Yang benar adalah :

Rakyat Tiongkok bersuka cita atas terpilihnya Beijing sebagai penyelenggara 
Olympiade.
Orang2 Tionghoa di seluruh dunia marah atas kampanye rasis di salah satu film 
holywood.
Tionghoa Indonesia menyambut gembira keluarnya undang2 kewarganegaaan yang 
baru. 
Meski sama2 Tionghoa perantauan, orang Tionghoa di Indonesia memiliki pola 
berpikir yang lain dng Tionghoa Amerika, apalagi dengan Tionghoa asli yang 
berdiam di negeri Tiongkok.

Dari contoh diatas, jelas penggunaan Tionghoa dan Tiongkok bisa saling 
overlaping, tergantung konteks dan pola kalimatnya. dan dng kata2 bantu seperti 
orang, rakyat negeri, warga dll, semua akan menjadi jelas. alasan untuk membuat 
istilah khusus untuk mengejar efisiensi istilah agak dipaksakan, apakah kita 
harus menciptakan istilah khusus bagi Jawa Suriname? atau orang Indonesia yang 
sudah warga Belanda? untuk ini, coba tanya teman2 yang ada di Eropa, seperti 
Pak Danardono.

Salam,
ZFy


  ----- Original Message ----- 
  From: Benny Lin 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, November 14, 2007 1:42 PM
  Subject: [budaya_tionghua] Re: Lalu bagaimana ...? Tambahan + Jangan 
melenceng dari topik


  Saat ini saya lebih tertarik kepada penggunaannya di media-media
  informasi yang berbahasa Indonesia (yang baik dan benar), bukan
  penggunaanya di lapangan. Jika saja semua koran mau memakai istilah
  non-Cina, maka lambat-laun yang di lapangan juga mengikuti. Toh tidak
  ada peraturan yang menyuruh mereka HARUS mengikuti ketetapan maupun
  TIDAK BOLEH melanggar ketetapan bukan? Jadi juga ada segi
  linguistiknya dari pembahasan yang saya angkat ini. Tapi mari tidak
  melenceng ke sana. 

  Menurut Bung Chan (yang saya anggap mewakili kelompok #1 dalam 
  balasan saya #28483) saya adalah salah satu penggagas pembedaan
  istilah ini, wah, saya jadi tersan'd'ung... Sebenarnya saya malah
  tidak setuju Cina digunakan, tapi saya setuju orang Tionghoa dan
  Tiongkok perlu dibedakan, karena mau tidak mau perlu diakui bahwa
  budaya kita sudah berbeda, kalau ketemu juga 'ndak gathuk' istilah
  Jawanya. Pembedaan ini saya dapat dari berbagai media cetak yang
  menggunakan istilah ini (seperti Jawa Pos dsb), dan dalam hal
  jurnalisme serta karya cetak lainnya yang memakai ─ sekali lagi saya
  tekankan ─ bahasa Indonesia yang baik dan benar, hal ini diperlukan
  sekali. Kemungkinan besar pendukung kelompok #1 belum pernah menjumpai
  kalimat yang membingungkan/ambigu mengenai Tionghoa/Tiongkok ini. 

  Baiklah kita lihat sebuah kalimat (buatan saya): 
  *Puluhan juta orang Tionghoa merasa sedih dengan kematian Deng Xiaobing. 

  Itu apa tidak membingungkan, orang Tionghoa-Indonesia apa orang dari
  Tiongkok sana? Walaupun orang Tionghoa Indonesia mungkin ada puluhan
  juta (yang pasti tidak ratusan), apa mungkin sebanyak itu yang
  bersedih? Kalau orang dari Tiongkok yang berdukacita, apa kalimat
  tersebut juga menggabungkan orang Tionghoa lainnya di seluruh dunia?

  Lain halnya jika kalimat tersebut diganti menjadi
  *Ratusan juta orang Tionghoa merasa sedih...

  Nah ini jelas tidak mungkin orang Indonesia semua

  atau:
  *Puluhan juta orang Tiongkok merasa sedih...
  *Puluhan juta orang Tiongkok di seluruh dunia, termasuk Indonesia,
  merasa sedih...

  Namun kalimat terakhir tidak mungkin dicetak karena memboroskan kata
  yang berharga dalam jurnalisme. Jadi pilihannya tinggal Tiongkok atau
  Tionghoa?

  =========
  Lalu mengenai istilah suku Tionghoa yang universal, saya rasa
  tanggapan KenKen #28393 menjadi jawaban saya, juga saya mengaminkan
  tulisan Bp. Danardono #28382 (yang juga mengambil contoh Suriname,
  selain Tionghoa) bahwa suku Tionghoa di Indonesia (saya tidak bicara
  tentang mereka yang di Jakarta) sudah melebur menjadi sub-suku tempat
  mereka tinggal, entah suku Tionghoa-Jawa, Tionghoa-Minahasa, dll, yang
  berbeda satu dengan yang lain (tapi secara kesatuan Tionghoa) dan
  sebagai orang Tionghoa berbeda dari orang Tiongkok.

  Chan CT:
  "Saya tetap berpendapat, kecuali ada orang yang bisa menyangkal, bahwa
  sebutan pada satu bangsa, satu komunitas bahkan pribadi orang, itu
  sepenuhnya adalah hak bangsa, komunis dan pribadi seseorang, kita
  hanya bisa nurut keinginan mereka ingin disebut apa baiknya."

  Ini rasionalisasi yang sama yang saya gunakan untuk membela penggunaan
  istilah Tionghoa, karena memang nyatanya ada orang Indonesia Tionghoa
  yang menuntutnya. Tapi tidak serta-merta hal yang sama berlaku untuk
  negara Tiongkok. Saya tidak dapat bilang bahwa mereka tersinggung,
  soalnya bahasanya saja beda, mereka (mayoritas orang Tiongkok) yang
  berbahasa Mandarin mana paham bahasa Indonesia. Saya juga tidak dapat
  menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan ada orang Tiongkok (bukan
  Tionghoa, harap diperhatikan) yang saya tahu (karena saya tidak banyak
  kenalan orang Tiongkok yang tahu bahasa Indo) tidak setuju dengan
  istilah Cina dan menuntut penggunaan istilah Tiongkok. Jadi bagi
  pendukung istilah Cina atas Tiongkok, mereka bilang "Lho, ini kan
  bahasa Indonesia, kenapa yang bahasa Mandarin ikut-ikutan?" Lalu
  jikalau pun ada orang Tiongkok yang menuntut hal itu, atas dasar apa?
  itu alasan mereka, saya hanya meneruskannya.

  --- In [email protected], "ChanCT" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Lha iya, hanya masalah penyebutan Tiongkok/Tionghoa atau Cina saja
  sudah berkepanjangan beberapa tahun, nggak juga ada habis-habisnya,
  ... lalu bagaimana?
  > 
  > Bagi saya sederhana saja, masalahnya terjadi karena pada Pemerintah
  RI belum ada keberanian untuk mengakui kesalahan pemerintah terdahulu
  yang menetapkan perubahan sebutan Tiongkok/Tionghoa menjadi CINA itu!
  Satu keputusan Presidium Kabinet yang tidak bersahabat terdorong
  politik anti-Tiongkok Amerika dan sekaligus melecehkan Tionghoa di
  Indonesia. Padahal, setelah Soeharto lengser, Presiden Habiebi,
  Presiden Wahid, Presiden Megawati dan juga Presiden Susilo dalam
  pertemuan resmi sudah kembali menggunakan sebutan Tiongkok/Tionghoa,
  tapi keputusan Presidium Kabinet belum juga dicabut, masih tetap berlaku.
  > 
  > Sedang didalam pergaulan sehari-hari dalam masyarakat, terserah
  sajalah. Tak perlu kita paksakan harus kembali gunakan
  Tiongkok/Tionghoa atau tetap gunakan Cina. Hanya saja saya ingatkan,
  bagi seorang yang beradab dan berpendidikan, tentu begitu mengetahui
  lawan bicara ada sebagian orang tersinggung atau merasa dilecehkan
  dengan sebutan Cina, ya gunakanlah sebutan Tiongkok/Tionghoa. Tidak
  seharusnya ngotot gunakan sebutan Cina apapun alasannya, kecuali
  memang sengaja mau bikin ribut dan adu jotos. Heheheheee, ... Saya
  tetap berpendapat, kecuali ada orang yang bisa menyangkal, bahwa
  sebutan pada satu bangsa, satu komunitas bahkan pribadi orang, itu
  sepenuhnya adalah hak bangsa, komunis dan pribadi seseorang, kita
  hanya bisa nurut keinginan mereka ingin disebut apa baiknya. Saya
  tetap menganggap adalah seorang yang tidak beradab, seandainya mereka
  tidak senang dengan sebutan Cina, kita tetap ngotot menggunakan
  sebutan Cina pada mereka.
  > 
  > Mengenai usul Bung Benny, kita gunakan Cina untuk membedakan dengan
  Tionghoa di Tiongkok juga tidak masuk akal. Yang membedakan mereka itu
  hanyalah warganegara, sedang sebutan suku ya mestinya sama dan tidak
  perlu dibedakan sebutan. Itu namanya mengada-ada saja. Sama halnya,
  dengan orang Jawa yang jadi Warganegara asing, mereka tetap saja bisa
  disebut orang Jawa. Jawa Suriname, misalnya. Dan tidak usah mencarikan
  sebutan lain untuk membedakan Jawa Indonesia dan Jawa Suriname, kan!
  Jadi, betul sebutan Tionghoa itu pada orang yang berdarah Tionghoa,
  etnis Tionghoa dimana pun mereka berada dan apapun warganegaranya.
  Untuk membedakan warganegara, ya harus ada tambahan jadi Tionghoa
  Indonesia, Malaysia, Singapore dsb., ...
  > 
  > Yang menjadi masalah sekarang, benar sebutan Tionghoa untuk orang
  itu sepertinya hanya terjadi kebiasaan di Indonesia, entah gimana
  asal-usulnya. Di Tiongkok sendiri, Tionghoa (Zhong Hua) biasa untuk
  sebutan bangsa, Zhong Hua Minzhu, kebudayaan Tionghoa, Zhonghua
  Wenhua, sedang untuk orang biasa menggunakan orang Tiongkok (Zhong Guo
  Ren), atau orang Hua (Hua Ren) dan tidak biasa disebut orang Tionghoa
  (Zhong Hua Ren). Dan yang pasti, kita harus diingat betul-betul,
  rakyat Tiongkok tidak pernah mau menyebutkan dirinya dan paling anti
  disebut orang CINA (zhi-na Ren)! Karena itu memang dirasakan sebutan
  untuk menghina dan melecehkan! Begitu juga berlaku bagi penduduk Hong
  Kong, dalam hal ini neng Uli keliru, penduduk HK dalam menyebutkan
  dirinya juga tidak hendak disebut Cina yang Zhi-na Ren dalam bhs.
  Tionghoa itu. Tentu lain kalau menggunakan sebutan China dalam bhs.
  Inggris, ya. 
  > 
  > Salam,
  > ChanCT



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke