Sam Cong Ci Keng adalah frasa dalam dialek Hokkian selatan, tepatnya Sam Cong Chi Keng ä¸èåç¶" (Man. San Zang qu jing), artinya âSam Cong atau Tong Sam Cong (Man. Tang San Zang å"ä¸è) Mengambil Kitab Suci.â
Sam Cong atau Tong Sam Cong yang dimaksud dalam frasa di atas adalah Sam Cong Hoatsu ä¸èæ³å¸« (Man. San Zang Fashi alias Monk Tripitaka) dari Dinasti Tong å" (Man. Tang), yakni gelar yang diberikan kepada Hian Cong çå¥ (Man. Xuán Zà ng), seorang bhiksu terkenal dan salah satu tokoh dalam novel terkenal Se Yu Ki 西éè¨ (Xi You Ji atau Ziarah ke Barat atau Pilgrimage to the West) mahakarya Gouw Seng In 峿¿æ© (Man. Wu Chengâen). Tripitaka sebagai kanon Buddhist juga disebut Sam Cong ä¸è (San Zang). Jadi, Tripitaka yang dimaksud di sini adalah Kitab Sam Cong, bukan Sam Cong Chi Keng. Kiongchiu, DK --- In [email protected], raharjo irawan <[email protected]: Semarang, 8-4-2009. Yang benar namanya adalah Goei Thwan Ling, dahulu tinggal di jalan Petudungan. Kitab itu tampaknya masih ada di perpustakaan vihara. Salam, Irawan R --- On Wed, 8/4/09, Ning M. Widjaja <[email protected]: From: Ning M. Widjaja <nmw...@... Subject: [budaya_tionghua] Kitab Tionghoa Kuno di Vihara Watu Gong Semarang To: [email protected] Date: Wednesday, 8 April, 2009, 9:15 AM Saya pagi pengalaman dan mungkin ada yag juga tertarik, Waktu saya kecil, ingatan saya pernah di ajak ke Semarang di Vihara Watu Gong di Semarang. Di sana ternyata milik pribadi dari keluarga mendiang Bhante Dhammiko (mendiang Oej Toan Ling), yang sangat luas dan bagus tamannya. Wilayah vihara terbelah jalan raya, yg di seberang waktu itu masih tanah kosong sekarang jadi Kodam Diponegoro. Saya ingat di ajak ke dalam ruang perpustakaan pribadi beliau dan tertegung melihat sebuah lemari tertata rapi buku kuno yang jumlahnya ratusan jilid dalm bentuk paperback yang masih dijahit pakai benang. Waktu itu buku sudah kelihatan amat kuno tapi terawat baik bersama dengan banyak buku dan kitab lain yang juga kuno dan jumlahnya banyak sekali. Maklum mendiang Bhante Dhammiko (mendiang Oej Toan Ling) adalah seorang sarjana dan berpendidikan luas. Menjelang wafat beliau melepas kebhikkuannya dan hidup sebagi orang biasa selama beberapa tahun sebelum meninggal, setelah beliau meninggal Vihara Watu Gong dikelola oleh yayasan Buddhist masyarakat Jateng / Semarang dan mengalami berbagai bangunan baru. Kembali ke cerita awal, ketika saya tanyakan ternyata kitab-kitab kuno yang banyak itu adalah SAM CONG CI KENG - Tripitaka Tiongkok yang asli cetakan dari Tiongkok yang sudah lama jadi koleksi mendiang Bhante Dhammiko (mendiang Oej Toan Ling). Mengingat milis ini ttg Kebudayaan Tionghoa- saya rasa relevan saya kemukakan disini- siapa tahu ada diantara member yang tertarik dalm hal sastra Tiongkok Kuno ini yang pastinya tidak pernah dijamah lagi sejak meninggalnya Bhante Dhammiko. Alangkah baiknya bila kita ini bisa dilestarikan sebagai barang peninggalan sastra kuno dan dapat dipelajari isinya oleh para ahli sastra Tionghoa. Semoga dapat tanggapan positif.
