Mengapa harus Islam yang benar ?
  Sedari kecil saya dididik dan memiliki  agama nyokap.
  Ya ... Islam. Namun setelah dewasa, saya yakin kita
  semua akan mengalami masa pencarian. Entah itu jatidiri,
  kebenaran, kenyamanan hidup, jodoh, dan segala
  macam atribut dunia yang bisa membuat kita bahagia.
  Dan bahagia itu ternyata tidak harus Islam.
  Mengapa saya berani mengutarakan demikian
  karena banyak juga non-muslim yang lebih bahagia.
   
  Sedari kecil guru kita semua sudah tentu mengajarkan
  bahwa bumi itu ya cuman ada satu di tata surya ini.
  Namun setelah dewasa saya mulai menyadari bahwa
  dunia itu banyak jumlahnya. dalam komunitas milis ini
  saja kita akan banyak menemui dunia yang berbeda
  pada latar belakang anggotanya. Hal yang saya sebut
  tidak sesempit dunia kerja. Bahkan bisa jadi satu orang
  akan memiliki lebih dari satu dunia. Setiap manusia
  akan mengalami perubahan atmosfer dunianya dalam
  sekali waktu secara bersamaan ataupun dalam rentan 
  waktu tertentu. Hal tersebutlah yang membuat manusia
  kadang jodoh kadang tidak, kadang nyambung kadang
  enggak, kadang mesra kadang berantem. Dari latar inilah
  saya beranggapan bahwa Islam tak boleh dipaksakan.
  Saya yakin Rasulullah juga demikian, hanya beliau sangat
  sangat bersedih bila umatnya tersesat.
   
  Saya tidak bermaksud membuat tandingan wacana untuk
  short-biografi Sahabat Umar bin Abdul Aziz. Saya hanya
  sekedar memberikan opsi pertimbangan yang ringan
  namun realistis. Jika setiap kita masih belum bisa memahami
  "dunia" orang lain disekitar kita yang saya jelaskan barusan,
  jangan pernah sekali-kali anda membuat kebijakan.
   
  Saya membaca sampai tuntas biografi singkat Sahabat Umar.
  Saya tidak mengerti alinea akhir yang menjelaskan bahwa
  sejarah akan terulang bila syarat dan kondisinya terpenuhi.
  Saya tidak setuju. Ini hanya masalah gaya saja. Saya masih
  ingat betapa sulitnya menyelesaikan soal trigonometri dengan
  sekian banyak alternatif. Begitu pula dengan sejarah.
  Persoalan suatu bangsa akan terselesaikan dengan gayanya
  sendiri. Kita tidak perlu menunggu kehadiran prototype Umar.
  Karena perbedaan itu sungguh nyata. Setiap medan yang dihadapi
  oleh pemimpin-pemimpin yang tertulis dalam sejarah sungguh
  berbeda. 
   
  Terus terang saya sendiri belum bisa menawarkan solusi.
  Namun walau kecil saya berusaha memperbaiki diri sendiri
  sejak saat ini. instant solution saya pikir belum tentu 
  memberikan hasil mengingat ketimpangan pengetahuan
  juga menjadi kendala. Saya membayangkan jejaring laba2.
  Kita representasi dari setiap helai sulamnya. Lebih baik
  kita perkuat sulam diri dan lingkup kecil kita. Waktu yang
  akan membantu menyempurnakan sarangnya. Pondasi
  yang saya tawarkan adalah kasih sayang, dan berusahalah
  menahan rasa sakit. Rasulullah pribadi yang sangat Kuat
  dalam menahan rasa sakit bahkan merasakan sakitnya
  umatnya. berbahagialah sodara2. Wallahualambishowab.
   
  didit - tomorrow the sun will rise shiny
  
Alfaruq Umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              Assalamualikum.
   
  Fillsafat, falsafah. Ya... sebuah ilmu yang sebenarnya cukup lama juga.Memang 
sebuah ilmu sih, termasuk juga Feng Shui juga yang kini sudah menjadi salah 
satu mata kuliah tersendiri di dunia kampus. Barangkali nih ya kalo primbon 
jawa bisa kita expose besar-besaran bisa aja jadi saingannya feng shui. Tapi 
saya adalah seorang muslim yang tentu saja, akan saya usahakan Islam sebagai 
pandangan hidup, Islam sebagai falsafah hidup, Islam sebagai sistem dan Islam 
adalah sistem hidup dengan segala aspeknya. Itulah mengapa Rosululloh harus 
berlatih berkuda, memanah dan juga latihan lari. Nggak "ujug-ujug" bim salabim 
semua rintangan di babat habis termasuk menata masyarakatnya baik muslim 
ataupun bukan, termasuk dalam masalah ilmu.
   
