Kendati angin mulai
bertiup kencang di Kota Xian, Cina, hal itu tidak begitu dirasakan
seratusan lebih peserta IFS
Asia Pacific Conference 2006 yang menempati Hotel Sheraton,
akhir Mei 2006. Maklumlah, saat itu para undangan yang berasal dari
berbagai negara di kawasan Asia Pasifik tengah bersenang-senang
merayakan prestasi IFS sepanjang 2005 sekaligus menjadi saksi mata
peluncuran produk baru: IFS Applications 7. “Sebuah produk andalan
yang kami persembahkan untuk lebih dari 2.000 pelanggan dan 500 ribu
pengguna IFS di seluruh dunia,” kata Alastair Sorbie, Presdir &
CEO IFS kepada SWA.
Menurut Sorbie, kehadiran IFS Applications 7 pantas disambut gembira
karena menawarkan terobosan pembaruan produk yang sangat signifikan.
“Hal itu menjadi prioritas IFS guna meraih loyalitas pelanggan,”
lanjut Sorbie, yang menekankan pentingnya pelanggan merasakan
manfaat yang lebih besar dan lebih baik setelah menggunakan produk
IFS.
Peluncuran IFS
Applications 7 akan menjadi titik tolak IFS untuk lebih mendekatkan
diri dengan pelanggannya. Selama ini IFS cenderung tidak agresif
berkomunikasi dengan pelanggan, berbeda dari para pesaingnya. Hal
itu diakui Sorbie, yang beralasan, pihaknya mempunyai gaya yang
berbeda dari kompetitor. “IFS berusaha tidak hanya memberikan
layanan personal, tetapi juga solusi yang tepat,” ungkapnya. Mark
Rabjohns, Presdir IFS Asia Pasifik, menambahkan, “Silakan kompetitor
bicara, kami yang menjawab dengan bertindak secara tepat dan
cerdas.”
Walaupun berkata
demikian, sesungguhnya diam-diam IFS mulai membenahi diri, terutama
dalam hal branding dan
pengelolaan portofolio produknya. Dalam presentasi di hadapan media
saat itu, Sorbie mengatakan, pada kuartal I/2006, setiap divisi
mengalami peningkatan pendapatan yang berbeda-beda. Selama satu
semester itu, pendapatan divisi lisensi, divisi maintenance dan divisi consulting masing-masing
naik 3%, 22% dan 6%.
Dalam kerangka
pembenahan tersebut, berbagai amunisi telah disiapkan. Di antaranya,
kini IFS akan mencoba fokus di industri manufaktur dan pertahanan
yang menjadi bisnis intinya. Juga, akan mengenjot segmen pasar
menengah yang berprospek membesar. Kenapa? Pada dasarnya, aplikasi
yang ditawarkan IFS adalah yang efisien dan sesuai dengan kebutuhan.
IFS menggunakan teknologi open standards sehingga bisa
diintegrasikan dengan teknologi lain. “Jadi, kami lebih mendengarkan
kebutuhan konsumen dan memberikan solusi yang tepat bagi mereka,”
tutur Sorbie.
IFS Applications 7
adalah buktinya. Ia sengaja mengusung tema agility, karena memang
keunggulan itu yang dimilikinya. Sebuah konsep lama yang tetap
relevan untuk kondisi sekarang. Saat ini memang dibutuhkan solusi
bisnis yang agile, yakni
mampu beradaptasi secara cepat terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi. Terkait dengan bisnis, agility sendiri telah
menjelma menjadi suatu sine
qua non dari kemampuan organisasi bisnis. Hal ini dikarenakan
situasi bisnis yang makin tidak menentu, kompetisi yang keras dan
hubungan pelanggan-pemasok-perusahaan yang makin
kompleks.
Bagaimana dengan di
Indonesia? Sama saja. Menurut Uun W.Untoro, Presdir IFS Solution
Indonesia, sebagai perusahaan penyedia solusi bisnis tingkat dunia,
IFS tidak mungkin mengingkari tuntutan dan kebutuhan pasar. Semua
perusahaan di seluruh dunia – termasuk Indonesia -- menginginkan
produk yang cerdas dan tepat untuk menunjang bisnis mereka.
Masalahnya, tidak semua penyedia solusi bisnis memiliki kompetensi
yang menggunakan service
oriented architecture (SOA). “Yang membedakan IFS dari
perusahaan lain adalah menyediakan dukungan TI lewat SOA itu
sendiri,” Uun menandaskan.
