Buset, Yamaha RD 125 Twin yang tankinya kotak itu ??. Memang paling top
saat itu, apalagi buat kebut2an didepan bundaran yang ada di rumah sakit
Elisabet, sambil nikung sambil ambil uang yang ditaruh di jalan. Kalau
sekolah aku mah dekat Pondok Seng. Walaupun nama mereka ditakuti sama
Out sider, so far mereka juga sangat solider sama teman. Ibarat kalau
ada rokok sebatang kita Isap berdua, tapi kalau tidak ada Lu tunggu biar
gua yang usahain. Malam minggu kalau bergadang tidurnya bukan di rumah
tapi di Pasar ( di Medan Pasar = Jalan raya ) dan beratapan langit,
heran tuh ngak pernah dengar ada kecelakaan ditabrak.
Waduh rupanya boss kita ini suka ke Pua Sua / BB he he he. Tapi sekarang
dah bersih kali ya.
Kalau di Medan memang ada orang cina peranakan / Babah. dan mereka tidak
bisa bahasa Hok Kien, kalau disana dipanggil Nyonya untuk ibu2nya.
Pakaian mereka juga Kebaya Encim dan Sarung. Tapi jumlah ini sedikit
sekali. Orang2 ini lah yang biasanya di julukin Bak Thau Khak alias
Daging kepala, Ini ada ceritanya karena waktu mereka mau beli Kepala
Babi yang seharusnya dalam bahasa Hok Kien di panggil Thu Thau ( Kepala
Babi ) malah mereka terjemahin langsung dari Bahasa Indonesia ke Hok
Kien ( Daging Kepala = Bak Thau Khak, Bak = Daging dan Tahu Khak =
Kepala ). Cerita ini benar atau tidak aku juga tidak bisa memastikan,
tapi itulah cerita yang beredar. Kalau orang Jakarta pasti dipanggil
Kiau Seng. mungkin berasal dari kata Chiau Sen.
Orang cina di Medan juga suka dipanggil A Seng sama kalangan Pribumi.
Mungkin sudah tidak lagi saat ini, malah seingat saya di era 70 an kata
" Cina " lebih jarang dipakai dibandingkan A Seng.
He he he, memang Medan adalah wild wild west nya Indonesia, konon
sebelum menjadi Kapolri musti jadi Poldasu dulu, Sebelum jadi Kasad
musti jadi Pangdam Bukit Barisan dulu. maka tidak salah kata2 " Ini
Medan Bung ".
Bung Bud,s yg baik.
Thongshampah, lahir di Jakarta tetapi besar di Medan.
Tahun 70 an ketika SMA, Thongshampah bergabung dgn anak Cardova
dan juga dengan anak anak Pondok Seng.
Kita sering kumpul kumpul
di Jln Sudirman, Babura, S Parman, Imam Bonjol dll
dan setiap sore, apalagi malam minggu kerjanya cuma kebut kebutan,
apalagi dulu Thongshampah dikenal sebagai anak maen
yang naik nya Yamaha RD 125 Twin.
kami nyaris tiap hari naek ke Sembahe - Bandar Baru,
Dan pulangnya, tiap malam minggu,
pasti banyak sekali undangan untuk pesta pesta Disco.
Pokoknya nostalgia Medan 75an yang indah sekali.
Dan seingat Thongshampah dulu,
kalau lagi berantem antar gank,
bukan Thongshampah si cina ini yg takut dengan mereka
tetapi justru mereka yg mikir lawan anak Cardova dan Pondok Seng.
Diskriminasi justru dialami Thongshampah bukan dari teman teman
pribumi, melainkan oleh teman teman cina totok.
Bisa dibayangin, anak cina kelahiran Jakarta
yang gak bisa omong Hokkien tetapi sekolah di sekolah Tionghoa.
Maka sebutan cina padang, kiau seng, bhak thau kak, phoa tang coan,
bak kia lo dll dll dll selalu diejekkan ke Thongshampah.
Dan setelah sekali dua kali kaki naik ke kepala
baru ejekan itu berhenti.
Dan mereka mereka yang totok ini justru sangat rasis
memandang orang yang sama sama cina
tetapi tidak bisa dialek Hokkien.
Totally inferior, nista dan outsider.
Berangkat dari hal ini, bagaimana pula cara pandang mereka
terhadap orang yang mereka sebut Huana, Fan Kui, inijen
dapat dibayangkan.
Jadi soal diskriminasi, tergantung cara kita mengalaminya.
Itulah yg menyebabkan kemudian
Thongshampah mati matian belajar dialek Hokkien
Supaya tidak disisihkan oleh mereka.
Medan adalah wild wild west nya Indonesia
semua suku ada disana, dalam komposisi yang berimbang.
Dan itulah penyebab utama mengapa kerusuhan sosial
jarang terjadi disana, walau semua maen dengan gayanya
sebab inter dependensi yang sangat tinggi.
Beberapa tahun terakhir ini ada fenomena menarik di sana
Poldasu menurunkan Team Pemburu Preman,
yang mengejar preman preman pengompas cina itu
sampai ke sudut sudut kota.
Metode represive ini, sesaat mungkin bisa menekan angka kriminalitas
tetapi for the long run,
akan menimbulkan benih benih kebencian yg dalam
dimana seolah olah polisi kerjanya hanya membacking cina.
dan bagi cina cina bebal tertentu,
hanya membuat dia makin besar kepala
yang memperdalam dan memperbesar social descrepancy itu.
Istilah istilah "kapan dia tidak berak malam",
selalu sampai ketelinga Thongshampah
ketika ngobrol dengan teman teman OKP di Gedung Putih
saat kunjungan ke Medan setiap tahun nya.
So, marilah kita sama sama mawas diri.
It takes two to Tango.
--- In [email protected]
<mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com>, "BUD'S 1" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Saya juga setuju, Hukum harus ditegakan. untuk mendapatkan SIM harus
melalui
> prosedur yang benar dan benar2 lulus. kalau tidak tentunya Nyawa
orang lain
> yang dimakan ( nyawa dia sendiri masih ngak apa2 ).
>
> Kalau untuk urus SIM, dijakarta dah gampang kok. ngak usah pakai
calo2an.
> Malah ada SIM keliling. Beberapa waktu lalu saya baru perpanjang SIM
saya,
> 1.5 jam beres semua dan tanpa ada keluar uang extra. tidak seperti
beberapa
> tahun yang lalu. malah semasa saya kuliah pernah seharian untuk yang
urusan
> ini di Komdak. Pernah juga 1/2 jam selesai karena pakai MEMO DINAS. Tapi
> dengan melihat kondisi terakhir, sudah tidak perlulah pakai MEMO2 AN
lagi,
> Tidak perlu pakai calo lagi. Semoga kinerja ini bisa dipertahankan
dan bisa
> menular ke Medan / POLDASU.
>
>