IFS Applications 7:
Solusi Cerdas untuk Bisnis Agile
Kamis, 07 September 2006
Oleh : Dyah H. Palupi & Arif A. Wibowo

Sebagai perusahaan penyedia solusi bisnis yang pertama memperkenalkan service oriented architecture, IFS kini giat mengomunikasikan diri. Bagaimana ia memanfaatkan momentum Applications 7? Apa target dan strategi IFS Indonesia setelah pertemuan di Xian dan Bali?

Kendati angin mulai bertiup kencang di Kota Xian, Cina, hal itu tidak begitu dirasakan seratusan lebih peserta IFS Asia Pacific Conference 2006 yang menempati Hotel Sheraton, akhir Mei 2006. Maklumlah, saat itu para undangan yang berasal dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik tengah bersenang-senang merayakan prestasi IFS sepanjang 2005 sekaligus menjadi saksi mata peluncuran produk baru: IFS Applications 7. “Sebuah produk andalan yang kami persembahkan untuk lebih dari 2.000 pelanggan dan 500 ribu pengguna IFS di seluruh dunia,” kata Alastair Sorbie, Presdir & CEO IFS kepada SWA. Menurut Sorbie, kehadiran IFS Applications 7 pantas disambut gembira karena menawarkan terobosan pembaruan produk yang sangat signifikan. “Hal itu menjadi prioritas IFS guna meraih loyalitas pelanggan,” lanjut Sorbie, yang menekankan pentingnya pelanggan merasakan manfaat yang lebih besar dan lebih baik setelah menggunakan produk IFS.

 

Peluncuran IFS Applications 7 akan menjadi titik tolak IFS untuk lebih mendekatkan diri dengan pelanggannya. Selama ini IFS cenderung tidak agresif berkomunikasi dengan pelanggan, berbeda dari para pesaingnya. Hal itu diakui Sorbie, yang beralasan, pihaknya mempunyai gaya yang berbeda dari kompetitor. “IFS berusaha tidak hanya memberikan layanan personal, tetapi juga solusi yang tepat,” ungkapnya. Mark Rabjohns, Presdir IFS Asia Pasifik, menambahkan, “Silakan kompetitor bicara, kami yang menjawab dengan bertindak secara tepat dan cerdas.”

 

Walaupun berkata demikian, sesungguhnya diam-diam IFS mulai membenahi diri, terutama dalam hal branding dan pengelolaan portofolio produknya. Dalam presentasi di hadapan media saat itu, Sorbie mengatakan, pada kuartal I/2006, setiap divisi mengalami peningkatan pendapatan yang berbeda-beda. Selama satu semester itu, pendapatan divisi lisensi, divisi maintenance dan divisi consulting masing-masing naik 3%, 22% dan 6%.

 

Dalam kerangka pembenahan tersebut, berbagai amunisi telah disiapkan. Di antaranya, kini IFS akan mencoba fokus di industri manufaktur dan pertahanan yang menjadi bisnis intinya. Juga, akan mengenjot segmen pasar menengah yang berprospek membesar. Kenapa? Pada dasarnya, aplikasi yang ditawarkan IFS adalah yang efisien dan sesuai dengan kebutuhan. IFS menggunakan teknologi open standards sehingga bisa diintegrasikan dengan teknologi lain. “Jadi, kami lebih mendengarkan kebutuhan konsumen dan memberikan solusi yang tepat bagi mereka,” tutur Sorbie.

 

IFS Applications 7 adalah buktinya. Ia sengaja mengusung tema agility, karena memang keunggulan itu yang dimilikinya. Sebuah konsep lama yang tetap relevan untuk kondisi sekarang. Saat ini memang dibutuhkan solusi bisnis yang agile, yakni mampu beradaptasi secara cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Terkait dengan bisnis, agility sendiri telah menjelma menjadi suatu sine qua non dari kemampuan organisasi bisnis. Hal ini dikarenakan situasi bisnis yang makin tidak menentu, kompetisi yang keras dan hubungan pelanggan-pemasok-perusahaan yang makin kompleks.

 

Bagaimana dengan di Indonesia? Sama saja. Menurut Uun W.Untoro, Presdir IFS Solution Indonesia, sebagai perusahaan penyedia solusi bisnis tingkat dunia, IFS tidak mungkin mengingkari tuntutan dan kebutuhan pasar. Semua perusahaan di seluruh dunia – termasuk Indonesia -- menginginkan produk yang cerdas dan tepat untuk menunjang bisnis mereka. Masalahnya, tidak semua penyedia solusi bisnis memiliki kompetensi yang menggunakan service oriented architecture (SOA). “Yang membedakan IFS dari perusahaan lain adalah menyediakan dukungan TI lewat SOA itu sendiri,” Uun menandaskan.