Keunggulan inilah yang
sekarang menjadi pijakan IFS dunia, termasuk IFS Indonesia. Bahkan
guna mengomunikasikan daya saingnya itu, sekali lagi IFS Indonesia
meluncurkan IFS Applications 7 dalam IFS Conference tingkat
nasional di Jimbaran, Bali, sebulan kemudian. Untuk itu, IFS
Indonesia mempertahankan tema lawas yang sudah diusung IFS di
tingkat Asia Pasifik:
Menuju Agile Company
dengan Service Oriented
Architecture”. Alasannya, menurut bos yang ramah itu, tema
tersebut tidak akan basi tergerus zaman. “Memang di situlah
keunggulan yang kami miliki. Mau apa lagi?”
Yang terpenting,
menurut Uun, meskipun bukan tema baru, agile company masih sangat
relevan, bahkan makin relevan di masa mendatang. Situasi bisnis saat
ini membuat perusahaan semakin membutuhkan kecepatan respons agar
memiliki agility yang
cepat. Untuk menjawab itu, dibutuhkan dukungan TI yang kuat.
Kemampuan TI yang tidak sekadar integrasi aplikasi, integrasi proses
lagi, melainkan menuju integrasi tanpa batas.
Seperti terungkap
dalam diskusi-diskusi di IFS
Conference di Jimbaran, yang membedakan IFS 7 dari jasa sejenis
lainnya adalah tampilnya SOA sebagai arsitektur TI yang dianggap
paling ampuh dalam mendukung operasi bisnis untuk memiliki
sifat-sifat agile. “SOA
memang sedang menjadi isu paling hangat dalam dunia TI,” ujar Uun.
Berbasis web service,
arsitekturnya memungkinkan sistem sangat fleksibel dikembangkan.
Misalnya, terdapat dua aplikasi berbeda yang ditulis dalam bahasa C#
di platform.Net dan ditulis dalam Java serta dijalankan di platform
JEE. Keduanya dapat dijalankan dan digunakan bersamaan. Kemampuan
inilah yang membuat SOA sangat mendukung integrasi dan konsolidasi
dari berbagai aktivitas.
SOA dianggap sebagai
dewa penyelamat di tengah kebingungan praktisi TI dalam implementasi
ERP saat ini. Mengutip tulisan Andy Cue yang berjudul “How to Avoid ERP Disaster”,
Uun menyebutkan, implementasi ERP sering menjadi bencana. Maka,
dalam proyek implementasi harus diupayakan dengan sangat
berhati-hati.
Menurut Uun, teknologi
itu selalu memiliki dua sisi: pertama, sebagai enabler perubahan; dan kedua
justru menjadi constraint
perubahan. Sering bila perencanaan implementasi teknologi baru tidak
hati-hati, malah membawa bencana pada perusahaan itu sendiri.
Akibatnya, alih-alih mendapat keunggulan kompetitif, justru
kemacetan sistem yang terjadi. “IFS sendiri sangat mementingkan
keberhasilan proyek implementasi,” ujar pria berkacamata itu.
“Prinsip kami adalah zero
failure project,” lanjutnya. Dan untuk mewujudkan hal tersebut,
IFS bahkan sangat berhati-hati memilih klien. “Tidak asal dapat
duit. Kami juga dalam beberapa kasus berani mengembalikan uang bila
kami gagal. Komitmen ini kami tekankan sungguh-sungguh pada tiap
manajer proyek IFS.”
Bagi IFS Indonesia,
komitmen ini tampaknya mulai berbuah manis, meskipun tidak
menyebutkan angka nominalnya, Uun memberikan ilustrasi bahwa untuk
tahun 2006 IFS optimistis akan menembus target. Pertengahan tahun
ini saja, ada satu proyek besar senilai Rp 40-45 miliar yang
didapatnya.
Peluncuran IFS
generasi 7 tahun 2006 menjadi momentum penting pula untuk
mendongkrak revenue IFS.
Mengapa? Karena sejak 1998, IFS menanamkan benih berupa riset &
pengembangan secara intensif dalam arsitektur SOA. Dengan berbasis komponen, IFS 7
menjelma menjadi sistem yang sangat fleksibel dikembangkan dan
konfigurasinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis sebuah
perusahaan.
