A very good knowledge ------ Forwarded Message From: Neneng Herawati <[EMAIL PROTECTED]> Date: Thu, 14 Aug 2008 14:17:52 +0700 Conversation: Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas.... Subject: FW: Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas....
> > sumber: http://www.kompas. com/kompas- cetak/0602/ 19/keluarga/ 2441191.htm > <http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/19/keluarga/2441191.htm> > > Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas > > SARIE FEBRIANE > > Berawal dari keprihatinan menghadapi situasi masa kini, sebagian > orangtua bersatu membentuk komunitas. Tekadnya sederhana, mencerdaskan > sesama orangtua agar terhindar dari "kesesatan". Mereka berusaha > menjadi orangtua kritis yang tak begitu saja menerima resep dokter, > atau terbujuk iklan. > > Mungkin beginilah paradoks zaman modern, ketika arus kehidupan > dikendalikan konsumerisme. Kekuatan bujukan iklan sering kali membuat > seseorang merasa tak berdaya. Apalagi bagi orang yang tak punya akses > cukup untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai produk tersebut. > Kalau sudah begini, apa yang diklaim dalam iklan sering kali menjadi > hal yang dipercaya begitu saja. > > "Anak-anak sering menjadi obyek penderita kesalahpahaman. Sebab itu, > yang dicerahkan harus orangtuanya. Dengan mailing list, kami > bergerilya," tutur Purnamawati S Pujiarto SpAK, MMPed yang > mengampanyekan penggunaan obat secara rasional (rational use of > drug/RUD) kepada konsumen medis. > > Selama tiga tahun terakhir ini, Wati, demikian sapaannya, berusaha > membina dan mencerdaskan para orangtua melalui komunitas maya yang > diberi nama Grup Sehat. Moto komunitas ini "be smarter be healthier". > Upayanya, yang telah tahunan dirintis, didukung Organisasi Kesehatan > Dunia (WHO). Ibu empat anak ini juga menjadi salah satu konsultan WHO. > > Kini, pada mailing list [EMAIL PROTECTED] com <mailto:[EMAIL PROTECTED]> > telah tercatat 3.218 > anggota dari penjuru Indonesia hingga yang bermukim di luar negeri. > Para orangtua dapat berkonsultasi bebas dengan Wati dan sejumlah dokter > lain, sampai dibimbing mempelajari ilmu kesehatan terkini dari berbagai > situs terpercaya. > > Pujiati (29), yang tinggal di Surabaya, dulu kerap bolak-balik ke > dokter anak karena putranya, Bagas (24 bulan), sering sakit. Setiap > kali sakit Bagas selalu diberi antibiotik serta obat berbentuk puyer. > Ketika itu dia belum paham, antibiotik tak diperlukan untuk pengobatan > batuk pilek pada anak-anak yang umumnya disebabkan virus. > > Virus dapat dilawan dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau > penyakit itu disebabkan bakteri, baru diperlukan antibiotik. Sebagian > dokter bahkan sering memberikan antibiotik paling ampuh, mahal, yang > sebenarnya justru antibiotik spektrum luas (broad spectrum). Akibatnya, > beragam bakteri yang tergolong baik pun turut tergilas. > > "Setelah bergabung dengan Grup Sehat, saya baru menyadari semua > praktik itu kelirumologi alias salah. Kini, kunjungan ke dokter anak > sangat jarang, dan anak saya sehat. Kalau batuk pilek cukup home > treatment saja. Banyak minum air putih hangat, makan makanan yang > disukainya, dan istirahat. Kalau demam, saya kompres dia dengan air > hangat atau minum obat penurun panas saja. Enggak perlu antibiotik dan > suplemen," tutur Pujiati. > > Tak mudah bagi Pujiati menularkan pengetahuan itu kepada suaminya. > Sang suami malah sempat mengira komunitas yang diikutinya beraliran > aneh. Orang awam memang kerap mengira komunitas ini anti-obat, anti- > antibiotik, bahkan anti-dokter. Padahal sama sekali tidak. Koridor > konsep RUD-lah yang menjadi pegangan Grup Sehat. > > "Antibiotik itu anugerah kehidupan, harus