 

Keunggulan inilah yang sekarang menjadi pijakan IFS dunia, termasuk IFS Indonesia. Bahkan guna mengomunikasikan daya saingnya itu, sekali lagi IFS Indonesia meluncurkan IFS Applications 7 dalam IFS Conference tingkat nasional di Jimbaran, Bali, sebulan kemudian. Untuk itu, IFS Indonesia mempertahankan tema lawas yang sudah diusung IFS di tingkat Asia Pasifik:  Menuju Agile Company dengan Service Oriented Architecture”. Alasannya, menurut bos yang ramah itu, tema tersebut tidak akan basi tergerus zaman. “Memang di situlah keunggulan yang kami miliki. Mau apa lagi?”

 

Yang terpenting, menurut Uun, meskipun bukan tema baru, agile company masih sangat relevan, bahkan makin relevan di masa mendatang. Situasi bisnis saat ini membuat perusahaan semakin membutuhkan kecepatan respons agar memiliki agility yang cepat. Untuk menjawab itu, dibutuhkan dukungan TI yang kuat. Kemampuan TI yang tidak sekadar integrasi aplikasi, integrasi proses lagi, melainkan menuju integrasi tanpa batas.

 

Seperti terungkap dalam diskusi-diskusi di IFS Conference di Jimbaran, yang membedakan IFS 7 dari jasa sejenis lainnya adalah tampilnya SOA sebagai arsitektur TI yang dianggap paling ampuh dalam mendukung operasi bisnis untuk memiliki sifat-sifat agile. “SOA memang sedang menjadi isu paling hangat dalam dunia TI,” ujar Uun. Berbasis web service, arsitekturnya memungkinkan sistem sangat fleksibel dikembangkan. Misalnya, terdapat dua aplikasi berbeda yang ditulis dalam bahasa C# di platform.Net dan ditulis dalam Java serta dijalankan di platform JEE. Keduanya dapat dijalankan dan digunakan bersamaan. Kemampuan inilah yang membuat SOA sangat mendukung integrasi dan konsolidasi dari berbagai aktivitas.

 

SOA dianggap sebagai dewa penyelamat di tengah kebingungan praktisi TI dalam implementasi ERP saat ini. Mengutip tulisan Andy Cue yang berjudul “How to Avoid ERP Disaster”, Uun menyebutkan, implementasi ERP sering menjadi bencana. Maka, dalam proyek implementasi harus diupayakan dengan sangat berhati-hati.

 

Menurut Uun, teknologi itu selalu memiliki dua sisi: pertama, sebagai enabler perubahan; dan kedua justru menjadi constraint perubahan. Sering bila perencanaan implementasi teknologi baru tidak hati-hati, malah membawa bencana pada perusahaan itu sendiri. Akibatnya, alih-alih mendapat keunggulan kompetitif, justru kemacetan sistem yang terjadi. “IFS sendiri sangat mementingkan keberhasilan proyek implementasi,” ujar pria berkacamata itu. “Prinsip kami adalah zero failure project,” lanjutnya. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, IFS bahkan sangat berhati-hati memilih klien. “Tidak asal dapat duit. Kami juga dalam beberapa kasus berani mengembalikan uang bila kami gagal. Komitmen ini kami tekankan sungguh-sungguh pada tiap manajer proyek IFS.”

 

Bagi IFS Indonesia, komitmen ini tampaknya mulai berbuah manis, meskipun tidak menyebutkan angka nominalnya, Uun memberikan ilustrasi bahwa untuk tahun 2006 IFS optimistis akan menembus target. Pertengahan tahun ini saja, ada satu proyek besar senilai Rp 40-45 miliar yang didapatnya.

 

Peluncuran IFS generasi 7 tahun 2006 menjadi momentum penting pula untuk mendongkrak revenue IFS. Mengapa? Karena sejak 1998, IFS menanamkan benih berupa riset & pengembangan secara intensif dalam arsitektur SOA. Dengan  berbasis komponen, IFS 7 menjelma menjadi sistem yang sangat fleksibel dikembangkan dan konfigurasinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis sebuah perusahaan.

 

gIFS 7. It's easier to use,” Mark Rabjohns menambahkan. Bahkan ketika ditanya di mana posisi IFS di antara para raksasa system integrator semacam SAP dan Oracle, sambil tertawa Rabjohns mengatakan, IFS 7 jauh lebih cepat dan fleksibel. Ketika para pemain besar belum berpikir ke arah SOA, IFS telah melakukannya. IFS 7 berbasis komponen sangat fleksibel, pengguna dapat memilih modul mana yang ia butuhkan. Keunggulan teknologi ini pula yang membuat kinerja keuangan IFS semakin mengilap, dan memasuki 2006 revenue IFS secara global sudah menembus US$ 222 juta. ”It's time to harvest.” ujar Rabjohns. Waktunya memanen investasi panjang IFS dalam membangun generasi 7 yang meliputi 600.000 jam pengembangan.