�gIFS 7. It's easier to use,”
Mark Rabjohns menambahkan. Bahkan ketika ditanya di mana posisi IFS
di antara para raksasa system
integrator semacam SAP dan Oracle, sambil tertawa Rabjohns
mengatakan, IFS 7 jauh lebih cepat dan fleksibel. Ketika para pemain
besar belum berpikir ke arah SOA, IFS telah melakukannya. IFS 7
berbasis komponen sangat fleksibel, pengguna dapat memilih modul
mana yang ia butuhkan. Keunggulan teknologi ini pula yang membuat
kinerja keuangan IFS semakin mengilap, dan memasuki 2006 revenue IFS secara global
sudah menembus US$ 222 juta. ”It's time to harvest.” ujar
Rabjohns. Waktunya memanen investasi panjang IFS dalam membangun
generasi 7 yang meliputi 600.000 jam
pengembangan.
Meskipun memiliki
aplikasi yang penuh keunggulan teknologi, Uun juga menekankan bahwa
sukses implementasi itu sendiri tidak lepas dari kerja sama dengan
tim klien. Tim IFS hanyalah mengintegrasikan sistem TI klien, dan
melakukan konfigurasi sesuai dengan permintaan klien. Namun, hal
yang terpenting justru dampak yang muncul dari teknologi ini,
terutama menyangkut kultur perusahaan dan kesiapan SDM menerima
perubahan. “Pasti ada resistensi,” ujarnya. Seperti para manajer
yang selalu berlindung dalam kekacauan data. Sebab, dengan IFS ini,
mereka tidak diberi ruang berlindung lagi. Segala sesuatu bisa
diukur secara cepat dan akurat.
�gSepanjang proses
implementasi, keterlibatan aktif tim klien sangat mutlak. Karena,
ibaratnya kami hanyalah membangunkan rumah, dan akan menyerahkan
kunci dan penggunaannya pada mereka. Jadi, klien sendiri juga harus
tahu dengan persis rumah itu akan digunakan untuk apa.” katanya
menandaskan. Tim dari pihak klien inilah yang menjadi agen perubahan
bagi perusahaannya.
Berbicara mengenai
perbedaan IFS 7 dari seri sebelumnya, Thomas D. Susmantoro, Direktur
Presales & QA IFS, mengatakan, sebenarnya struktur dasarnya
masih sama, yaitu IFS
foundation. Namun, ada banyak penambahan pada modul dan
komponen. Seperti eInvoice, yang di banyak
negara Eropa mulai dimanfaatkan dalam sales contract management,
multisite planning, rescheduling & allocation, dan masih
banyak lagi. Dengan fleksibilitas IFS Foundation 1 dalam IFS 7,
seri-seri lama bahkan dimungkinkan dapat menggunakan modul-modul
terbaru. Lebih dari itu, modul IFS 7 dapat pula digunakan dalam
aplikasi lain, seperti halnya modul HR IFS yang sangat digemari dan
dapat digunakan dalam SAP ataupun Oracle.
IFS 7 benar-benar
menawarkan solusi total; pengguna dapat memakai layanan mulai dari
project management, supply
chain management sampai document management. Untuk
menjamin mobilitas, IFS 7 dapat terkoneksi pula dengan PDA atau mobile phone. “Sehingga, tim
sales force di lapangan
juga memegang data akurat dan dapat melakukan update informasi dalam waktu
cepat,” Thomas menuturkan.
Pengguna IFS 7 pun
makin dimanjakan dengan office integration. Dengan itu, data dapat diolah
secara begitu mudah di aplikasi office apa pun seperti Word,
Excel atau Power Point. Upaya mengurangi keruwetan tampilan IFS
sebagaimana aplikasi ERP lainnya sangat terasa pula di generasi
terbaru ini. Drag and play
antar-windows bisa
dilakukan semudah menggerakkan mouse.
Kalangan pengguna pun
menyambut baik kehadiran IFS 7 ini sebagai alternatif yang punya
kemampuan sebanding dengan SAP atau Oracle, pemain besar di bisnis
ini. Maskur Effendi, Manajer TI PT PAL Indonesia, mengaku pihaknya
memetik banyak manfaat dari implementasi IFS 2000 (seri sebelumnya).
Walaupun aplikasi yang digunakan baru sebatas project management, accounting
dan document
management, PT PAL mampu meningkatkan kinerjanya: makin cepatnya
waktu yang dibutuhkan dalam pelaporan, akuratnya data akutansi dan
inventory management yang
lebih tertata. Manajemen juga dapat menggunakan lebih banyak waktu
untuk merancang strategi bisnis, dan fokus pada perbaikan
bersinambung. Demikian pula, Astra Agro Lestari, yang juga merasakan
manfaat yang tidak sedikit. Bahkan dengan kolaborasi di bidang TI
dan satelit, Astra Agro Lestari dapat terus memantau perkembangan
lahan kelapa sawit miliknya dan milik kompetitor secara real
time.