah > sampai majalah yang bersaudara dengan Tabloid Pop > (Tabloid Porno). > Namun setelah saya cermati, informasi miring tersebut > tampaknya sekedar sensasi belaka, bualan semata yang > menjurus pada fitnah. Entah didasari apa sehingga > pelempar bola panas tersebut berani mengatakan sesuatu > yang sebenarnya sangat tidak diketahuinya, tidak > sesuai dengan fakta yang sesungguhnya serta pemahaman > yang serampangan. Apakah ada motif ingin menjatuhkan > citra Hidayah di depan khalayak melalui black campaign > (kampanye hitam) dengan seolah-olah mengatakan bahwa > apa yang ditulisnya benar-benar merupakan investigasi > yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik ataukah > ada motif-motif lainnya. > Maklumlah, menurut hasil riset NMR (Nielsen Media > Research) kuartal pertama 2006, di sembilan kota besar > tercatat majalah Hidayah adalah majalah yang paling > banyak dibaca (menempati rangking pertama) di antara > 10 majalah lain, baru disusul majalah GADIS, BOBO, > ANEKA YESS!, KARTINI, ETNIX, SABILI, TEMPO, MISTERI > dan INTISARI. Dari sekitar 40 juta pembaca yang > disurvei NMR (usia 10 tahun ke atas), sekitar 4,9% di > antaranya memilih Hidayah sebagai bacaan mereka. > Pembaca Hidayah jauh melampaui pembaca majalah-majalah > lain, sementara peringkat kedua yaitu GADIS hanya > meraup 1,81%, dan majalah Intisari yang berada di > peringkat sepuluh meraup 0,64% (lihat Majalah Cakram > Fokus edisi 6/2006). > Melihat perjalanan Hidayah yang baru berumur 5 tahun > namun hasilnya cukup fenomenal, maka tak mengherankan > hantaman melalui isu-isu murahan dan tidak dapat > dipertanggungjawabkan, pun coba dihembuskan oleh > oknum-oknum yang sentimen terhadap Hidayah. Kata > orang, semakin di atas semakin kencang angin > bergoyang, mungkin ada benarnya. Kondisi itulah yang > kini dihadapi Hidayah. > Saya melihat, banyak hal yang sengaja dilencengkan dan > diplintar-plintir oleh pembawa informasi miring > tersebut dari fakta yang sesungguhnya. > Pertama, penulis (penebar informasi tak jelas > tersebut) kurang memahami isi majalah Hidayah. Sebab > bila ia paham betul, ia tidak akan menyimpulkan bahwa > Hidayah mengusung Islam Belatung. Ia ingin memberi > label itu karena melihat cover Hidayah yang > seram-seram dan ada keterkaitan dengan azab yang > diterima seseorang menjelang/sesudah meninggal dunia > karena amal perbuatan buruknya sewaktu di dunia, > ditambah lagi dengan tayangan televisi yang marak > dengan sinetron dengan tema yang hampir serupa dengan > Hidayah. > Padahal sejatinya, cerita yang dimaksudkan itu bagian > kecil dari seluruh isi majalah Hidayah. Porsi untuk > cerita-cerita yang baik (husnul khatimah) yang > sama-sama bisa diambil iktibarnya juga cukup banyak. > Belum lagi rubrik-rubrik lain yang sangat disenangi > pembaca. Seperti: Kisah Kitab (rujukannya pada > kitab-kitab klasik yang memuat kisah-kisah yang patut > direnungi), Kisah Qur¹an (kisah yang tidak asing lagi > yang diinukilkan dari ayat-ayat al-Qur¹an dan > kitab-kitab tafsir), profil dai (menampilkan dai-dai > yang sudah malang melintang di tanah air), tokoh-tokoh > Islam, Syiar (lembaga Islam yang lebih mengedepankan > pengembangan keislaman), serta artikel-artikel > keagamaan yang diminati banyak orang. > Dan sejak sinetron-sinetron yang hampir sama dengan > Hidayah menjamur di berbagai tayangan televisi yang > keluar pakem dari Hidayah, dengan penyajian dan > penggarapan yang justru bisa membuat citra kurang > baik, Hidayah Indonesia sudah sejak lama menarik diri > dari peredaran di televisi. > Dengan mengacu hal di atas, maka penilaian Hidayah > yang dipersepsikan Islam Belatung adalah penilaian > yang sangat cetek. Dan tampaknya sang penebar > informasi miring tersebut menyimpulkan berdasar > kekurangpahamannya terhadap Hidayah, ia hanya > mengetahui kulit luarnya saja tanpa memahami > isi-isinya. > Kedua, rujukan yang digunakan sang penebar isu > tersebut layak dipertanyakan kebenarannya. Darimana > informasi didapat, benarkah dari salah seorang > reporter GATRA, ataukah hanya alasan yang digunakan > untuk menjustifikasi dugaannya. Saya menangkap bahwa > apa yang dituduhkan ini hanya berdasarkan ³katanya² > bukan dari investigasi yang benar-benar. Nah, jika > rujukan tersebut bersifat ³katanya² karena bukan > berasal dari rujukan primer, bagaimana mungkin orang > bisa mempercayai kebenaran tulisan tersebut. Dalam > ilmu mushtalahul hadits, sanadnya (penyampai berita) > mungkin tidak tsiqah (kurang bisa dipercaya) hingga > orang yang meriwayatkan pun (rawi) akhirnya > asal-asalan. Maka berita itu pun dianggap dhaif > (lemah), dan karena kedhaifannya, maka berita tersebut > tidak bisa dijadikan rujukan. > Oleh karena itu, orang patut curiga maksud si penulis > berita. Benarkah, mengada-ada atau ada maksud kurang > baik. Dalam etika jurnalistik, hal semacam ini tidak > bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. > Ketiga, ia benar-benar tidak tahu atau hanya > mengarang. Sebab Perusahaan yang menerbitkan majalah > Hidayah bukanlah PT VARIA POP NUSANTARA melainkan yang > benar adalah PT VARIAPOP GROUP. Sangat berbeda sekali. > Dan media-media yang berada di bawah naungan bendera > PT VARIAPOP GROUP adalah MAJALAH HIDAYAH (Sebuah > Intisari Islam), PARAS (Wanita Islam), MUSLIMAH (Trend > Remaja Islam), ANGGUN (Pengantin Islam), VARIASARI, > DIDIK (Anak Islam), CHEF (masakan) serta BERITA > INDONESIA yang khusus diedarkan di Malaysia. Jadi, > TABLOID POP tidak ada di dalamnya. Dengan kata lain, > jika seseorang menyandingkan atau bahkan menganggap > bahwa majalah HIDAYAH saudara sekandung dengan TABLOID > POP yang konon katanya media porno alias esek-esek, > maka penilaian tersebut SALAH BESAR dan sangat tidak > berdasar. > Keempat, Pak Kyai Ali Yafie tentu bisa menilai tentang > isi dan misi majalah HIDAYAH sebelum menjatuhkan > sepakat untuk menjadi penanggung jawab rubrik > Konsultasi Fiqh. Saya yakin, beliau tidak akan mau > mengasuh rubrik ini jika kenyataannya HIDAYAH punya > saudara media yang hanya mengumbar syahwat, TABLOID > POP. Kalau pun tahu belakangan, beliau akan segera > menyetop rubrik asuhannya. Tapi kenyataannya tidak > demikian kan. Beliau tetap mengawal majalah Hidayah > sebagai pengasuh rubrik konsultasi fiqh sudah lebih > dari 33 edisi (hampir 3 tahun). Dan alhamdulillah > hingga kini beliau masih setia menerima kedatangan > saya tiap sebulan sekali, saat hendak mewawancarainya > (dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari pembaca) > yang akan dimuat di rubrik konsultasi fiqh. > Demikianlah beberapa hal yang perlu diluruskan atas > berita yang tidak mengenakkan ini. Jika penasaran, > silahkan konfirmasi kebenarannya secara langsung ke > redaksi Hidayah. Kepada penebar berita miring ini, > kalau Anda punya nyali, silahkan datang ke kantor > Redaksi HIDAYAH atau Perusahaan yang menerbitkan > HIDAYAH. Kita bicara blak-blakan sejauhmana tuduhan > Anda benar. > Wassalamu¹alaikum wr. wb > Herry M (staf redaksi HIDAYAH) > > > -----Original Message----- > > MAJALAH HIDAYAH DAN POP,TERNYATA SAUDARA KANDUNG > > Saya sangat khawatir dengan perkembangan "Islam Belatung" yang cukup pesat > sekarang ini. Yang saya maksud dengan "Islam Belatung" adalah Islam yang > digambarkan melalui cerita teror-horor seperti "belatung keluar dari perut > si fulan karena melakukan dosa anu" atau "kuburan tak mau menerima jasad > si > fulan karena dosa anu" dan cerita2 semacamnya. Maaf jika istilah saya > untuk > menggambarkan 'Islam' yang disampaikan dengan cara itu cukup kasar, sebab > saya kira cerita2 demikian sesungguhnya dusta dan hanya menodai kesucian > dan > kemurnian Islam yang "sejati". Cerita2 itu sekadar sampah, yang karena > ketidaktahuan umat Islam, kemudian menjadi seolah-olah kisah agung yang > wajib diketahui semua muslim yang saleh.. > > Sekitar dua-tiga tahun lalu, saya masih ingat persis seorang teman yang > juga > alumni HMI Bogor pernah bercerita kepada saya. Dia waktu itu reporter > majalah Gatra dan sedang ditugaskan untuk menginvestigasi majalah > Hidayah-Intisari Islam, sebab majalah tsb dianggap fenomenal. Dalam arti, > oplag-nya besar meskipun usianya relatif baru beberapa tahun. > > Ketika datang ke kantor majalah Hidayah, ia sempat kebingungan karena > tempat > yang didatangi ternyata kantor tabloid Pop, tabloid porno. Hampir balik > lagi > karena menyangka salah alamat, ia tanya orang2 di tempat itu. Ealah... > ternyata kantor Hidayah letaknya juga di tempat yang sama. Ia penasaran, > mengapa tabloid dari 'aliran' berbeda bisa menempati kantor yang sama? > Selidik punya selidik, ternyata penerbit keduanya sama, yaitu PT Varia Pop > Nusantara. > > Setelah mendengar cerita dia, saya cek dengan melihat nama penerbit pada > majalah dan tabloid tsb. Astaghfirullah, ternyata sama... PT Varia Pop > Nusantara.. Silakan teman2 juga cek langsung. > Teman saya juga sempat bertanya kepada pimred Hidayah waktu itu, apakah > cerita yang ditampilkan dalam Hidayah benar adanya. Dijawab, bahwa cerita2 > tsb diperoleh reporter Hidayah dari masyarakat. Benar tidaknya wallahu > a'lam! > > Kesimpulan saya: > 1. Karena penerbitnya sama, sebenarnya tujuan Hidayah dan Pop juga sama, > yakni, mencari untung sebesar2nya. Bedanya, Pop membidik pasar pria2 > mesum, > sedangkan Hidayah mentargetkan pasar kaum muslim kebanyakan. Saya tidak > tahu > seberapa besar jumlah pria mesum yang suka Pop. Tetapi, jumlah kaum muslim > yang bisa dipikat dengan cerita2 horor yang ditampilkan Hidayah, saya > yakin > sangat banyak. Terbukti, Hidayah dibeli banyak orang. > 2. Strategi yang digunakan penerbit tsb adalah "mengalalkan segala cara". > Porno atau 'Islami', selama itu menguntungkan, sikat teruss... > 3. Ada kemungkinan, keuntungan dari Hidayah digunakan untuk mensubsidi > Pop. > (Pop butuh subsidi karena kalah bersaing dengan media porno sejenis, > menurut > info seorang teman yang lain). Jadi kalau kita beli Hidayah, sama saja > mensupport Pop. > 4.Asumsi saya, siapapun di balik majalah Pop adalah manusia bejat moral. > Tidak logis jika manusia semacam itu, melalui majalah Hidayah-nya, punya > niat baik untuk mendakwahkan Islam yang benar. > 5.Majalah Hidayah adalah majalah tipu2 dan menyesatkan umat Islam. > Demikian > pula majalah sejenis yang akhir2 ini bermunculan. Saya bertanya-tanya, > apakah kyai2 kita tidak tahu hal ini? Dalam rubrik konsultasi majalah > Hidayah, salah satu pengisinya adalah Kyai Ali Yafie, kyai sepuh yang tak > diragukan lagi kualitas keilmuannya terutama dalam bidang ilmu fiqih. > (Dalam versi Hidayah sekarang, juga ada Ust Arifin Ilham ulama2 lain yang > cukup terkenal). > Saya tidak pernah mendengar Nabi mengajarkan Islam dengan cerita2 horor. > Kalaupun ada dalam Quran hanyalah cerita2 tentang neraka, tak lebih dari > itu. Islam yang disampaikan Nabi adalah Islam yang penuh hikmah dan > mauidzah. > > > > > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bonsi97/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/bonsi97/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
