Heheheh, makanya, tidak boleh cuek, kalimat yang ini gue setuju: "Era orde baru akan masih menyibukkan generasi generasi mendatang dalam mencernakan sejarah. Tanpa memahami sejarah, kita bukan bangsa yang besar."
Cerna lah sejarah, untuk memahami. Jangan mau dijejali isu isu nggak jelas. Pertanyakan, mengapa, bagaimana, jangan langsung percaya dan telan begitu saja. Masanya berpikir kritis gitu lhooohhhhh. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of RM Danardono HADINOTO Sent: Tuesday, February 12, 2008 8:43 PM To: [email protected] Subject: [budaya_tionghua] Re: Milis ini sudah tidak nyaman Cukup menyedihkan, dan pasti banyak yang mengalami seperti anda. Mungkin dalam kasus anda sekeluarga, seperti juga sahabat saya, yang masih keluarga anda, Ir Tan Kaydjien di NL, disebabkan karena kepindahan kalian ke LN untuk selamanya. Yang menjadi sebab "berantem" teman teman disini (buat saya bukan berantem, tetapi berdiskusi yang agak keras), adalah nasib mereka yang teimbas politik orde baru di Tanah Air. Mereka full kena imbasnya, jadi merekapun sangat intensif membahasnya. Mereka terbentur orang orang yang mungkin sangat menikmati era orde baru, dan tak merasakannya sebagai suatu repressi. Benturan ini juga anda lihat di milis milis lain, yang juga dahsyat dan tak kunjung berakhir. Tentu saja ini terjadi, karena sangat signifikannya pengalaman yang sedang di daur ulang. bayangkan derita mereka yang terimbas, mas Steve, wanita Aceh yang diperkosa dan suaminya terbunuh dalam operasi DOM, warga Talangsari, warga kedungombo, warga Tanjung Priok,yang di pulau Burukan. Apa yang saudara saudara Tionghoa alami sebagai percikan sejarah, kami, komunitas Non Tionghoa, alami sebagai gelombang pasang yang mematikan. Era orde baru akan masih menyibukkan generasi generasi mendatang dalam mencernakan sejarah. Tanpa memahami sejarah, kita bukan bangsa yang besar. Untung saja, dalam milis ini banyak yang masih perduli sejarah, baik sejarah komunitas Tionghoa sendiri, maupun sejarah bangsa kita. bayangkan kalau semua cuek, dan katakan, semua OK, sekedar disinformasi, tak ada masalah? Mau kemnana kita? Salam sejarah Danardono --- In [email protected], "Steve Haryono" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Danardono yth, > > Memang, seperti yang anda katakan. Saya masuk ke milis ini dengan tujuan untuk mengenal budaya tionghoa lebih jauh. Saya sebagai orang 'tionghoa' dulu ya waktu kecil pernah mengalami semuanya itu. Cuman dulu saya masih kecil tidak memperhatikan kenapa begini atau begitu. Dan ketika mulai tahun 1965-an kami tidak lagi merayakan imlek atau ceng beng atau yang lainnya, ya karena masih kecil saya sih 'nrimo' saja. Yang penting waktu jaman kecil dulu khan kita bisa bermain toh ? > > Cuman ya setelah usia makin bertambah, saya mulai mengingat-ingat dulu waktu imlek kita selalu bersama menginap dirumah engkong. Dan semua sepupu besar dan kecil ramai bermain. Yang besar bermain dengan yang sebaya nya, yang kecil ya bermain dengan yang seumurannya. Saya perhatikan memang setelah tahun 65 itu hubungan antara keluarga makin jauh. kita tidak lagi berkumpul sekaligus di satu hari. Kita masih saling mengunjungi tapi tidak secara bersamaan, akibatnya hubungan antara sepupu makin jauh. Apalagi tidak semua orang bisa disebut 'familie-ziek' dimana mereka senang berkumpul dengan keluarga. Ada juga yang lebih suka menyendiri. Akibatnya sama yang suka menyendiri itu kita malah tidak mengenal lagi satu sama lain. > > Waktu itu ada yang nulis mengenai makanan menjelang imlek, nah disitu saya melihat ada beberapa yang juga dihidangkan di waktu pesta malam imlek itu di keluarga saya. Ya, semacam