Solidaritas dan sambutan positif yang disampaikan dan diperlihatkan mulai dari pemimpin nasional (Presiden SBY) dan daerah (Gubernur DIY Hamengku Buwono X, dll) serta tokoh nasional lainnya, sampai dengan beberapa media massa dalam menyambut perayaan Imlek tahun ini di seluruh Indonesia (dan juga tahun-tahun sebelumnya) merupakan peristiwa yang menggembirakan bagi masyarakat etnis Tionghoa Indonesia.
Selain kegembiraan dan optimisme dalam menyambut perayaan Imlek tahun ini yang merupakan salah satu icon keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia, adalah aspek psikologis dan politis yang dirasakannya, yaitu mereka merasa diakui (atau diakui kembali) sebagai bagian integral dari bangsa besar ini, serta mengukuhkan kembali "sense of nation" and "sense of belonging" dalam "mind and hearts" etnis Tionghoa terhadap negara tempat mereka hidup, tinggal dan dibesarkan, dan ini merupakan salah satu faktor penting yang diperlukan dalam proses "Nation Building". Sudah tentu masih banyak peraturan-peraturan dan praktek-praktek sisa sisa warisan masa lalu yang bersifat diskriminatif yang masih harus dialami sehari-hari oleh warga etnis Tionghoa, tetapi perkembangannya menuju ke arah yang lebih positif , sesuai dengan perkembangan arus jaman masa kini. Untuk ini orang tidak melupakan jasa Gus Dur dan Megawati yang melakukan terobosan bersejarah, merintis dan merajut kembali benang yang terputus selama 32 tahun.. G.H. =============================================================== --- In [email protected], "HKSIS" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >JAKARTA, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Ny Ani >Bambang Yudhoyono dengan berpakaian merah menghadiri Perayaan Tahun >Baru Imlek Nasional 2558 di Jakarta, Sabtu (24/2). Dalam kesempatan >itu, Presiden minta semua pihak tidak saling menyakiti, mencaci >maki atau berkata-kata kasar, dan memfitnah atau melakukan >pembunuhan karakter. >.........................deleted............................. >"Kita tidak suka mendapat caci maki dan kata-kata kasar dari orang >lain. Untuk itu, janganlah kita gemar memaki-maki dan mengeluarkan >kata-kata kasar kepada orang lain," ujar Presiden dengan suara >lantang. >................................................. >Mengaitkan tema perayaan tahun baru Imlek dengan apa yang tengah >terjadi di Tanah Air, Presiden mengajak seluruh rakyat membangun >kehidupan yang berakhlak, penuh etika dan tenggang rasa yang tinggi. >........................deleted....................... >Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama Ny Shinta >Nuriyah datang beberapa menit setelah Presiden Yudhoyono tiba. >Ketika datang, Abdurrahman Wahid mendapat sambutan tepuk tangan. >......................deleted........................... >Di Indonesia, perayaan tahun baru Imlek nasional sudah delapan kali >digelar sejak tahun 1999. Abdurrahman Wahid yang membuka awal >tradisi itu sehingga, karena jasanya itu, kehadirannya mendapat >sambutan tepuk tangan meriah. > >Dalam sambutannya, Presiden menegaskan komitmen pemerintah yang >tidak memberlakukan diskriminasi atas dasar apa pun, apakah itu >suku, ras, atau agama. Semua warga negara mempunyai hak dan >kewajiban yang sama. "Kita tidak lagi mengenal warga pribumi atau >nonpribumi dan warga asli atau keturunan. >Semua punya hak pelayanan publik yang sama," ujarnya, yang disambut >tepuk tangan. > >Di tengah bencana alam dan kecelakaan transportasi, Presiden >berharap perayaan Imlek dimaknai sebagai ladang amal, kepedulian, >dan peningkatan kesetiakawanan sosial. Dengan kebersamaan, >kehidupan bangsa yang penuh dengan perbedaan akan tumbuh harmonis >dalam mosaik indah Indonesia. > >
