Sdr. Benny, 

Kalau menurut saya, makanan, kebiasaan, musik, dan
budaya lain, bukan saja tidak universal tapi nasional
saja tidak.
Maksud saya, masakan Indonesia, kalau anda di Bandung,
masakan Indonesia itu pasti masakan Bandung, kalau
dari lain daerah disebut namanya masakan Padang,
masakan Makasar dll. Semua berbeda. Bisakah masakan
Batak diterima di tanah Sunda. Tentu tidak.

Demikian juga misalnya masakan Tionghoa. Masakan
Tionghoa di Indonesia adalah masakan Tionghoa yang
sudah disesuaikan dengan lidah dan bahan Indonesia,
dan itu juga sebetulnya bukan masakan Tionghoa
nasional, tapi masakan yang berasal dari kampung
halaman leluhur orang Tionghoa Indonesia, yaitu
propinsi Fujian dan Guangdong atau masakan dari orang
Hokkian, Hakka, Konghu dll. Kalau anda pergi ke daerah
lain, masakan Tionghoanya lain lagi.
Saya mempunyai kesimpulan dari kecil hingga besar,
bahwa orang Tiongkok tak suka makan pedas. Lihat saja
semua orang yang saya kenal yang masih lidah totok,
tak ada yang makan makanan pedas, tidak seperti orng
Tionghoa yang besar di Indonesia. Kesimpulan ini
sampai saya dewasa. Tapi kemudian, terutama setelah
pergi ke Tiongkok, saya jadi heran, hampir tiap daerah
yang saya kunjungi makan pedas, di propinsi Sichuan
bagian barat Tiongkok hampir semua maskan memakai
cabai. Bahkan ada masakan goreng cabai hijau. Yang
lezat sekali menurut saya. Di daerah Beijing timur,
sekitar situ saya sulit menemukan restoran yang tidak
pakai daging kambing. Semua kambing, ketika saya tanya
daerah situ memang mayoritas penduduknya orang Hui
yang beragama Islam.Itu ibukota Tiongkok. 
Jadi yang disebut masakan Tiongkok oleh orang Hui, yah
itulah yang menggunakan daging kambing. Masakan
Tiongkok menurut orang Hokkian adalah masakan Tiongkok
menurut lidah Hokkian. 
Jadi istilah itu luas, jangan dianggap semua seragam.
Bahkan ada yang mengganggap orang Tionghoa sipit.
Belum tentu, lihat orang Uzbekistan sipit, orang
Mongol sipit, demikian juga Jepang, korea dll.
Tapi bisa kebalikan, sebagian suku-suku non Han di
Tiongkok selatan, Guangxi, dan Yunnan terutama, ada
yang lebih mirip Melayu. Lebih hitam, dan tidak sipit.
Itu orang Tiongkok totok. Di barat suku Uygur, suku
Tajik, setengah putih, itupun orang Tiongkok totok.
Jadi makanya kita tak boleh generalisai, bodoh,
miskin, jorok, bersih, pintar dll. 
Kalau anda datang ke Singapore anda selalu dianggap
kaya, karena yang datang ke sana lazimnya memang
berduit, yang miskin mana mungkin ke Singapore. Kalau
anda datang ke Tiongkok, andapun dianggap kaya, karena
memang kebanyakan kaya. Karena kayak lalu
petantang-petenteng, akibatnya mereka ada rasa dendam.
Ketika mereka mulai berduit, membalas anda dihina.
Itulah sebabnya kita tak boleh generalisasi, kita
bertemu dengan orang yang dilahirkan oleh ibu yang
berbeda, di tempat yang berbeda, bagaimana bisa sama?
Tiap negara ada yang sombong ada yang rendah hati, ada
yang jahat, pasti ada yang baik dsb. Jadi anda bertemu
siapa? Bertemu maling dimana saja, anda akan ditodong,
dirampas atau ditipu. Dalam kesusahan bila bertemu
orang yang baik hati, anda akan ditolong.
Melihat orang harus lihat orang ybs. jangan diambil
kesimpulan karena suku, karena agama atau karena
asalnya. Bila demikian anda akan mengalami kesalahan
terus menerus. Anda rugi sendiri.
Salam
Liang U


--- Benny Lin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Terima kasih. sebelumnya saya selalu terpaku pada
> kata bantu "orang",
> saya tidak berpikir kalau bisa pakai "rakyat",
> "warga", dll seperti
> yang dicontohkan.
> 
> Sekarang saya bisa paham jalan pikiran kelompok 1
> (yang beranggapan
> bahwa istilah Tionghoa adalah universal), tapi masih
> ada halangannya
> menurut saya, yaitu bagaimana kalau yang ditanyakan
> adalah budaya,
> makanan, adat-istiadat, dan sebagainya. Apakah
> penganut
> Tionghoa-universalis juga beranggapan bahwa yang
> disebut budaya,
> masakan, adat-istiadat Tionghoa itu juga universal?
> Tidakkah mereka
> perlu dibedakan antara adat/budaya/kulinari orang
> Tionghoa (yaitu
> Indonesia) dan orang Tiongkok (yaitu Tionghoa di
> Tiongkok)
> 
> Saya, yang masih berpikir bahwa suku Tionghoa di
> Indonesia sudah
> berbeda dengan Tionghoa di Tiongkok (orang
> Tiongkok), berpendapat
> bahwa masakan Tionghoa-Indonesia tidak sama dengan
> orang "Tionghoa
> asli" (meminjam istilah Skalaras), apalagi
> Tionghoa-Amerika dan
> Tiongkok-Amerika masakannya juga berbeda (saya tahu
> dengan pasti ^^).
> Itu saja masih makanan, belum budaya, adat-istiadat,
> de el el. Mohon
> pencerahannya. 
> 
> bagi yang membaca, saya anggap sudah mengikuti
> pembicaraan ini dari
> awal, sebab jika tidak akan terkesan membingungkan.
> maaf jika
> pembahasan orang Tionghoa!=orang Tiongkok sampai
> sejauh ini ^^ 
> 
> --- In [email protected], "Skalaras"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Yang benar adalah :
> > 
> > 1. Rakyat Tiongkok bersuka cita atas terpilihnya
> Beijing sebagai
> penyelenggara Olympiade.
> > 2. Orang2 Tionghoa di seluruh dunia marah atas
> kampanye rasis di
> salah satu film holywood.
> > 3. Tionghoa Indonesia menyambut gembira keluarnya
> undang2
> kewarganegaaan yang baru. 
> > 4. Meski sama2 Tionghoa perantauan, orang Tionghoa
> di Indonesia
> memiliki pola berpikir yang lain dng Tionghoa
> Amerika, apalagi dengan
> Tionghoa asli yang berdiam di negeri Tiongkok.
> > 
> > Dari contoh diatas, jelas penggunaan Tionghoa dan
> Tiongkok bisa
> saling overlaping, tergantung konteks dan pola
> kalimatnya. dan dng
> kata2 bantu seperti orang, rakyat negeri, warga dll,
> semua akan
> menjadi jelas. alasan untuk membuat istilah khusus
> untuk mengejar
> efisiensi istilah agak dipaksakan, apakah kita harus
> menciptakan
> istilah khusus bagi Jawa Suriname? atau orang
> Indonesia yang sudah
> warga Belanda? untuk ini, coba tanya teman2 yang ada
> di Eropa, seperti
> Pak Danardono.
> > 
> > Salam,
> > ZFy
> 
> 
> 



      
____________________________________________________________________________________
Be a better sports nut!  Let your teams follow you 
with Yahoo Mobile. Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ

Kirim email ke