sdr.Nana ,
maaf saya mencoba mengutip satu kalimat dari Al Quran. Jika ada kesalahan pengutipan atau kesalahan pengertian harap dimaklumi karena saya tidak mendalami agama Islam. Kawan saya yang beragama Islam pernah mengatakan kepada saya bahwa dalam Surah Alhujarat ( CMIIW ) 13 menyatakan "Kami menciptakan berbagai macam bangsa agar saling mengenal". Tentunya mengenal disini bukan berarti saling berkelahi atau saling menuding. Masalah penindasan terhadap segelintir golongan mengingatkan saya satu anekdot yang berkaitan dengan Perang Dunia ke 2. Dikisahkan bahwa Hitler menyurati perdana mentri Tojo dan menganjurkan mencari kambing hitam. Tojo membalas dengan menyatakan bahwa rakyat Jepang adalah homogen , tidak ada satu etnis seperti Yahudi yang bisa dijadikan kambing hitam atau sasaran pelampisan kemarahan rakyat. Terlepas dari anekdot tersebut , mari kita bersama-sama melihat kenyataan bahwa memang para penjarah itu ada dimana-mana dan sedang menjarah Indonesia. Apakah itu etnis tionghoa , batak , jawa atau etnis lainnya. Apakah itu beragama Kristen , Buddha , Islam , Khonghucu , Hindu dan macam ragam kepercayaan. Adilkah jika saya mengatakan bahwa orang yang beragama Kristen atau Islam adalah para penjarah ? Adilkah jika saya mengatakan bahwa orang Cina adalah penjarah ? Sudut pandang adil dan tidak adil menurut saya relatif tergantung dari sisi mana memandang. Teringat ketika Soeharto turun dari kursi presiden dan para koruptor mulai gelisah melihat perubahan situasi politik kemudian beramai- ramai mengatakan bahwa korupsi atau tindakan yang mereka lakukan adalah terpaksa atau atas mandat. Apakah mereka tidak mengecap kenikmatan dari hasil menjarah ? Mengapa mereka kemudian melempar kesalahan kepada Soeharto ? Jika mereka merasa ditekan mengapa tidak bisa bersikap seperti Jiteng mantan dirut PLN ? Pada masa penjajahan Belanda sekalipun terlihat banyak yang bersikap pro kepada VOC dan itu tidak hanya etnis Tionghoa saja. Siapa yang memerangi Cut Nya Dien ? Siapa yang memerangi kerajaan Bali yang menolak tunduk kepada Belanda ? Siapa yang memerangi pangeran Diponegoro ? Memang saya tidak memungkiri adanya hak-hak istimewa yang diterima segelintir masyarakat Tionghoa tapi hak-hak itu pula diterima oleh segelintir masyarakat pribumi yang kebetulan menjadi adipati atau pejabat pemerintahan Hindia Belanda. Menilik tulisan awal anda dengan akhir terlihat adanya suatu kontradiksi. Saya mempercayai bahwa manusia diciptakan sederajat sesuai dengan ujar Confucius bahwa di 4 penjuru lautan semua manusia adalah bersaudara. Karena itu saya juga terkadang tidak suka terhadap etnis Tionghoa yang suka berpandangan negatif terhadap etnis lainnya. Bahkan subetnis ( cat:ini adalah istilah yang membedakan walau tidak tepat penggunaan istilah ini ) Tionghoa sendiri sering memiliki pandangan negatif terhadap sub-etnis Tionghoa lainnya. Misalnya sub- etnis Khe dengan sub-etnis Hokian misalnya. Budaya Tionghoa Indonesia sekarang ini sadar maupun tidak sadar telah menyerap budaya lokal setempat. Misalnya kue keranjang yang tidak dikenal di Tiongkok. Marilah berjabat tangan erat membangun negri ini tanpa dilandasi diskriminasi dalam bentuk apapun. hormat saya , Xuan Tong --- In [email protected], nana sutrisna <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Penindasan yang dialami keturunan China mungkin disebabkan sikap orang China yang tidak berpihak kepada kaum pribumi pada zaman penjajahan (mungkin juga sikap tidak berpihak ini dilembagakan oleh Belanda bukan karena kehendak orang China itu sendiri). sehingga ketika kemerdekaan telah tercapai dan kaum pribumi menjadi penguasa direpublik ini, nasionalisme dan sikap mendukungnya keturunan China terhadap pemerintah Indonesia masih diragukan. apalagi ditambah ada semacam kepercayaan yang menyebar dilingkungan masyarakat China di Indonesia bahwa pada suatu hari negeri Tiongkok akan menguasai negeri - negeri diselatannya termasuk Indonesia. > > Tidak diragukan banyak sekali orang China yang ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia, tidak diragukan juga banyak sekali orang China yang memiliki nasionalisme yang tinggi melebihi orang - orang yang disebut pribumi. > > Tidak terhitung juga jasa - jasa orang China terhadap negeri ini dari masalah keagamaan, budaya, olah raga bahkan ilmu pengetahuan. > > Saya percaya manusia Indonesia yang yang plural ini bisa hidup berdampingan dengan baik. tanpa salah satu pihak kehilangan identitasnya. Masing - masing pihak bisa hidup merdeka tanpa sedikitpun rasa takut terhadap pihak yang lain. > > Tidak ada dominasi mayoritas maupun tirani minoritas. dominasi mayoritas jelek, tirani minoritaspun buruk. semuanya harus merasakan keadilan. Dan saya kira semua pihak bisa bekerja sama tanpa perlu saling mengambil keuntungan dengan dzolim. > > penderitaan orang China, juga dirasakan orang Jawa yang leluhurnya PKI, juga dirasakan orang Sunda yang leluhurnya DI TII. > > Saya kira penindasan di Aceh juga sistematis dan terlembaga. dari sejak sebelum merdeka sampai setelah reformasi Aceh tidak berhenti dari penindasan dan kesengsaraan. Pemerkosaan, pembunuhan dan perampokan terus berlangsung disana walaupun sepi pemberitaan. > > > > > > [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Wah, rekan sutrisna tidak bisa begitu saja memukul rata semua penindasan di zaman orba itu. > Penindasan yang terjadi di Aceh, Riau, Papua dll. itu bersifat lokal dan kasus per kasus, sementara penindasan yang menimpa keturunan Chinese di Indonesia itu bersifat sistematis, institutional/melembaga dan seragam di seluruh Indonesia. Sama sekali tidak sama dan tidak bisa disamakan. > > Sekarang sih sudah era reformasi, yang dulu biarlah berlalu, ke depanlah yang harus kita lihat, janganlah melihat ke masa lalu, apalagi sampai mengulangi kesalahan di masa lalu, misalnya dengan program pembauran, agama, kawin campur dsb. > > Salam, > Suryadi > > > > nana sutrisna <[EMAIL PROTECTED]> > Sent by: [email protected] > 29/04/2005 02:41 PM Please respond to > [email protected] > > > To > [email protected] cc > Subject > Re: ENGKONG ACONG Fw: [budaya_tionghua] Agama = sarana pembauran? > > > > > Penindasan yang dilakukan orla dan orba tidak hanya terhadap orang China. orang yang disebut pribumipun mengalami hal yang sama. misalnya saja orang Aceh, Riau, Papua, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dll. > > Juga tidak hanya yang komunis seperti PKI. dialami juga oleh DI TII, Haur Koneng, Tanjung Priuk, Lampung dsb yang notabene beragama islam. > > Cap negatif dan jelek tidak hanya yang dituduh PKI yang dituduh DI pun mengalami yang sama cuma tidak disuarakan sekeras kasus PKI ini. masalah keras atau tidak terdengarnya itu bukan berarti penderitaannya lebih ringan tapi karena faktor pemberitaannya yang kurang berimbang. > > Yang dicap PKI dan mengalami diskriminasi karena stigma itu tidak hanya orang China bahkan orang Jawa yang merupakan suku mayoritas Indonesia pun mengalami hal yang sama. mereka terhina dan terlunta - lunta. > > kalau dulu orang China tidak boleh memunculkan identitas ke Chinaannya tapi sekarang kan bisa. China dengan segala macam atribut kebudayaannya masih ada dan terus berkembang. > tapi suku lain yang disebut pribumi mengalami kehancuran identitas. hilang bahasanya dan budayanya. misalnya penduduk asli lampung dan beberapa suku terasing di nusa tenggara dan Papua. bahasa dan budaya mereka dikabarkan telah mengalami kepunahan. jangankan yang dipedalaman suku sunda