Kompas,Rabu, 6 Februari 2008 P Agung Wijayanto Sejak dinyatakan sebagai hari libur nasional, Imlek di Indonesia kian menjadi peristiwa yang dekat dengan kehidupan bangsa. Imlek tidak hanya dirayakan China saja, tetapi di banyak tempat dirayakan siapa saja, baik aktif maupun pasif.
Ada yang sudah puas merayakan Imlek dengan menonton barongsai. Ada yang ikut berpakaian ala China. Ada yang ikut bermain barongsai, dan sebagainya. Dapat dipahami bila mereka memiliki alasan-alasan tertentu yang mendorong mereka ikut perayaan tersebut kendati tidak mereka ungkapkan secara eksplisit. Dengan memerhatikan fenomena yang terjadi di masyarakat hingga kini, pantaslah direnungkan nilai-nilai di sekitar perayaan Imlek yang berhasil mengundang atau mempersatukan masyarakat Indonesia dalam perayaan itu. Maka, amat menarik memerhatikan beberapa hal yang terkait dengan gagasan mengenai keselamatan atau kesejahteraan manusia yang terkandung, menjadi motivasi, atau yang dirayakan dalam perayaan Imlek. Keselamatan manusia dalam Imlek Mengingat Imlek bukan perayaan keagamaan atau dari suatu kelompok tertentu, tetapi lebih merupakan perayaan kerakyatan bersama (perayaan kaum petani), maka gagasan keselamatan atau kesejahteraan manusia tidak dapat diambil dari atau ditolak begitu berdasar tradisi "kitab suci" kelompok tertentu. Maka, nilai religiusitas yang ada harus dipahami berdasar konteks kesadaran bersama dari masyarakat yang merayakannya. Ada beberapa pemahaman keselamatan atau kesejahteraan manusia yang dihayati dalam perayaan Imlek. Pertama, keselamatan diakui bukan sebagai peristiwa tunggal atau hasil usaha perseorangan. Bagi masyarakat China, keselamatan atau kesejahteraan tidak ditemukan sebagai peristiwa mandiri, terpisah dari unsur kehidupan lain. Keselamatan atau kesejahteraan merupakan buah kesalingtergantungan secara harmonis dari semua hal yang ada "di bawah langit dan di atas bumi" (Tian Xia, Di Shang). Bagi masyarakat China, keharmonisan hidup menyangkut relasi manusia dengan alam, masyarakat, dan makhluk "ilahi". Keselamatan atau kesejahteraan hidup manusia, terutama kehidupan petani, amat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di alam, di bawah langit: cuaca, curah hujan, dan sebagainya. Begitu juga apa yang terjadi di atas bumi amat menentukan kehidupan mereka: banjir, kekeringan, wabah penyakit, hama, dan sebagainya. Perjalanan panjang sejarah telah mengantar bangsa China kepada pengakuan bahwa keselamatan atau kesejahteraan bergantung pada keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Dalam perayaan Imlek, pembaruan dan peneguhan tali keharmonisan persaudaraan dilakukan melalui acara kunjungan ke tetangga, kenalan, dan sanak saudara. Pada saat kunjungan itu, kepada mereka yang lebih yunior dibagikan macam-macam makanan dan uang yang dibungkus dalam amplop merah atau yang biasa disebut sebagai hong/ang bao. Lebih dari itu, masyarakat China juga mengakui, kehidupan manusia bergantung pula pada relasi mereka dengan yang "ilahi", para dewata, dan leluhur. Untuk itu, pada awal perayaan Imlek, mereka mengadakan upacara atau kegiatan yang bertujuan membarui dan menjaga keharmonisan hubungan-hubungan itu. Misalnya, patung atau gambar Dewa Dapur dibersihkan, bila perlu diganti dengan yang baru. Sajian berupa makanan yang bercita rasa manis dipersembahkan. Makam para leluhur dibersihkan, dan sebagainya. Kedua, keselamatan atau kesejahteraan merupakan anugerah yang pantas disyukuri. Menjelang malam Imlek, orang China pergi ke klenteng atau tempat ibadah yang lain untuk berdoa mengucap syukur atas keselamatan dan kesejahteraan yang telah mereka terima selama tahun yang segera berlalu. Rasa syukur ini diungkapkan lagi dalam upacara makan bersama keluarga. Selama perayaan Imlek, mereka diharapkan berbicara mengenai hal-hal yang baik dan indah. Kata-kata yang tidak pantas harus dijauhi. Kepada anak-anak dikisahkan perjuangan dan usaha mengusir atau mengalahkan kekuatan jahat yang dibawa oleh tahun yang lama. Kekuatan kejahatan ini sering dipersonifikasikan sebagai monster. Ungkapan usaha pengusiran makhluk itu diwujudkan dalam bentuk penyalaan kembang api atau mercon. Ketiga, keselamatan atau kesejahteraan sebagai sesuatu yang layak untuk diminta dan diusahakan. Kendati keselamatan pada satu sisi dipahami sebagai anugerah, tidak berarti keselamatan itu harus diterima secara pasif atau sebagai suatu peristiwa kebetulan. Keselamatan atau kesejahteraan manusia sudah selayaknya diminta dan diusahakan supaya terjadi. Pemasangan hio, pemberian persembahan, dan pemanjatan doa bagi orang China juga merupakan saat untuk memohon dengan serius keselamatan atau kesejahteraan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Keseriusan itu dilambangkan atau terungkap dalam jenis makanan dan minuman yang disajikan, gambar atau tulisan yang terpasang sebagai hiasan, kata-kata atau tindakan yang dilakukan selama perayaan Imlek. Dengan makan ikan (yu) selama perayaan Imlek, orang China berharap akan memperoleh kelimpahan (yu) berkat selama tahun yang baru. Pada pintu gerbang terpasang puisi (dui lian) harapan akan keselamatan baru. Masih banyak ungkapan lain yang menunjukkan harapan akan keselamatan itu. Kemanusiaan yang terbuka-inklusif Dengan memerhatikan nilai-nilai keselamatan atau kesejahteraan manusia yang dirayakan dalam Imlek, kiranya mudah dipahami bila ada banyak warga Indonesia dengan bebas ikut merayakan Imlek. Gagasan keselamatan atau kesejahteraan manusia dalam Imlek tidak jauh dari apa yang secara umum dipegang warga masyarakat Indonesia, baik yang berasal maupun yang bukan berasal dari suku atau kebudayaan China. Para warga mudah bertemu dan ber-sharing dalam nilai-nilai keselamatan atau kesejahteraan. Di tengah munculnya banyak upaya memecah-belah bangsa Indonesia dengan aneka cara masa kini, keputusan warga untuk merayakan suatu perayaan nasional secara bersama semacam ini kiranya pantas untuk disikapi secara positif, bukan dicurigai. Sebagai bangsa yang besar dan plural, Indonesia membutuhkan lebih banyak perayaan kemanusiaan yang bersifat terbuka-inklusif, di mana setiap dan semua anggota masyarakat dapat menemukan dan berbagi nilai-nilai kehidupan yang mereka hayati secara bebas dan bermanfaat bagi pengembangan dan pelaksanaan bersama nilai kemanusiaan. Kecenderungan untuk membuat suatu perayaan nasional menjadi kian eksklusif dan terbatas bagi kelompok atau golongan tertentu hanya menghantar kepada pemiskinan arti dan kedalaman makna perayaan, dan hal ini tidak akan banyak membawa sumbangan bagi perkembangan nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Selamat merayakan Tahun Baru Imlek. Xin Nian Kuai Le! P Agung Wijayanto Pengajar Agama dan Kebudayaan Timur Program S-2 Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
