Imlek, Prosesi Pernikahan China Peranakan Hanya Bertahan di Tiga Kota
Kompas, Selasa, 5 Februari 2008 

JAKARTA, SELASA - Prosesi Pernikahan ala China Peranakan, saat ini 
hanya bertahan di tiga kota, yaitu Tangerang, Padang dan Makassar. 
Hal ini disebabkan semakin kuatnya pengaruh budaya modern, sehingga 
warga China Peranakan meninggalkan budaya tradisionalnya.

Demikian dikatakan pengamat dan peneliti Budaya Tionghoa, David Kwa, 
seusai memandu prosesi pernikahan China Peranakan di Mal Ciputra, 
Jakarta Barat, Selasa (5/2).

"Karena banyaknya pengaruh dari luar, banyak generasi muda yang 
sepertinya sudah tidak mau tahu dengan dengan budaya tradisional. 
Tapi yang masih banyak dilakukan terutama di Tangerang, yang masih 
sangat kuat budaya China-nya," papar David.

Perbedaan prosesi di Tangerang, Padang, dan Makassar, menurut David, 
lebih banyak dipengaruhi budaya lokal. Tradisi di Tangerang misalnya, 
lebih banyak dipengaruhi budaya Sunda dan Melayu. Sedangkan di 
Padang, selain perbedaan makanan juga penutup kepala. 
"Kalau di Jabotabek itukan pakai mahkota penutup kepala kembang 
goyang, kalau di Padang pakai penutup kepala sendiri. Di Makassar, 
saya belum pernah lihat langsung ya, jadi tidak begitu tahu letak 
perbedaannya," lanjut David.

Ditambahkan David, mengenai makanan yang dihidangkan saat prosesi ada 
12 macam. Angka 12 ini menandai 12 bulan dalam setahun. Maknanya, 
pasangan pengantin diharapkan dapat menjalani bahtera rumah tangganya 
dengan segala suka dan duka dalam setahun penuh.

Makanan itu diantaranya, sambal ubi goreng, abon, ayam goreng, opor 
ayam, pencok dan serundeng.

Prosesi pernikahan China Peranakan di Indonesia, dilaksanakan selama 
3 hari penuh, sementara di Malaysia lebih lama lagi, 12 hari. Prosesi 
ini merupakan tradisi Dinasti Qing tahun 1644-1911. Kata David, 
karena orang China yang masuk ke Indonesia berada pada periode 
tersebut.




Kirim email ke