nostalgia untuk saya sih. Kalau ada yang menceritakan misalnya kenapa dihidangkan makanan tertentu, saya pasti bisa belajar juga. Kapan itu ada yang menceritakan mengenai asal-usul makan bak-cang. Ya saya belajar juga dari situ, maksudnya ya saya bisa mengatakan : ' ooh, gitu tho asal mulanya ? ' Kalau tidak diberitahu, ya saya makan tanpa mikir sesuatu, jadi take it for granted saja. > > Saya itu tidak nyaman kalau ada orang yang 'berantem'. Apalagi kalo berantem nya suka keterusan. Pada saling ngotot, dan tidak bisa sampai ke titik temu : ok kita sama-sama setuju kalo pendapat kita beda. saya menghormati pendapat anda, dan anda juga menghormati pendapat saya. Klaar toch ? tidak usah bertele-tele sampai 1-2 bulan ? > > Ya segitu saja sekitar uneg-uneg saya. dan saya kira banyak juga yang sependapat dengan saya mengenai soal ini. Cuman saja mungkin tidak mau melontarkan pendapatnya. > > Salam, > Steve Haryono > > > ----- Original Message ----- > From: RM Danardono HADINOTO > To: [email protected] > Sent: Tuesday, February 12, 2008 1:56 PM > Subject: [budaya_tionghua] Re: Milis ini sudah tidak nyaman > > > --- In [email protected], "Steve Haryono" > <steve.haryono@> wrote: > > > > Mas Danardono yth, > > > >Bahwasanya saya sampai tidak tau soal-soal yang demikian, tidak mau > >sayapersoalkan. Untuk saya yang lewat ya lewat saja lah. tidak saya > >bikin persoalan salah-benar. Yang saya ingini adalah pengetahuannya. > > Mas Steve, itu memang dua hal yang terpisah. > > Apa yang ingin anda ketahui, budaya Tionghoa itu sendiri, dapat > selalu anda dalami secara langsung, baik melalui milis ini, maupun > melalui study literatur. Inipun saya lakukan, walau akar saya nol, > tetapi secara systematis dapat dipelajari. Baik budaya Tionghoa > secara umum, maupun, fokusnya kedalam interaksi dengan budaya Jawa, > atau dalam keitannya dengan perjalanan agama Buddha di Indonesia. > Milis ini banyak menolong berkat banyaknya pakar yang memahami betul > bidang ini. > > Yang kedua, mengapa anda tidak tahu soal soal demikian, adalah > masalah bagaimana orang tua atau generasi pendahulu mengajarkannya > kepada kita. Anda dapat mempersoalkannya, atau tidak, tak banyak > dampaknya bagi pengetahuan anda sendiri. Ini sekedar masalah > keperdulian terhadap lingkungan historis yang mengantar budaya > Tionghoa kepada anda, baik melalui orangtua ataupun lingkungan > sekitar anda. > > Kalau yang anda maksud era pemerintahan terdahulu dalam kaitannya > dengan sejarah komunitas Tionghoa di Indonesia, ya itu masalah > pribadi, apakah anda tertarik atau tidak. Sejarah bukanlah membahas > soal salah tidak, tetapi bagaimana proses historis itu terjadi. > Mengapa, bagaimana, dan apa yang mungkin terjadi dimasa depan. Tentu > saja yang lewat adalah lewat, tetapi bayangkan situasi mereka yang > terkena langsung masalah Mei 1998, anaknya diperkosa, harta dijarah, > atau peristiwa Semanggi, atau yang dibuang ke pulau Buru, bagi mereka > yang lewat adalah bagian dari masa kini. > > Yang satu budaya Tionghoa, yang lain sejarah Tionghoa di Indonesia, > di era orde baru, keduanya sangat ber interaksi. > > Salam > > Danardono > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > Internal Virus Database is out-of-date. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.20/1261 - Release Date: 2/5/2008 8:57 PM No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.4/1275 - Release Date: 2/12/2008 3:20 PM .: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :. .: Website global http://www.budaya-tionghoa.org :. .: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :. .: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