dieman-eman (disayang- > sayang). Ketika kita betul-betul membutuhkan antibiotik, dia adalah > penyelamat jiwa," ujar Wati yang kini mendirikan Yayasan Orang Tua > Peduli. > > Penggunaan antibiotik secara tidak rasional justru memunculkan > bermacam bakteri yang bermutasi, dan resisten terhadap antibiotik > (superbugs). Sementara penemuan antibiotik baru tidaklah secepat > perkembangan munculnya bakteri baru. Semakin sering menggunakan > antibiotik secara tak rasional, malah menyebabkan anak sering jatuh > sakit. Belum lagi risiko seperti gangguan hati pada anak, seperti kerap > ditemukan Wati, yang juga ahli hepatologi anak ini. > > Proses menyenangkan > > Selain RUD, para anggota komunitas juga memperoleh informasi obyektif > menyangkut pemenuhan gizi anak, serta problem klasik seperti anak susah > makan. Tipikal sebagian orangtua masa kini yang tergopoh-gopoh > menjejali anak dengan obat ketika jatuh sakit biasanya diikuti pula > dengan memberi anak berbagai suplemen penambah nafsu makan dan susu > formula. > > "Beredarnya susu bubuk yang mengklaim bisa menjadi pengganti makanan > lengkap juga banyak dipahami orangtua secara sesat. Padahal, makan itu > proses belajar, eksplorasi, yang penuh dengan unsur hiburan. Sebagian > orangtua sering mengambil cara praktis ketimbang bereksperimen dengan > menu agar disukai anak," kata Wati. > > Gempuran iklan susu formula di media massa juga dapat mendoktrin > sebagian orangtua bahwa anak harus minum susu formula. Padahal, bayi > hingga usia enam bulan harus eksklusif minum air susu ibu (ASI). Usia > di atas satu tahun, selain ASI, bayi cukup diberi susu sapi cair tanpa > pengawet, yang telah disterilisasi dengan teknik ultrahigh temperature > (UHT) atau pasteurisasi. Aneka susu yang menyebut ditambahi berbagai > zat penting untuk perkembangan otak hanyalah klaim yang tidak > berlandaskan prinsip ilmiah evidence based medicine (EBM). > > "Di luar negeri, anak di atas satu tahun masih minum formula akan > ditertawakan tenaga medis. Di atas satu tahun, susu bukan segalanya. > Gizi anak terutama dari makanan. Orangtua harus paham piramida makanan. > Siapa bilang anak harus gemuk, yang penting anak itu sehat," tutur Wati > yang prihatin dengan praktik pemasaran susu formula yang, menurut dia, > semakin tak etis. > > Yosi Kusuma Ningrum (27) mengaku dulu sempat termakan iklan susu > formula. Susu berharga ratusan ribu rupiah itu dibelinya demi sang buah > hati. Agen pemasaran susu formula kerap meneleponnya, membujuk dia agar > anaknya diberi susu formula supaya gemuk. > > "Sekarang enggak lagi. Mendingan uangnya ditabung untuk pendidikan > anak kelak. Tetapi orang-orang, bahkan keluarga sendiri, sering sinis. > Mereka bilang, kok anakku dikasih susu murah, padahal kedua orangtuanya > bekerja," ujar Yosi, ibu seorang anak yang tinggal di kawasan > Kalimalang, Jakarta Timur. > > Tanpa tes alergi > > Sebagian dokter pun sering kali terlalu mudah mendiagnosis seorang > anak alergi susu sapi, tanpa melakukan tes alergi terlebih dahulu. > Pujiati pernah mengalami hal ini, dan memberi anaknya susu bubuk > kedelai yang harganya relatif lebih mahal. Nyatanya, setelah tak lagi > minum susu bubuk kedelai pun, anaknya tak bermasalah. > > Anak Pujiati dan Yosi yang meminum susu sapi biasa tetap sehat, > lincah, dan mudah buang air besar meskipun mereka sama sekali tidak > lagi mengonsumsi suplemen vitamin dan penambah nafsu makan. > > Hal krusial lain dalam masalah kesehatan anak adalah imunisasi. > Kesalahpahaman seputar imunisasi kerap terjadi, mulai dari isu autisme > hingga pemberian imunisasi secara tunggal. Beragam riset seperti WHO, > Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Institute of > Medicine (IOM) telah menegaskan vaksinasi measles, mumps, rubella (MMR) > tidak berkorelasi dengan autisme. Bayi dan anak-anak pun dianjurkan > divaksinasi secara simultan sehingga meminimalkan kunjungan ke dokter, > mengurangi risiko tertular penyakit di rumah sakit, serta anak cepat > terbentengi imunitasnya. > > Belum lagi dokter yang "bereksperimen" dengan meresepkan obat yang > tidak perlu untuk mengurangi efek demam dari imunisasi. > > "Anak saya pernah diresepkan luminal setelah imunisasi DPT (difteri- > pertusis-tetanus) . Padahal, luminal itu obat penenang saraf. Katanya, > biar orangtua enggak repot," tutur Alia Indardi (34), ibu dari tiga > anak, yang tinggal di Jatiwaringin, Bekasi. > > Alia lantas mengatakan kepada dokter tersebut bahwa dia tidak akan > menebus obat itu. Alasannya, dampak demam dari imunisasi adalah gejala > yang normal. Jika anaknya terganggu dengan demam tersebut, pemberian > obat penurun panas saja sudah mencukupi. > > Untuk anak yang sedang kejang saja, luminal sudah tidak > direkomendasikan lagi. "Coba kalau pasiennya tidak memiliki informasi > yang cukup dan berimbang, kan pasti sudah langsung menurut saja. > Jadilah anak itu dikasih obat penenang saraf," ujar Alia. > > > Agar Bayi Tumbuh Sehat > > Untuk memulai kehidupan yang berkualitas pada buah hati Anda, pastikan > tempat bersalin yang Anda pilih mendukung ASI eksklusif. > > Segera sentuhkan puting susu ibu pada mulut bayi segera setelah dia > dilahirkan. > > Setelah itu pastikan juga bayi segera divaksinasi hepatitis B segera > setelah lahir. > > Ketika anak sakit, tanyakan kepada dokter, apa penyebabnya dan > bagaimana tindakan yang perlu dilakukan. Sebaiknya Anda tidak semata- > mata bertanya tentang apa obatnya saja. > > Jangan segan untuk terus bertanya tentang hal yang ingin Anda ketahui > untuk kesehatan anak meskipun sang dokter terkesan malas menjawab. Oleh > karena itulah, Anda tidak perlu "ikut-ikutan" untuk selalu memilih > dokter yang dibanjiri pasien. > > Hindari penggunaan beragam obat pada saat yang sama (polifarmasi) , > untuk kondisi yang tidak perlu. Hindari antibiotik jika sakit > disebabkan virus. Infeksi karena bakteri pada radang tenggorokan, > misalnya, perlu bukti kultur bakteri dengan mengambil usap tenggorok. > > Jika memang anak memerlukan antibiotik, pastikan dokter meresepkan > antibiotik spektrum sempit yang bekerja pada bakteri yang dituju. > Infeksi ringan pada saluran napas, telinga, atau sinus hanya perlu > antibiotik yang bekerja pada gram positif. Tak ada salahnya > berkonsultasi dahulu dengan ahli farmakologi- secara online misalnya- > sebelum obat dikonsumsi anak. > > Fotokopi resep > > Fotokopi semua resep yang diberikan dokter dan diarsip. Hal ini dapat > membantu Anda jika anak mengalami reaksi efek samping obat. Hal serupa > juga baik dilakukan untuk seluruh anggota keluarga jika memperoleh > resep dokter. > > Jangan pernah memberikan nomor telepon rumah, seluler, ataupun nomor > telepon kantor Anda kepada agen pemasaran produk susu formula/makanan > bayi di pasar swalayan. Sebab, boleh jadi nantinya Anda akan terus " > diteror". Maksudnya, ditelepon dan dibujuk supaya anak Anda terus > mengonsumsi produk mereka. > > Ikuti dan pantau perkembangan masalah kesehatan dari situs-situs > terpercaya yang dapat dijadikan sumber informasi. Misalnya, www. > sehatgroups. web.id <http://sehatgroups.web.id/> , www.mayoclinic. com > <http://www.mayoclinic.com/> , www.iwandarmansjah. web.id > <http://www.iwandarmansjah.web.id/> , www. > idai.or.id <http://idai.or.id/> , www.who.org <http://www.who.org/> , > www.aap.org <http://www.aap.org/> , www.cdc.gov <http://www.cdc.gov/> , > www.ibfan.org <http://www.ibfan.org/> , dan > www.breastfeeding. com <http://www.breastfeeding.com/> . (SF) > >
