Saya sangat setuju dengan pendapat kayak begini nih....baik buruknya orang ga bisa dilihat dari etnis dong, sangat kecil banget kalo ada yg berpikiran seperti itu....wong kita lahir ga minta jadi etnis apa, kok sekarang maen cari kambing hitam????? Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
-----Original Message----- From: [email protected] Date: Sun, 11 Apr 2010 09:34:19 To: <[email protected]> Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: TANYA SOAL NAMA GENERASI/ZIBEI MARGA THE/ZHENG Sdr erick, Jujur sbenarnya saya sedari kecil dididik oleh keluarga yg cukup ketat.dan pergaulan saya pun dibatasi hny utk kalangan tionghwa.sampai sekarang pun masi ada temen2 saya yg sgt menutup diri dr org lain selain tionghwa.maaf kalo saya agk blak2an.tp temen2 selalu merasa anti dgn kata huan.ada yg blg kalo sifat mereka jelek,org bar bar,gk tau budi dan sbgainya. Bila berteman dgn etnis lain pasti ditentang oleh keluarga.sangat dimaklumi karena keluarga saya sendiri jg jadi korban pada tahun 1960. Sewaktu kejadian mei saya juga sudah sgt mengerti akan ketakutan itu.tp pd saat itu, apa yg berlangsung di medan tidak separah yg terjadi di jkt. Pada saat itu saya yg masi polos sempat berpikir,apakah kejadian mei ini terjadi karena kesombongan etnis kita sendiri juga.yg kurang mau bergaul,tidak mau membuka diri atau malah karena kita yg terlalu pelit buat berbagi. Stelah saya masuk dalam dunia bisnis,saya mengelola bbrp toko di medan.saya membutuhkan tenaga serta pikiran dr org selain suku tionghwa.saya melihat bahwa tidak ada yg salah ya dengan mereka. Saya bpendapat bahwa setiap manusia pada dasarnya itu baik,tergantung dr cr kita memperlakukannya.. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "Erik" <[email protected]> Date: Sun, 11 Apr 2010 08:49:55 To: <[email protected]> Subject: [budaya_tionghua] Re: TANYA SOAL NAMA GENERASI/ZIBEI MARGA THE/ZHENG Zhou Xiong, Bung Akian, Robby, She Giam, Pozzmo dan teman-teman lain sekalian! Sejak awal saya ikuti terus perdebatan teman-teman dengan Vera yang seru ini. Tidak ada yang mau dan juga tidak ada yang sanggup saya bantah dari semua argumentasi teman-teman, kecuali berucap ¡°Amin¡±! Kalo mau dicari-cari, mungkin ¡®salah¡¯nya teman-teman tidak tahu usia Vera (walau sudah berkeluarga) yang ternyata baru 23 tahun. Pada 1998 yang lalu, saudari Vera kita ini baru berusia 11 tahun bung!! Sangat boleh jadi, dia tidak alami langsung kejadian di tahun itu, apa yang dia ungkapkan di sini bisa dari bacaan atau hasil nguping sana-sini, dengan risiko bias yang amat tinggi. Saya tidak bermaksud membenarkan dia, tapi ada satu kalimat dari Vera yang ingin saya garis-bawahi, yaitu ¡°di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung¡±. Saya setuju sekali dan sekaligus turut menjunjung prinsip Vera ini. Dan kepada Vera saya ingin katakan, dengan berprinsip seperti itu hendaknya kita juga menjunjung tinggi semboyan negara kesatuan Republik Indonesia yang berbunyi ¡°BHINNEKA TUNGGAL IKA¡±! Pada postingnya yang lalu, Vera mengatakan bahwa ¡°kita tinggal dan mcari nafkah dr bumi indonesia, sharusnya kita jg harus bisa beradaptasi¡±. Pertanyaan saya pada Vera, ¡°Beradaptasi dengan apa dan siapa?¡± Mungkin Vera akan menjawab ¡°Beradaptasi dengan bangsa Indonesia dan budaya Indonesia¡±. Mohon maaf Vera, dengan berpendapat seperti itu, sebenarnya anda telah menarik garis pemisah dan mengambil jarak antara kita dengan bangsa dan negara Indonesia, seakan kita bukan bagian dari bangsa dan negara Indonesia. Kita dilahirkan, hidup dan tinggal serta mencari nafkah di Indonesia, kita adalah bagian integral yang sah dari bangsa dan negara Indonesia ini. Segala atribut budaya kita, termasuk agama, adat istiadat, dan juga marga (sne) warisan orang-tua kita adalah juga bagian dari budaya bangsa dan negara Indonesia. Tidak perlu dirubah-rubah dan diadaptasi. Pun pula (mengikuti jalan pikir Vera), andaikan kita bukan bagian dari bangsa Indonesia, lantas siapa kira-kira yang anda maksud dengan bangsa Indonesia, sehingga kita perlu beradaptasi dengan mereka? Suku Tapanuli (batak) di tempat anda berdiamkah? Atau suku Jawa yang konon merupakan suku mayoritas di Indonesia? Atau suku Minang? Aceh? Atau Mungkin Ambon or Papua? Terlalu banyak suku yang ada di negara kesatuan Republik Indonesia ini dengan keunikan budaya masing-masing, termasuk juga kita etnis Tionghua. Adalah kewajiban kita bersama untuk menjaga dan melestarikan aneka ragam kekayaan budaya bangsa Indonesia itu, tidak ada kewajiban yang satu harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan yang lain, karena semuanya sama-sama adalah budaya bangsa Indonesia. Di era berkuasanya regim Orde Bau, kita (etnis Tionghua di Indonesia) mendapat perlakuan yang tidak adil. Lewat kebijakan Marginalisasi (peminggiran), Stigmatisasi (pelabelan) dan Victimisasi (pengorbanan), kita diperlakukan seakan bukan bangsa Indonesia, hak sipil kita dikebiri, sulit menjadi pegawai negeri dan ABRI. Satu-satunya bidang yang masih terbuka lebar untuk kita geluti hanyalah bidang niaga, jadilah kita distigmatisasi (dicap) melulu Binatang Ekonomi yang tahunya cuma cari duit. Sehingga pada tiap kali ada gejolak sosial, kitalah yang dijadikan kanal pelampiasan amarah massa. Trauma akibat kebijakan di atas masih tersisa sampai hari ini. Dan oleh orang-tua diwariskan kepada anak-cucu, termasuk juga (maaf) kepada Vera. Jadi, sangat wajar dan tidak mengherankan jika keluar pendapat dan pernyataan dari Vera seperti pada posting-posting yang lampau. Namun saya yakin, dengan bergabung di milis BT ini, lewat interaksi dialog dan diskusi bersama rekan-rekan yang lebih senior, niscaya suatu waktu Vera akan merubah pandangannya. Adapun mengenai nama Tionghua yang menurut Vera terasa asing dan sulit diucapkan lidah orang Indonesia, saya akan coba share pendapat saya di posting berikut. Demikian dari saya. Terima kasih pada Vera atas perhatiannya. Dan mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung. Salam, Erik ------------------------------------------------------------------------\ ------------- In [email protected], Dada <wrw....@...> wrote: Ini pembahasan yang tidak berujung pangkal. Pada dasarnya secara naluriah manusia akan bersikap pragmatis, setidaknya lebih baik daripada ngotot menuruti emosi dan hawa nafsu. Saya berusaha mengingatkan agar dalam budaya juga jangan bersikap radikal. Hanya akan melahirkan kebodohan, bukan pencerahan. Salah satu sikap radikal adalah mempermasalahkan hal-hal "tidak penting". Memangnya disini ada yang tau nama marga thaksin sinawatra ? cory aquino? masih mending , albert fujimori masih mencantumkan nama klan nya, walau depan menggunakan nama barat. Nama marga , apa itu hal paling krusial ? siapakah matsudaira ? matsudaira atau tokugawa yang benar? Joseph Needham apa *Li Yuese* æ�Žçº¦ç`?? Matheo Ricci apa Li Ma Dou ? KongHucu apa Confucius? Masalah marga dan nama ini sebenernya masalah dan juga bukan masalah. Masalahnya bisa dari memberi , adaptasi , sampai memanggil bisa saja di cari cari kesalahannya atau sebaliknya bisa mencari-cari kesalahan. Menurut saya pribadi sih , yang terpenting , yang paling mendasar adalah jangan melupakan asal usul , sebagai chinese , tionghoa , whatsoever. Budaya juga bukan semata2 soal detail , ritual dan bla bla bla. Interaksinya juga sering luput dari perhatian . Sifat mendasar adalah interaksi dengan lokal sebagai mayoritas dan interaksi dengan penguasa dunia saat ini. Contoh baju barat dan bahasa inggris. Karena penguasa dunia terakhir ini barat dan berbahasa inggris , maka menjadi standar dunia , semacam konsensus,yang kalau berusaha ngotot akan rugi sendiri. Berbusana pun akhirnya seluruh dunia sepakat dari fashion dasar barat. Apakah dalam aktiivitas sehari-hari , kita menggunakan baju tradisional ? ke kantor? presiden pake baju keraton? pake jas khan? jepang masih ngotot pake baju ala "samurai" , rambut bergaya samurai? Nama barat juga menjadi contoh bagaimana kekuatan akan mempengaruhi budaya global . Jadi tidak usah terlalu paranoid berlebihan , pada gilirannya , kalau kekuatan dunia bergeser , budaya yang di sandangpun akan menguat seperti nilai saham. Tidak perlu disuruh juga yang lain akan menjadi follower. Misalkan Tiongkok menjadi penguasa dunia tunggal di kemudian hari. Seluruh dunia akan menjadikan bahasa mandarin sebagai standard. Fashion oriental akan menjadi trend dunia . Termasuk ke budaya populernya juga akan di anut seluruh dunia . Sama seperti Amerika sekarang dengan MTV , dengan MacDonald, dengan Disney , dengan dunia internetnya . Penguasa dunia berarti menjadi pemegang kebenaran. Sumber berita Tiongkok akan menjadi standar berita global , fashion Italia akan manut dengan fashion Tiongkok , gak mau manut rugi sendiri , pangsa pasar yang besar, dan untuk memasukinya harus tau banyak budayanya , bahasanya , dan apapun yang berkaitan. Pengobatan ala Tiongkok juga akan menjadi standar dunia . Mungkin kita pernah melihat nama berbau Jepang , padahal tidak ada hubungannya sekali dengan darah jepang , nah itu pengaruh kekuatan budaya Jepang. Lihat saja pengaruh ekonomi tionghoa yang kuat , tradisi pedagang yang kuat , tukang becak lebih sering pake istilah goban , gopek, goceng , jigo, atau pake istilah lokal ? salawe (25) , seket (25) , saya juga sering menerima perkataan kamsia , padahal bukan orang chinese. Jadi cobalah lihat Jepang , sebagai contoh , pragmatis sekaligus memiliki ciri Jepang. Juga jangan terlalu berlebihan . Terlalu sok beradaptasi juga kesannya tidak punya prinsip , terlalu kolot sok mempertahankan tradisi juga tidak membawa pencerahan. Yang normal2 saja. Yang penting ingat satu hal , sekali tionghoa yah tetap tionghoa, biar pake nama obama kek , nama maria mercedez kek, cory aquino kek , thaksin sinawatra kek , kardinal james sin kek , >