 

Meskipun memiliki aplikasi yang penuh keunggulan teknologi, Uun juga menekankan bahwa sukses implementasi itu sendiri tidak lepas dari kerja sama dengan tim klien. Tim IFS hanyalah mengintegrasikan sistem TI klien, dan melakukan konfigurasi sesuai dengan permintaan klien. Namun, hal yang terpenting justru dampak yang muncul dari teknologi ini, terutama menyangkut kultur perusahaan dan kesiapan SDM menerima perubahan. “Pasti ada resistensi,” ujarnya. Seperti para manajer yang selalu berlindung dalam kekacauan data. Sebab, dengan IFS ini, mereka tidak diberi ruang berlindung lagi. Segala sesuatu bisa diukur secara cepat dan akurat.

 

gSepanjang proses implementasi, keterlibatan aktif tim klien sangat mutlak. Karena, ibaratnya kami hanyalah membangunkan rumah, dan akan menyerahkan kunci dan penggunaannya pada mereka. Jadi, klien sendiri juga harus tahu dengan persis rumah itu akan digunakan untuk apa.” katanya menandaskan. Tim dari pihak klien inilah yang menjadi agen perubahan bagi perusahaannya.

 

Berbicara mengenai perbedaan IFS 7 dari seri sebelumnya, Thomas D. Susmantoro, Direktur Presales & QA IFS, mengatakan, sebenarnya struktur dasarnya masih sama, yaitu IFS foundation. Namun, ada banyak penambahan pada modul dan komponen. Seperti eInvoice, yang di banyak negara Eropa mulai dimanfaatkan dalam sales contract management, multisite planning, rescheduling & allocation, dan masih banyak lagi. Dengan fleksibilitas IFS Foundation 1 dalam IFS 7, seri-seri lama bahkan dimungkinkan dapat menggunakan modul-modul terbaru. Lebih dari itu, modul IFS 7 dapat pula digunakan dalam aplikasi lain, seperti halnya modul HR IFS yang sangat digemari dan dapat digunakan dalam SAP ataupun Oracle.

 

IFS 7 benar-benar menawarkan solusi total; pengguna dapat memakai layanan mulai dari project management, supply chain management sampai document management. Untuk menjamin mobilitas, IFS 7 dapat terkoneksi pula dengan PDA atau mobile phone. “Sehingga, tim sales force di lapangan juga memegang data akurat dan dapat melakukan update informasi dalam waktu cepat,” Thomas menuturkan.

 

Pengguna IFS 7 pun makin dimanjakan dengan office integration.  Dengan itu, data dapat diolah secara begitu mudah di aplikasi office apa pun seperti Word, Excel atau Power Point. Upaya mengurangi keruwetan tampilan IFS sebagaimana aplikasi ERP lainnya sangat terasa pula di generasi terbaru ini. Drag and play antar-windows bisa dilakukan semudah menggerakkan mouse.

 

Kalangan pengguna pun menyambut baik kehadiran IFS 7 ini sebagai alternatif yang punya kemampuan sebanding dengan SAP atau Oracle, pemain besar di bisnis ini. Maskur Effendi, Manajer TI PT PAL Indonesia, mengaku pihaknya memetik banyak manfaat dari implementasi IFS 2000 (seri sebelumnya). Walaupun aplikasi yang digunakan baru sebatas project management, accounting dan document management, PT PAL mampu meningkatkan kinerjanya: makin cepatnya waktu yang dibutuhkan dalam pelaporan, akuratnya data akutansi dan inventory management yang lebih tertata. Manajemen juga dapat menggunakan lebih banyak waktu untuk merancang strategi bisnis, dan fokus pada perbaikan bersinambung. Demikian pula, Astra Agro Lestari, yang juga merasakan manfaat yang tidak sedikit. Bahkan dengan kolaborasi di bidang TI dan satelit, Astra Agro Lestari dapat terus memantau perkembangan lahan kelapa sawit miliknya dan milik kompetitor secara real time.

 

 




URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=4856
Print | Tutup Window
__._,_.___

To subscribe e-mail to: [EMAIL PROTECTED]






SPONSORED LINKS
Indonesia phone card Indonesia tour Indonesia travel
Indonesia flower Indonesia diving

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke