Dik Ulysee yang baik, Hua itu Tionghoa, Huaren artinya orang Tionghoa. Hua adalah bangsa yang tinggal di wilayah dua aliran sungai Kuning dan Sungai Yangzi yang hidup di sana ribuan tahun yang lalu. Istilah Tionghoa muncul karena mereka tinggal di tengah dataran kedua sungai itu, yang terletak relatif di tengah. Dulu disebut Tiongguan atau dataran tengan, setelah terbentuk negara disebut Tiongkok (kok artinya negara), sedang Hua pun dari menjadi Tionghoa atau Zhonghua dalam Mandarin . Penggunaan istilah Zhonghua dan Hua di Tiongkok tergantung besar kecilnya lingkup yang dibicarakan. Kalau menyebut orang saja digunakan ren, atau Huaren, tapi kalau menyebut keseluruhan misalnya bangsa Tionghoa tidak Hua Minzu, meskipun tak salah, tapi lebih lazim Zhonghua Minzu. Jadi sebutan Huaren benar, hanya dalam Mandarin. Contohnya kontes miss Tionghoa disebut Zhonghua Xiaojie Dasai. Karena sebutannya Tionghoa, jadi bukan Tiongkok saja, semua gadis Tionghoa seluruh dunia boleh ikut,termasuk orang Tiongkoknya sendiri. Untuk membedakan, memang sekarang di Singapore dan Malaysia populer istilah Huaren. Sedang Zhongguoren berarti orang Tiongkok, untuk orang yang baru datang dari Tiongkok. Kalau ia menetap di sana, dalam statistik masuk Huaren. Demikian juga meskipun tak banyak orang Hui yang Islam kalau di Singapore masuk Huaren. Sedang di Tiongkok lebih banyak disebut berdasarkan (suku) bangsanya, misalnya orang Hui orang Han orang Tibet dll. Dulu orang Barat menyebut Chinese hanya untuk orang Han, tapi karena mereka orng Hui, Tibet dll masuk dalam negara yang bernama Zhonghua Renmin Gongheguo (Tionghua Jinmin Kionghokok dalam Hokkian) maka sekarang istilah Ingerisnya di tambah, kalau Chinese secara keseluruhan sedang orang Han disebut the Han Chinese. Tapi jangan menganggap orang Amerika tidak pernah salah, mereka tak mengerti keadaan Asia, kecuali para politikus tentunya. Rakyatnya, bahkan guru sekolah tidak tahu bahwa di dunia ada negara Indonesia. Jangan tanya istilah Chinese, Cina, atau Huaren, Tnglang dll, pasti tak mengerti. Orang Tiongkok pun sama, coba tanya orang utara, pernah dengar Indonesia? Pasti tidak. Sama saja dengan kita, tanya kebanyakan orang Indonesia, tanya dimana tempat menetap orang Uygur? Kebanyakan tak tahu, bahkan cek guru ilmu bumi, belum tentu tahu. Orang sana akan heran sekali, masa tak tahu. Penyimpangan selalu ada, namanya demokrasi (katanya), pendapat perorangan jangan digeneralisasi. Orang Tiongkok sana yang memandang rendah orang Tionghoa Indonesia banyak, beberapa rekan barusan ada yang mengatakan saya tak diaku disana disebut fangui dsb. Apakah tidak ada orang Tionghoa Indonesia yang memandang rendah orang Tiongkok? Banyak, bukankah berapa waktu yang lalu ada orang mengatakan orang Tiongkok jorok, bahkan mengatakan totok jorok. Ketika saya tanya sanggupkan anda mengclaim rumah anda lebih bersih dari rumah Li Ka Hsing yang totok itu? Beliau menjawab, oh ada yang tersindir. Padahal ia yang mengatakn totok jorok, peranakan bersih. Saya tak tersinggung, karena saya yakin lebih peranakan dari ybs.jadi lebih apik, menurut logika dia. Barusan banyak orang mengatakan dihina di Tiongkok , saya percaya, karena hal itu tergantung orang yang ditemui di sana, juga tergantung sikap kita. Saya pernah menulis pengalaman saya di Hainan, bahkan mereka menganggap saya saudara. Saya sudah turunan, dari leluhur yang datang dari Hokkian sana. Mereka juga sudah beberapa turunan dari Hokkian pindah ke Hainan. Saya katakan kampung halamanpun tak tahu cuma tahu nama kabupatennya. Mereka bilang mereka juga tak tahu dulu dari Hokkian sebelah mana leluhurnya datang. Ketika saya jawab saya beberapa turuan di luar negeri, anda di wilayah Tiongkok sendiri. Mereka jawab negara itu hasil politik. Ukraina dulu Soviet, kalau tinggal di Moskou dia pribumi, sekarang jadi orang asing. Saya pikir betul juga, teman-teman yang tinggal di Timor Timur dulu di negara sendiri, pribumi, sekarang jadi orang asing. Hanya karena politik, orangnya kan itu-itu juga. Sadarlah, kita jangan ribut-ribut masalah linguistik atau yang lainnya. Hakekatnya kita terima sebutan penghinaan atau tidak? Itu saja. Kalau kita terima yah, ada akibat psikologinya, anda dianggap kasta kelas dua. Itu saja. Ini pendapat saya, anda boleh memaki-maki kalau mau. Salam Liang U
--- ulysee_me2 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Broer Chan, > Pertanyaan gue, apakah orang Hongkong ada memakai > istilah TIONGHOA/ > ZHONG HUA ??? Soalnya di Malaysia dan Singapura > nggak ada istilah > itu. Kita pakenya HUA-REN. > Kok bisa nyasar sampai ke ZHI-NA itu gimana > ceritanya? > > Lha kita yang di Indonesia aja, kadang masih kaku > kalau menyebut diri > tionghoa, krrkkkkekeke, > biasanya dalam bahasa sehari hari pake istilah "kita > orang tenglang" > atau kalau mau tanya "dia tenglang bukan sih?" > jaraaaang banget pake > istilah tionghoa (makanya diragukan dari kaidah > bahasa afdol kaga sih > tuh istilah?) > > Oh Bung Benny pernah ada usul untuk menyebut Cina > saja kepada WN RRC? > sebetulnya masuk akal juga sih. > di PBB aja itu tiongkok masih disebut People > Republic of China khan? > Nah China kalau di Indonesiakan jadi apa? Jadi Cina > toh? > > Sama kayak kita nyebut negara INGGRIS , lha mereka > sendiri nyebutnya > ENGLAND > ENGLISH itu mah sebutan untuk bahasanya. Kok di > Indonesia bisa > kepleset jadi negara INGGRIS itu barangkali mustinya > dibetulin juga > ya. > > Lalu sebutan TIONGKOK, sebetulnya gue masih bingung > mencari > jangkarnya, kalau mau memakai sebutan tiongkok. > Dasarnya apa? > > Seluruh dunia tahunya People Republic of China, yang > kalau > diterjemahkan bebas menjadi Republik Rakyat Cina, > lalu sebutan > tiongkok itu mau kita pakai, atas dasar apa? > DAN kenapa tiongkok? Mengikuti mandarin dan Pinyin > yang sah khan > harusnya ZHONGGUO aja sekalian. > Kalau kita sekarang pake salah kaprah TIONGKOK, > jangan jangan lain > hari harus dibetulin lagi, khan kerja dua kali > tuh??? > > Coba dipikirin lagi, selain karena euphoria masa > lalu, > KENAPA TIONGKOK??? > > > ps: bahasa tionghoa mah kaga ada, yang ada itu > bahasa mandarin, > bahasa hakka, bahasa hokkian, bahasa khonghu, itu > pun harusnya > disebut dialek hakka, dialek konghu, de el el > krrrkkkkekekekek > (bukan uly kalu nggak ngeyel) > > --- In [email protected], "ChanCT" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Lha iya, hanya masalah penyebutan > Tiongkok/Tionghoa atau Cina saja > sudah berkepanjangan beberapa tahun, nggak juga ada > habis- > habisnya, ... lalu bagaimana? > > > > Bagi saya sederhana saja, masalahnya terjadi > karena pada Pemerintah > RI belum ada keberanian untuk mengakui kesalahan > pemerintah terdahulu > yang menetapkan perubahan sebutan Tiongkok/Tionghoa > menjadi CINA itu! > Satu keputusan Presidium Kabinet yang tidak > bersahabat terdorong > politik anti-Tiongkok Amerika dan sekaligus > melecehkan Tionghoa di > Indonesia. Padahal, setelah Soeharto lengser, > Presiden Habiebi, > Presiden Wahid, Presiden Megawati dan juga Presiden > Susilo dalam > pertemuan resmi sudah kembali menggunakan sebutan > Tiongkok/Tionghoa, > tapi keputusan Presidium Kabinet belum juga dicabut, > masih tetap > berlaku. > > > > Sedang didalam pergaulan sehari-hari dalam > masyarakat, terserah > sajalah. Tak perlu kita paksakan harus kembali > gunakan > Tiongkok/Tionghoa atau tetap gunakan Cina. Hanya > saja saya ingatkan, > bagi seorang yang beradab dan berpendidikan, tentu > begitu mengetahui > lawan bicara ada sebagian orang tersinggung atau > merasa dilecehkan > dengan sebutan Cina, ya gunakanlah sebutan > Tiongkok/Tionghoa. Tidak > seharusnya ngotot gunakan sebutan Cina apapun > alasannya, kecuali > memang sengaja mau bikin ribut dan adu jotos. > Heheheheee, ... Saya > tetap berpendapat, kecuali ada orang yang bisa > menyangkal, bahwa > sebutan pada satu bangsa, satu komunitas bahkan > pribadi orang, itu > sepenuhnya adalah hak bangsa, komunis dan pribadi > seseorang, kita > hanya bisa nurut keinginan mereka ingin disebut apa > baiknya. Saya > tetap menganggap adalah seorang yang tidak beradab, > seandainya mereka > tidak senang dengan sebutan Cina, kita tetap ngotot > menggunakan > sebutan Cina pada mereka. > > > > Mengenai usul Bung Benny, kita gunakan Cina untuk > membedakan dengan > Tionghoa di Tiongkok juga tidak masuk akal. Yang > membedakan mereka > itu hanyalah warganegara, sedang sebutan suku ya > mestinya sama dan > tidak perlu dibedakan sebutan. Itu namanya > mengada-ada saja. Sama > halnya, dengan orang Jawa yang jadi Warganegara > asing, mereka tetap > saja bisa disebut orang Jawa. Jawa Suriname, > misalnya. Dan tidak usah > mencarikan sebutan lain untuk membedakan Jawa > Indonesia dan Jawa > Suriname, kan! Jadi, betul sebutan Tionghoa itu pada > orang yang > berdarah Tionghoa, etnis Tionghoa dimana pun mereka > berada dan apapun > warganegaranya. Untuk membedakan warganegara, ya > harus ada tambahan > jadi Tionghoa Indonesia, Malaysia, Singapore dsb., > ... > > > > Yang menjadi masalah sekarang, benar sebutan > Tionghoa untuk orang > itu sepertinya hanya terjadi kebiasaan di Indonesia, > entah gimana > asal-usulnya. Di Tiongkok sendiri, Tionghoa (Zhong > Hua) biasa untuk > sebutan bangsa, Zhong Hua Minzhu, kebudayaan > Tionghoa, Zhonghua > Wenhua, sedang untuk orang biasa menggunakan orang > Tiongkok (Zhong > Guo Ren), atau orang Hua (Hua Ren) dan tidak biasa > disebut orang > Tionghoa (Zhong Hua Ren). Dan yang pasti, kita harus > diingat betul- > betul, rakyat Tiongkok tidak pernah mau menyebutkan > dirinya dan > paling anti disebut orang CINA (zhi-na Ren)! Karena > itu memang > dirasakan sebutan untuk menghina dan melecehkan! > Begitu juga berlaku > bagi penduduk Hong Kong, dalam hal ini neng Uli > keliru, penduduk HK > dalam menyebutkan dirinya juga tidak hendak disebut > Cina yang Zhi-na > Ren dalam bhs. Tionghoa itu. Tentu lain kalau > menggunakan sebutan > China dalam bhs. Inggris, ya. > > > > Salam, > > ChanCT > > > > ----- Original Message ----- > > From: ulysee_me2 > > To: [email protected] > > Sent: Wednesday, November 14, 2007 9:34 AM > > Subject: [budaya_tionghua] Re: Lalu bagaimana > ...? Tambahan + > Jangan melenceng dari topik > > > > > > Mau komentar soal yang ini aja: > > > > "Kalau pertimbangannya hanya sekedar pembedaan, > istilah Tionghoa > > sebenarnya juga bukan monopoli WNI. bagaimana > dng Tionghoa > Amerika? > > Tionghoa Eropa, Tionghoa Thailan dll? apa mereka > tidak berhak > disebut > > Tionghoa lagi? > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Be a better sports nut! Let your teams follow you with Yahoo Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ
