Such a nice article... Terutama buat karyawan swasta yang gak dapet pensiun
seperti PNS.


------ Forwarded Message
From: luky 
Subject: Fw: Nice Artikel.... Membeli Masa Depan

Dear Friends,
 
Please read this one...very nice article.
After that, think for your future...
Thank you.
 
Note : Thank you Pak Anis.
 
Best Regards
===============================
Luky Iskandar
LGEIN - QA DISPLAY
Telp : 62-21-8989441
Fax  : 62-21-89982517, 8980588
===============================
 
----- Original Message -----
From: anis <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, August 15, 2008 8:39 AM
Subject: FW: Nice Artikel.... Membeli Masa Depan

  Dari milist sebelah
 
 
Penulis : Adithya Mulya (penulis novel 'Jomblo', 'Gege Mengejar Cinta', dan
beberapa novel lainnya)

~~~

Membeli Masa Depan
Tuesday, February 26, 2008

Di  Singapur  sini  kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua lagi
memindai  channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan itu adalah
iklan dari tabungan rencana Bank Mandiri.

Adegan pertama: Ada anak kecil lari-lari keliling meja makan. Di meja makan
itu,  ada  pasangan  muda  meminjam uang ke orang tua mereka dan ada insert
tulisan  "Untuk  biaya masuk SD". Di akhir adegan itu, kita melihat liontin
emas ibu muda.

Adegan  kedua:  pasangan  tersebut sudah terlihat lebih dewasa dan sang ibu
melepaskan  liontin  emas itu dengan muka urung. Insert: "Untuk biaya masuk
SMP"

Adegan  ketiga:  Anak  itu sudah dewasa, membuka garasi dan anak itu murung
melihat  garasi mereka kosong. Sang bapak keluar dengan vespa. "Untuk biaya
SMA".

Adegan  ini  diakhiri dengan sang bapak hujan-hujan pergi kerja naik vespa,
di depan rumahnya ada tulisan "rumah dijual" insert: "untuk masuk kuliah"

Ini  adalah  satu  iklan  yang  sangat-sangat  kuat.  Hati gua belum pernah
ngerasa terenggut melihat sebuah iklan. Bener banget.

Life  is  not a game. You can't restart your life. Once you make a mistake,
that's  it. You're done. Apalagi hidup di Indonesia yang jujur saja, sangat
unforgiving.  Gua pendukung SBY dan so far dia melakukan yang terbaik untuk
kita  semua.  Sayangnya  orang-orang  seperti  Mega dan Amien Rais kerjanya
membuat  sentimen negatif saja. Gak ngebantu. Kita ini gak akan pernah maju
jika  pemimpin  negara  dibacokin  orang-orang  yang  kerjanya  pengen jadi
pemimpin negara.

Hidup untuk Masa Depan
Iklan di atas sempat membuat gua tidak tenang melihat apa yang sudah ada di
tangan.  Tapi gua berusaha merasa qana'ah karena tidak ada yang lebih buruk
di  hadapan  Allah  selain  orang-orang  yang  kufur  nikmat.  Bener  kata
temen-temen  yang  komentar di bawah bahwa kalo kita takut, kita tidak akan
pernah merasa cukup dan akhirnya menghabiskan waktu kita khawatir ketimbang
bersyukur.

Kita  itu  (seharusnya) hidup untuk masa depan. Bokap gua pernah ngasih tau
statistik di bawah:
5 dari 10 pensiunan hidup bergantung pada anak dan kerabat
2 dari 10 pensiunan masih harus kerja unutk membiayai sisa hidupnya
1 dari 10 pensiunan punya uang pas-pasan untuk mandiri setelah pensiun
1 dari 10 pensiunan punya uang berlebih di saat pensiun

(commented by leo: yang 1 lagi jangan ditanya yah..hehehe)

Mengerikan  ya?  Dari yang gua lihat dalam hidup, memang begitu. Sebenernya
bukan  karena  kita  miskin-miskin  amat  sih  tapi kita itu sering belanja
hal-hal yang kalo dipikir baik-baik, gak perlu.

Sekarang  gimana  caranya  kita  pensiun  dengan  baik?  Dan  di  atas itu,
membekali anak dengan pendidikan yang cukup? Iya kalo anaknya satu. Kalo 3?
Satu lagi ungkapan yang gua pernah dengar yang sangat-sangat memotivasi gua
untuk nabung:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Iya  kalo  anak  kita  sukses.  Kalo  gak  sukses kan kasian dia. Mencukupi
dirinya  sendiri  aja  mungkin susah, apalagi nalangin kita? Masa muda anak
kita  adalah  masa  dia  mencari  penghidupan untuk mensecure hari tua dia,
bukan hari tua kita.

Nah  gua  mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses melakukannya,
atau  telah  berhasil  menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja sharing karena
penting  untuk  diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi yang
belum tahu.

Tentukan gaya Hidup Kita
Di  umur  30  ini gua belajar begini: gaya hidup itu menentukan survivality
kita di hari tua. Maksudnya gini:

Ini skema hidup keluarga A
Gaji = 100%
Living cost yang kita jalankan selama ini = 80%
Tabungan = 20%

Guess  what?  Setelah  pensiun  nanti,  A  akan  kesulitan  mengadjust gaya
hidupnya  karena  setelah pensiun, dia gak punya atau punya sedikit income.
Dan  dia  harus  hidup  berbiaya  80%. Tapi masalahnya dia cuman punya 20%.
Mending kalo 20% ini bisa nutupin basicnya, kalo nggak gimana?

Jadi  yang  perlu  kita  tentukan sekarang adalah bagaimana gaya hidup yang
kita inginkan dan berapa yang ingin kita tabung.

Basic Consumption & Life style
Persentase  di  atas  tidak  linier.  Maksudnya,  orang yang penghasilannya
rendah  akan  mencak-mencak  melihat  persentase  di atas karena memang ada
biaya  hidup  pokok minimal. Mungkin bagi orang yang penghasilannya 20 juta
setahun, persentase di atas gak jalan. baca: minimum living cost katakanlah
10  juta  setahun. Jadi mending persentasenya kita kembalikan aja pada diri
masing-masing.

Yang berusaha gua jelskan di sini adalah, living cost itu ada dua komponen.

Living cost = lifestyle x basic consumption.

Contoh, orang sama-sama butuh mobil ke kantor. Yang satu beli mobil second,
yang satu beli Alphard. Orang sama-sama butuh dinner. Yang satu sering dine
out, yang satu masak.
Orang sama-sama butuh tas. Yang satu beli satu 60 juta, yang satu 600 ribu.

Basic  consumption  semua  orang  sama.  Tapi yang membuat living cost kita
berbeda  adalah  gaya  hidup  kita.  Apa  beli  tas mahal salah? Nggak kok.
Terserah,  gua  gak  ngejudge. kalo memang mampu ya by all means, beli aja.
Hanya  saja,  di  kebanyakan kasus, gaya hidup kita lah yang membuat living
cost tinggi. Bukan basic consumptionnya.

Bagi  pembaca  yang  tergerak untuk menerapkan hal yang sama, harap diingat
bahwa  makin banyak anak, ya gajinya makin terbagi kecil. Bisa jadi seperti
ini:

45% cost
35% pensiun
10% anak 1
10% anak 2

45% cost
30% pensiun
8% anak 1
8% anak 2
8% anak 3

Masalahnya  dengan  skema ini adalah, skema ini tidak berlaku pada keluarga
yang  incomenya  terlalu  kecil. Gua pernah bergaji sangat kecil dan bahkan
untuk menghidupi diri gua aja susah.

Automate your Savings
Sekarang  kita  udah  menentukan  gaya  hidup  kita  dan  bertekad menabung
beberapa % income kita. Next step? Kebanyakan orang, termasuk gua, gak bisa
nabung.  Beberapa  orang  bikin channel tabungan. Termasuk gua. Gua gak tau
apakah ini manjur karena resultnya kita lihat 25 tahun lagi tapi setidaknya
ini yang gua percaya dan gua lakukan.

Setelah menentukan berapa yang harus ditabung, kita otomatisasikan tabungan
kita.  Manusia  itu  pada  dasarnya  susah nabung. David Bach dalam bukunya
'Automatic  Millionaire'  mengatakan  bahwa  semua  pemerintah di dunia ini
langsung  otomatis  motong pajak dari gaji kita karena mereka tau kita suka
lupa  bayar  pajak.  Hal  yang sama kita terapkan saja pada diri kita. Kita
bisa  request ke bank agar setiap tanggal 1, gaji kita dipotong ke tabungan
pensiun  kita,  ke  tabungan pendidikan anak kita dan ke mana saja yang kta
mau.  Akhirnya  yang  ada di tabungan utama hanyalah sisa untuk living cost
kita. Jadi di awal bulan, yang pertama kita amankan adalah masa depan kita,
bukan  masa  depan  mango,  zara  atau honda jazz kita. Kalo tidak dipagari
seperti  ini,  kecenderungannya adalah habis. Untuk ini, gua rekomendasikan
banget buku David Bach 'Automatic Millionaire'

Security
Oke,  sekarang  ada  tabungan  pensiun.  Bagus. Eh besok kita ditabrak bus.
Pupuslah  harapan  anak  untuk  terus  sekolah.  Istri  juga  kalo  gak
berpenghasilan  bisa  repot.  Yang  tadinya  kita  bermimpi  anak kita bisa
sekolah di universitas top indonesia, jadi bisa gak kuliah sama sekali.

Dan tahukah kita bahwa statistik membuktikan bahwa rata-rta suami meninggal
6 tahun lebih cepat dari istrinya? Dari sini datanglah pentingnya asuransi.

Di sini, gua cuman pengen sharing apa
yang gua tau (yang mana sedikit), agar mungkin temen-temen bisa untung dari
sini.

Yang jelas, menentukan asuransi itu sebaiknya gini:

Uang  pertanggungan  =  living  cost  / tahun x 20 tahun (atau terserah mau
berapa tahun).

Dengan  formula  ini,  maka  jika kita meninggal, insya allah keluarga kita
dapat  hidup  selama  12-20  tahun.  Lho  kenapa  gak full 20 tahun? Karena
inflasi.  Living cost tahun 2008 mungkin 4 juta. Di tahun 2020 bisa jadi 10
juta.

Masalahnya,  makin  tinggi  uang  pertanggungan,  makin  tinggi  premi
pertahunnya.  Untuk itu, menentukan nilai asuransi ini juga harus bijak dan
harus  dalam kemampuan kita juga. Misalnya kita tabung 40% gaji. Kita split
40% ini jadi 10 dan 30.

30% pensiun
10% insurance
Toh keduanya sama-sama berbunga kok.

Dulu  asuransi  ini  sepi peminat karena asuransi tidak melink dana kita ke
investasi.  Yang ada, uang kita menyusut tanpa bunga. Mending taro di bank.
Gitu  pikiran  banyak  orang.  Sekarang unit link ini menjadi buruan banyak
orang.  Gua  dulu  alergi  yang namanya memercayakan uang keringet gua sama
asuransi.  Sekarang  kenapa  tidak?  Not  bad  kalo gua bilang. Jika kepala
keluarga meninggal, kepala keluarga akan mendapatkan mana yang lebih tinggi
antara  uang  pertanggungan  dan  nilai  investasi.
You may disagree with this ya. Tapi gua sih jalanin.

Invest
Di  posting  gua  yang terdahulu gua udah bilang bahwa musuh gua setidaknya
adalah  inflasi.  Mau income kita 1 juta per bulan atau 100 juta, kita taro
di bank, tetap aja kalah sama inflasi. Contoh:

Inflasi = 10%
Bunga bank = 2%
Tabungan kita = 1000
Harga telur 2007 = 1000
Harga telur 2008 = 1100
Uang kita 2008 = 1020
Tahun 2008 kita gak mampu makan telur.

Di  sini  lah  pentingnya  investasi. Instrumen investasi apa yang dipilih?
Beberapa  sudah  gua  tulis  di  posting sebelumnya. Berapa yang mesti kita
invest? Nah ini tergantung dari seberapa ambisiusnya kita dalam hidup. Yang
jelas, ada beberapa pointers:

- asset & liability
Robert  Kiyosaki dalam Rich dad poor dad bilang "rich dad buys assets. Poor
dad  buys  liability".  Ini  bener  banget.  Banyak  sekali  orang tua yang
menghabiskan  uang 200 juta membelikan anak mereka mobil. Masalahnya, mobil
itu  mengalami  penyusutan 20% per tahun. Harganya tahun depan langsung 180
juta. Umur mobil juga 5 tahunan. Itu bukan aset. Itu liability.

Kalo  memang  ingin  memberikan anak 200 juta, kenapa gak belikan dia rumah
susun?  Atau  BTN?  "Nak,  ini ayah belikan rumah 1 bukan untuk ditempatin.
Sana  kamu  kontrakin  dan  uangnya buat kamu tabung." Rumah, di 80% kasus,
adalah aset.

Aset  adalah sesuatu yang memberikan kita return. Yang kalo kita jual lagi,
nilainya bertambah dan memberikan kita proft.

Liability  adalah sesuatu yang setelah kita beli, nilainya susut. Yang kalo
kita jual lagi, kita mendapatkan loss.

- Biggest & Most Basic Investment
Hal pertama yang harus disukseskan dalam investasi, dan ini yang gua setuju
ya,  terserah  kalo  gak setuju, adalah rumah. Direkomendasikan untuk rumah
sendiri.  Jangan  sampe  ngontrak seumur hidup. Di kala kita ngontrak, kita
membuat  orang  lain  kaya tanpa memberikan kita hak kepemilikan. Bisa-bisa
setelah  pensiun,  kita  gak  punya  penghasilan untuk membayar kontraknya.
Setelah itu mau tinggal di mana?

Kalo  kita  cicil  rumah,  sejelek  apa pun rumah itu, rumah itu adalah hak
milik  kita.  Tidak  ada rasa aman yang lebih baik dari pada memiliki rumah
tempat kita tumbuh tua nanti.

Kalo nggak gini, kasian anak. Mereka nanti nikah dan butuh ruang, waktu dan
energi  untuk  membangun  keluarga  kecil mereka. Kalo kita tinggal bersama
mereka,  kasian.  Lenyaplah  impian  istri untuk ML di dapur huahahaha. Gak
deng. Memang di kebanyakan kasus, orang Indonesia menganut kebudayaan orang
timur di mana:

Ketika kita kecil, mereka merawat kita.
Ketika dia tua, kita merawat dia.

Ini  sebabnya  banyak  sekali temen gua yang bungsu yang bersikeras gak mau
keluar  rumah. Kasian ninggalin ibunya. Si bungsu lah yang bayarin listrik,
air, kabelvision dll.

Ini  sebabnya  banyak temen gua yang sering bilang "Udah, mamah di sini aja
sama saya"

Semua  itu  bagus.  Semua itu mulia. Semua itu dianjurkan agama. Tapi semua
itu  adalah  cerita temen-temen gua yang mapan secara finansial dan berniat
mengembalikan  budinya.  Temen-temen gua yang kesulitan finansialnya? Well,
beda cerita.

Setidaknya  di  mata  gua,  sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk
menampung  orang  tua.  Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama
belasan tahun untuk hidupi orang tua dia.

Tapi  sebagai  orang  tua yang baik, rasanya gak tega ngeliat anak ngerawat
kita sementara dia bisa menghabiskan waktu muda dia mengejar impian-impian.
Makanya, invest your money. Nah sekarang pertanyaan, berapa yang mesti kita
investasikan dari income kita? Sekali lagi, terserah.

Tadi di atas sudah ada ini:
30% pensiun
10% insurance

Kenapa nggak,
10% atau 20% pensiun
10% insurance
20% atau 10% investasi

Ingat  aja,  makin  kecil uang yang disisihkan untuk investasi makin lambat
investasi  itu  bisa  berbuah.  Kalo  sisihan untuk invetasi terlalu kecil,
ditakutkan  malah  gak  pernah terwujud impiannya. Contohnya, mau beli emas
batangan.  Tapi  harganya  naik lebih cepat ketimbang jumlah uang yang kita
sisihkan perbulannya. Yang ada kejar-kejaran.


Hutang
Disarankan  untuk  jangan  punya  hutang,  kecuali hutang itu untuk membeli
rumah perdana dan itu pun jangan terlalu banyak. Banyak orang yang bermimpi
memiliki rumah megah dan bersikeras beli cicil. Masalahnya,

Rumah gede = biaya maintenance gede
Rumah gede = cicilannya puluhan tahun

Temen  gua  ada  yang  lumayan jenius. Dia beli rumah kecil, 5 tahun lunas.
Sementara  5 tahun itu dia juga nabung dengan istri. Setelah lunas ternyata
mereka  punya  cukup  tabungan  untuk  nyicil rumah ketiga yang lebih baik.
Rumah  pertama  mereka kontrakin dan mereka tinggal di rumah cicilan kedua.
Sebentar lagi meeka akan melakukan yang ketiga.

Ada  lagi  kasus  yang  lumayan  miris. Rumahnya terlalu besar tapi gajinya
terlalu  kecil,  sehingga dia butuh 20 tahun untuk lunasin. Itu semua gajiu
habis hanya untuk rumah. Jujur aja, kalo cicilan sampe 20 tahunan, yang ada
kita  bayar rumah itu 2x harga beli kita. 2 kali! Itu sama dengan kita beli
2  rumah!  Tapi  ini  nggak.  Akhirnya  orang  itu  pensiun  tanpa  sempat
menggunakan uangnya untuk investasi.

Intinya, hutang itu boleh tapi terbatas dengan:

pembelian aset
pastikan beli rumah yang sesuai dengan gaji kita. Jangan ngoyo.
pastikan  cicilannya  tidak  terlalu  banyak sehingga kita masih punya umur
produktif untuk investasi yang lain juga.
Again, ini hanya dari pengalaman dan observasi pribadi gua. mungkin pembaca
yang  berwawasan  lebih,  boleh  kasih  input. Biasanya syarat umum Bank di
indonesia adalah: uang cicilan = 1/3 dari income gabungan suami istri. Kalo
gitu, skemanya jadi berubah:

45% cost
33% cicilan rumah
8% anak 1
8% anak 2
6% insurance atau investasi atau pensiun

Skemanya  terserah  tapi  kita bisa lihat bahwa semua komponen itu penting.
Dan  bisa  kita  lihat juga bahwa adanya cicilan rumah benar-benar memotong
keleluasaan  kita  dalam  berinvestasi  kan.  Dan bahkan untuk cicil rumah,
bukan  gak  mungkin  kita  harus memotong biaya hidup jadi lebih kecil dari
45%. Makanya cicilannya jangan terlalu lama dan telalu besar.

Metode Yang Beda
Metode  di  atas  hanyalah  1  dari  jutaan metode yang kita bisa jalankan.
Contoh metode lain adalah:

1.  5 tahun pertama konsen beli rumah
2.  5 tahun kedua konsen nabung buat investasi
3.  5 tahun ketiga konsen nabung pensiun

Beberapa  temen  gua  malah  hanya bergantung pada jamsostek untuk pensiun.
Uang  bebasnya  semuanya dia investasikan di rumah kedua dan bilang "Ya ini
sapi  pensiun  gua." Agar nanti kalo udah pensiun, uang kontrakan rumah itu
dapat nyambung hidup dia.

Upside
Dengan  cara  seperti  ini,  orang  biasanya  lebih  cepat  mendapatkan
masing-masing  target.  55% gaji dia dimasukin untuk investasi. Denga modal
sebesar  ini,  returnnya  juga bisa besar dan lebih cepat. Sound good. Tapi
ada kelemahannya.

Downside
Kalo  misalnya pas lagi ngejar lunasin rumah, kepala keluarganya meninggal,
gak ada dana back up dong.

Kalo  misalnya  pas 5 tahun investasi ternyata reksadana crash, habis semua
uang.  Kalo 5 tahun nabung dollar ternyata dollar jadi 2000 perak, the end.
Lenyap udah itu semua.

Kalo  misalnya  keasikan  beli  rumah dan investasi, bukan gak mungkin kita
telat  nabung  buat pensiun. Kenapa sih pensiun itu penting meski sudah ada
investasi yang berbuah?

Karena kita tidak bisa memprediksi masa depan. Kita bergantung sama 3 rumah
kontrakan. Suatu hari 2 dari 3 digusur.

Intinya  sih  keuntungan  dari  diversifikasi adalah kalo kita sial di satu
hal,  kita  masih  bisa bergantung dengan hal lain. Memang gak banyak, tapi
itu  safe.  Kerugian  diversifikasi  adalah menunggu semuanya berbuaha bisa
belasan  tahun. Gimana nggak? Secepat apa kita bisa memperbaiki taraf hidup
kalo kita hanya mampu sisihkan gaji 2% untuk investasi?

Semuanya  dikembalikan  ke masing-masing lah. Gak ada yang benar dan salah.
Gua  yakin  semua  yang  baca  blog  ini by now sudah mikir, skema apa yang
selama  ini  mereka  jalani dan gak defensif atau ofensif jika tidak setuju
dengan  penjelasan  di  atas. Toh semuanya dikembalikan ke diri dan kondisi
masing-masing yang mana kondisi itu gak mungkin sama.

Gua  sendiri  menjalankan  sebuah  skema. Gua gak tau apakah skema itu akan
berhasil.  Yang  penting,  kalo  niatnya  baik,  ikhtiarnya giat, dan sabar
menghadapi  cobaan,  itu  berarti  kita  sudah  menjalankan skemanya dengan
benar.

Penutup
Yang jelas, gua berpegang sama proverb di bawah:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Kita Sebagai Anak
Sadarkah  kita  kenapa  orang tua naik haji di usia senja? Karena orang tua
kita ingin memastikan dulu kita mentas. Betapa mulianya ya mereka.

Sekedar sharing aja, temen gua dulu ada yang ngobat. Sekarang nyesel seumur
hidup.  Dia  nyesel  karena  sampai akhir hayat mereka sang orang tua tidak
pernah  sempat  menunaikan ibadah haji. Kenapa? Karena tabungan haji mereka
habis  membayar  rehab  temen  gua.  Setelah  sembuh  mentas dan kerja, hal
pertama yang temen gua lakukan adalah haji dan mendoakan mereka.

Dari  dia  gua  belajar untuk sebisa mungkin gak pernah nyusahin orang tua.
Kalo gak bisa sukses, minimal gua gak bikin mereka sedih.

Kita Sebagai orang tua
Tantangan  tiap  jaman  itu  beda. Dan semakin ke sini, semakin hebat. Dulu
bapak  kita cukup dengan S1 dan dapat berkarir seorang diri membiayai semua
keluarga.

Jaman  kita?  Dibutuhkan  suami  dan  istri untuk kerja mencukupi kebutuhan
hidup.  Belum  lagi kualifikasi sekarang banyak yang harus S2. Ambil koran,
baca  bagian  karir  dan hiotung berapa banyak yang kualifikasi S2? Chances
are,  many.  Dan  supply  lulusan  S2  pun  banyak  yang  masih  struggle
mendapatkannya (yang mana menjadi constant reminder gua untuk harus sekolah
lagi).

Jaman anak kita? Gak kebayang kan? Ini sebabnya pensiun itu sangat penting.
Anak-anak  kita  menghadapi  apa yang tidak terbayangkan oleh kita susahnya
gimana.  On top of that, mereka harus mencukupi diri mereka sendiri. Memang
gua  yakin  banget  kita  sebagai  masyarakat  timur,  mereka  pasti  tidak
keberatan mengurusi kita. Masalahnya, kitanya tega gak?

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Anda mau sharing bagaimana bentuk pembelian masa depan yang lain  ?

_._,_.___ 

.

Kirim email ke