  Kalaupun ada sebuah sistem yang berlawanan dengan cara pandang Islam, maka 
dengan sangat jelas kita harus mengatakan itu ndak sesuai dengan cara pandang 
Islam. Lantas kita pinter-pinternya dalam menyikapi, yang jelas ndak ngekor 
aja. Lho itu kan beda, ya... karena Islam memang beda. Kalo gitu otak kita 
nggak berfikir dong? kata siapa. masih banyak yang perlu kita fikirkan daripada 
sekedar mencari bagaimana hakikat tuhan dan yang semisalnya kalo yang 
ujung-ujungnya kita menjadi manusia-manusia yang liar mengembara. Karena nggak 
semua hal harus dan bisa dilogika dan dilihat. Wong kita melogika diri sendiri 
aja kadang nggak masuk akal kok!
   
  Untuk mereformasi sebuah negara saya ada satu contoh kasus asli. dialah 
pendahulu kita Umar Bin Abdul Aziz cicit dari Khalifah Umar.
  Metode yang mudah dinalar tapi butuh komitmen dan iman yang kuat untuk 
menjalankannya. Karena memang negara harusnya diukur tidak berdasarkan 
sederetan index-index saja,karena orang-orang yang berkecimpung didunia index 
memang pinter memainkan index-index itu (meskipun tidak semuanya). Akhirnya 
saya harus mohon maaf atas segala perbedaan, bukan karena saya nggak suka 
filsafat tapi terlebih untuk menjaga diri ini agar tidak menjadi 
manusia-manusia yang melampaui batas.
   
   
   