yang dekat ibukota saja ramai dibicarakan akan mengalami kepunahan bahasa dan budayanya. > > jadi hal - hal semacam itu tidak hanya monopoli orang China di Indonesia, orang yang disebut pribumipun mengalami hal yang sama. > > > > BUD'S <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > TETANGGAKU ENGKONG ACONG > > Kalau seseorang melihat garis-garis yang panjang melipat dan dalam yang > menuakan wajah Engkong Acong, rasanya nggak perlu jadi seorang pakar > peramal kalau hanya untuk mengetahui macam mana kehidupan yang pernah > dilalui Engkong, tetanggaku. > > Sampai sekarang Engkong masih sehat-sehat, walaupun sudah melalui musin > penghujan dan kemarau sebanyak 76 kali. Badannya memang nggak setegap > dulu lagi, dan juga sudah banyak muncul bintik-bintik hitam yang selalu > menghiasi kulit semua orang yang sudah uzur. Saya tahu begitu, karena > Ia suka membuka bajunya berjemur di depan rumahnya setiap jam 10 pagi. > Ia > suka sekali menceritakan pengalaman kuda gigit besinya, waktu orang > berambut > merah - demikian istilahnya untuk penjajah Belanda dan si Jepang yang > kate > berkuasa di Indonesia. Setiap ada kesempatan, di malam hari ketika kami, > yang waktu itu masih anak-anak bermain dan berkumpul di terasnya, ia pun > mulai mengisahkan kepahitan hidup yang pernah dijalaninya dulu, berharap > kami belajar makna kehidupan dan menghargai setiap butir nasi yang > tersedia > di piring kami, walaupun bagi kami cerita-ceritanya itu sering hanya > numpang lewat di telinga saja. > > Engkong Acong memang lahir di Indonesia, dan belum pernah sekalipun > menginjakkan kakinya di Tiongkok, tanah leluhurnya. Waktu itu keadaannya > miskin banget, sama seperti orang-orang lainnya pada jaman tersebut. > Namun sekarang ia sudah hidup lumayan layak, disokong keenam anaknya > yang > sudah bekerja dan menikah semua. Pekerjaan pertama Engkong adalah > penjual > rokok pajangan/stand kecil di tepi jalan samping pelabuhan kota kami. > Bersama > penjual rokok lainnya mereka mengais-ngais rezeki sekedar untuk tetap > dapat > bertahan hidup dari hari ke hari. Perbedaannya - this is the best part, > menurut Engkong sendiri - kalau makan siang, ketika yang lain makan nasi > bungkus Padang pake daging ayam, Acong kecil yang baru 14 tahun, hanya > makan nasi putih yang dibawa dari rumah dengan lauk asinan yang > sangat-sangat murah. Selang lima tahun kemudian, Engkong sudah punya > toko > kelontong kecil di sana, sedangkan penjual rokok sejaman dia pada nggak > tahu sudah kemana. > > Ganasnya hidup di jaman penjajahan, bersama-sama penduduk lainnya > keluarga > Engkong sering harus berpindah tempat mengungsi karena ada pengeboman > dan > peperangan di mana-mana. Ketika kembali, adalah pahit sekali saat > seseorang > harus menerima kenyataan kalo rumah dan harta benda sudah ludes dan > betapa > mereka harus memulai dari awal lagi - itu terjadi berulang kali. Banyak > pula keluarga atau saudara Engkong yang dibunuh Jepang, hanya karena > membela rakyat. Namun nggak ada satu pun orang Tionghoa yang tercatat > sebagai pejuang dalam buku sejarah, entahlah, mungkin lembaran tersebut > lepas dari bukunya. > > Kemudian datanglah saat-saat paling suram dalam hidup Engkong Acong. > Zaman revolusi telah tiba, ketika di tahun 66, tak ada satu kali pun > Engkong > menyangka jika orang-orang berkulit kuning akan dimusuhi dan dituduh > komunis, walaupun banyak dari mereka yang tidak tahu apa-apa, hanya tahu > bagaimana supaya periuk nasinya di dapur setiap hari ada mendidih saja. > Sejak saat itulah kehidupan nasib Engkong dan semua orang Tionghoa di > Indonesia berubah, bagaikan orang kulit hitam di negeri Barat sana. > Semua > hal-hal yang berbau Tionghoa dicoba dihilangkan baunya, termasuk juga > perayaan Tahun Baru sesuai dengan adat dan kepercayaan yang dianut > seseorang, yang walaupun sudah dijamin UUD 1945 itu. Bukan itu saja, > katanya KTP untuk Engkong Acong juga ada spesifikasi khususnya, lain > dengan > Joko dan Sitorus punya. Anak-anak Engkong sampai cucu-cucunya juga harus > punya SBKRI, untuk dapat sekolah, padahal sudah jelas-jelas lahir di > Indonesia dan punya bukti identitas Kartu Penduduk, sementara Engkong > Acong > sendiri sudah punya. Kalau Engkong adalah sudah orang Indonesia, lalu > mengapa pula dipertanyakan warga negara mana anak dan cucunya. Kalau > memang > bukan warna negara, mengapa ada Kartu Tanda Penduduk pula? Namun Engkong > harus menerima bahwa kadang kala ada hal-hal yang tidak dapat > dipertanyakan. > > Waktu cucunya yang kelas V SD menanyakan arti Bhinneka Tunggal Ika untuk > pelajaran sekolahnya, Engkong pun tidak bisa menjelaskan mengapa semua > yang > berbeda-beda harus disatu-satuin dan disama-samain, melenceng jauh dari > arti sebenarnya, biarpun berbeda-beda namun merasa tetap satu, dimana > orang > dapat menghargai perbedaan yang ada dan bukannya mencoba untuk > menghilangkan perbedaan yang diciptakan Tuhan itu. Engkong yang nggak > sekolah tinggi-tinggi banget juga sering heran apa yang dimaksudkan > dengan > pembauran bila pemerintah sukanya membuat perbedaan, misalnya > dimana-mana > ada kolom isian dalam formulir untuk melihat seseorang itu WNI atau WNI > keturunan. Lha katanya pembauran, kok malah sengaja dibeda-bedain > begitu? > > Nasib juga makin sering mempermainkan Engkong, ketika ia dipaksa untuk > tidak menjadi dirinya sendiri. Ketika dipandang secara aneh oleh > orang-orang di luar karena mata sipitnya, atau ketika ia dipaksa untuk > menggunakan bahasa Indonesia yang tidak begitu dikuasainya, demi alasan > persatuan, sementara sekolah-sekolah malah mengajarkan bahasa- bahasa > daerah. > > Ia juga sudah kenyang pula diterpa isu-isu biarpun bukan artis ngetop > seperti yang menyebutkan bahwa kalo yang namanya orang Tionghoa pagar > rumahnya tinggi-tinggi karena tidak mau bergaul dengan orang lain, > padahal > rumah Engkong nggak ada pagar sama sekali. Maklum rumahnya sangat > sederhana > dan nggak ada apa-apanya. Kalo ada harta yang banyak, Engkong juga mau > bangun pagar tinggi-tinggi. Masalahnya pagar tinggi itu bukan pada > orangnya > tapi pada kekayaan seseorang, toh banyak juga yang bukan Tionghoa yang > pagarnya jauh lebih tinggi lagi karena mereka takut akan keamanan > rumahnya > yang mewah. Bahkan banyak orang Tionghoa di daerah yang sama seperti > Engkong, hidup hanya selayaknya, banyak orang Tionghoa yang jadi tukang > sayur dan tukang sampah, sampai-sampai Engkong juga heran mengapa > dikatakan > orang Tionghoa ekonominya kuat? > > Herannya, ketika ia membaca berita tentang penduduk Suriname Jawa pada > koran harian langganannya, hatinya pun merasa geli. Orang asal Jawa yang > pada jaman londo-londo masih berkuasa, dipindahkan ataupun dikirim paksa > ke > sana untuk membuka perkebunan, setelah melewati berbagai jaman, akhirnya > menetap dan beranak-cucu di sana. Mereka tetap mempertahankan > adat-istiadat > Kejawaan mereka, bahkan ada siaran radio dalam bahasa Jawa di Suriname. > Berita tersebut dengan bangga dimuat dan disebarluaskan oleh media massa > Indonesia. Tapi, haiyaa! Di halaman lainnya, mengapa kok ada berita tak > terkait yang mengisahkan betapa orang Tionghoa Indonesia yang dikutuk > habis-habisan hanya karena persoalan bercakap-cakap sesama kawan dalam > bahasa ibu mereka. Tapi Engkong Acong pun diam tak berkomentar banyak. > Memang, kadang kala ada hal yang tidak perlu dipertanyakan. > > Saya tanyakan ke Engkong, bagaimana mereka saat itu, bukankah begitu > susah? > Bagaimana ia bisa tetap hidup. Ia pun mengatakan simpel saja: ilmu > dikejar > anjing! Ia pun menjelaskan, kalau kita lomba lari sama anjing, pasti > anjing > menang karena anjing punya empat kaki, kita cuma punya dua. Tapi kalau > kita > sudah dikejar anjing siapa akan menang? Saya mengerti juga kalau > seseorang > menempatkan diri untuk hidup dalam keadaan terpaksa dikejar-kejar > penderitaan dan hambatan hidup, semua daya upaya pasti dikerahkan supaya > kita bisa tetap hidup. Engkong cuma tersenyum saja, walaupun giginya > sudah > jarang pula sekarang. Saya sering menduga kalo ia berumur panjang pasti > karna ia selalu tersenyum walaupun sedang menderita. > > Adalah pada suatu pagi di bulan Februari, ketika Engkong mendengar > suara; > satu suara yang begitu dikenalnya. Suara irama tabuhan yang mantap dan > kuat. Tapi hampir pula ia tidak percaya. Dibukanya jendela lantai dua > rumahnya dan dilongokkan kepalanya ke depan bersama badannya, sampai > hampir-hampir jatuh kalau ia tidak cepat memegang pinggiran jendela. > Tetapi tetap saja ia tidak bisa percaya mata dan telinganya. "Amah! > Amaaah! > Amaaahhh! Ada Barongsai dan Naga!" Ia berteriak-teriak memanggil > istrinya > untuk ikut melihat, tidak sadar kalau Amah sudah meninggalkannya ke > surga > tahun kemarin. Sudah begitu lama, sudah begitu lama. Tiga puluh tahun > lebih! Tenggorakannya terasa serak, ia mau berteriak lagi, namun yang > keluar cuman suara sesegukan. Matanya juga tidak bisa bekerja sama, > bulir-bulir panas mengalir begitu saja melewati pipinya. > > "Amaaahhh, ada nagaaaa!" akhirnya keluar juga isi hatinya yang tumpah > ruah. > Jalanan di depan rumahnya sebentar saja penuh dengan penonton berbagai > usia > dan kalangan yang berlarian keluar untuk menonton arak-arakan atraksi > Barongsai dan Naga. Suasana begitu ribut, namun ada atmosfir kegembiraan > yang penuh di udara. Seperti ada sumbat yang terlepas dan keriangan yang > selama ini tertahan menyembur ke mana-mana. Entah apa yang ada di benak > Engkong saat itu, saya tidak pernah tahu. Saya cuman melihat mulutnya > komat-kamit di antara isakannya seperti mengucapkan kata "Kamsia, > kamsia, > kamsia." Memang, kadang kala ada sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan! > > Wassalam, > > -ARH's > > > > > > > > .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. > > .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. > > .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. > > .: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > Disclaimer: > This email may contain privileged and/or confidential information intended only for the use of the addressee. If you are not the addressee, or the person responsible for delivering it to the addressee, you may not use, copy or deliver this to anyone else. If you receive this email by mistake, please immediately notify us. > > Opinions contained herein may be the personal opinion of the sender and do not necessarily represent the views of the G K Goh Group. If you are in any doubt as to whether the opinions are officially endorsed by the G K Goh Group, please contact our Compliance Dept at (+65) 6225 1228 for clarification. > > > .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. > > .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. > > .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. > > .: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. > > > > --------------------------------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Kunjungi website global : http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Untuk bergabung : http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Jaringan pertemanan Friendster : [EMAIL PROTECTED] :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