          Reformasi ekonomi Umar bin Abdul Aziz              Umar Bin Abdul 
Aziz muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti 
Bani Umayyah. Pada penghujung abad pertama hijriyah, dinasti ini memasuki 
usianya yang keenam puluh, atau dua pertiga dari usianya, dan telah mengalami 
pembusukan internal yang serius. Umar sendiri adalah bagian dari dinasti ini, 
hampir dalam segala hal. Walaupun pada dasarnya ia seorang ulama yang telah 
menguasai seluruh ilmu ulama-ulama Madinah, tapi secara pribadi ia juga 
merupakan simbol dari gaya hidup dinasti Bani Umayyah yang korup, mewah dan 
boros.    
  Itu membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memimpin ketika keluarga 
kerajaan memintanya menggantikan posisi Abdul Malik Bin Marwan setelah beliau 
wafat. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga 
karena ia sendiri merupakan bagian dari persoalan tersebut. Ia adalah bagian 
dari masa lalu. Tapi pilihan atas dirinya, bagi keluarga kerajaan, adalah 
sebuah keharusan. Karena Umar adalah tokoh yang paling layak untuk posisi ini. 
  Ketika akhirnya Umar menerima jabatan ini, ia mengatakan kepada seorang ulama 
yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, "Aku benar-benar takut pada neraka." Dan 
sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, dari ketakutan 
pada neraka, saat beliau berumur 37 tahun, dan berakhir dua tahun lima bulan 
kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan sebuah fakta: reformasi 
total telah dilaksanakan, keadilan telah ditegakkan dan kemakmuran telah 
diraih. Ulama-ulama kita bahkan menyebut Umar Bin Abdul Aziz sebagai pembaharu 
abad pertama hijriyah, bahkan juga disebut sebagai khulafa rasyidin kelima.
  Mungkin indikator kemakmuran yang ada ketika itu tidak akan pernah terulang 
kembali, yaitu ketika para amil zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan 
Afrika, tapi mereka tidak menemukan seseorang pun yang mau menerima zakat. 
Negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat dimana 
utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.
  Memulai dari Diri Sendiri, Keluarga dan Istana Umar Bin Abdul Aziz menyadari 
dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa lalu. Ia tidak mungkin sanggup 
melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas kecuali kalau ia berani 
memulainya dari dirinya sendiri, kemudian melanjutkannya pada keluarga intinya 
dan selanjutnya pada keluarga istana yang lebih besar. Maka langkah pertama 
yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana 
kerajaan. Dengan tekad itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi 
dalam sejarah.
  Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta 
pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh 
pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di 
rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia 
menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak 
berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, 
badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.
  Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. Ia 
memberikan dua pilihan kepada isterinya, "Kembalikan seluruh perhiasan dan 
harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai." Tapi istrinya, 
Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah 
reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat 
anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak 
pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati 
sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberika dua pilihan 
kepada anak-anak, "Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian 
harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan 
sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama."
  Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan 
menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan 
harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan 
yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan. 
Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar tetap tegar menghadapi 
mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai upaya keluarga istana 
menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar menghadapnya.
  Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin bisa terenyuh 
menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui rencana itu begitu 
sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera memerintahkan mengambil sebuah 
uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu membakar uang logam tersebut dan 
meletakkan daging diatasnya. Daging itu jelas jadi "sate." Umar lalu berkata 
kepada sang bibi: "Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti 
daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau 
merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan reformasi ini."
  Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik 
akan kuat political will untuk melakukan reformasi dalam kehidupan bernegara, 
khususnya dalam pemberihan KKN. Sang pemimpin telah telah menunjukkan tekadnya, 
dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan.
  Gerakan Penghematan
Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total dalam 
penyelenggaraan negara. Langkah ini jauh lebih mudah dibanding langkah pertama, 
karena pada dasarnya pemerintah telah menunjukkan kredibilitasnya di depan 
publik melalui langkah pertama. Tapi dampaknya sangat luas dalam menyelesaikan 
krisis ekonomi yang terjadi ketika itu. 
  Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada 
struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. 
Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. 
Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan 
hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari 
pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas 
rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara 
itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.
  Simaklah sebuah contoh bagaimana penyederhanaan sistem administrasi akan 
menciptakan penghematan. Suatu saat gubernur Madina mengirim surat kepada Umar 
Bin Abdul Aziz meminta tambahan blangko surat untuk beberapa keperluan 
adminstrasi kependudukan. Tapi beliau membalik surat itu dan menulis 
jawabannya, "Kaum muslimin tidak perlu mengeluarkan harta mereka untuk hal-hal 
yang tidak mereka perlukan, seperti blangko surat yang sekarang kamu minta."
  Redistribusi Kekayaan Negara
Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. 
Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, 
penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja 
negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan 
kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar 
sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah. 
  Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau 
mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi 
langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang 
berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara 
langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari 
masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan meningkatnya 
konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola 
distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi 
juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro. 
  Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar 
zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan 
habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk 
membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para 
mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami 
surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi 
pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk 
pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, 
seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara 
mengumumkan bahwa "negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap 
pemuda yang hendak menikah di usia muda." 
  Mengapa sejarah tak berulang?
Sejarah selalu hadir di depan kesadaran kita dengan potongan-potongan zaman 
yang cenderung mirip dan terduplikasi. Pengulangan-pengulangan itu memungkinkan 
kita menemukan persamaan-persamaan sejarah, sesuatu yang kemudian memungkinkan 
kita menyatakan dengan yakin, bahwa sejarah manusia sesungguhnya diatur oleh 
sejumlah kaidah yang bersifat permanen. Manusia, pada dasarnya, memiliki 
kebebasan yang luas untuk memilih tindakan-tindakannya. Tetapi ia sama sekali 
tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan akibat dari tindakan-rindakannya. 
Tetapi karena kapasitas manusia sepanjang sejarah relatif sama saja, maka ruang 
kemampuan aksinya juga, pada akhirnya, relatif sama. 
  Itulah sebab yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan tersebut. 
Tentu saja tetap ada perbedaan-perbedaan waktu dan ruang yang relatif 
sederhana, yang menjadikan sebuah zaman tampak unik ketika ia disandingkan 
dengan deretan zaman yang lain.
  Itu sebabnya Allah Subhaanahu wa ta'ala memerintahkan kita menyusuri jalan 
waktu dan ruang, agar kita dapat merumuskan peta sejarah manusia, untuk 
kemudian menemukan kaidah-kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya. 
Kaidah-kaidah permanen itu memiliki landasan kebenaran yang kuat, karena ia 
ditemukan melalui suatu proses pembuktian empiris yang panjang. Bukan hanya 
itu, kaidah-kaidah permanen itu sesungguhnya juga mengatur dan mengendalikan 
kehidupan kita. Dengan begitu sejarah menjadi salah satu referensi terpenting 
bagi kita, guna menata kehidupan kita saat ini dan esok. 
  Sejarah adalah cermin yang baik, yang selalu mampu memberi kita inspirasi 
untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Seperti juga saat ini, 
ketika bangsa kita sedang terpuruk dalam krisis multidimensi yang rumit dan 
kompleks, berlarut-larut dan terasa begitu melelahkan. Ini mungkin saat yang 
tepat untuk mencari sepotong masa dalam sejarah, dengan latar 
persoalan-persoalan yang tampak mirip dengan apa yang kita hadapi, atau 
setidak-tidaknya pada sebagian aspeknya, untuk kemudian menemukan kaidah 
permanen yang mengatur dan mengendalikannya.
Masalah di Ujung Abad
  Ketika Rasulullah Shalallaahu 'alaihi wa sallam menyatakan sebuah ketetapan 
sejarah, bahwa di ujung setiap putaran seratus tahun Allah Swt akan 
membangkitkan seorang pembaharu yang akan akan mempebaharui kehidupan keagamaan 
umat ini. Ketetapan itu menjadikan masa satu abad sebagai sebuah besaran waktu 
yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan masalah, rotasi pola 
persoalan-persoalan hidup. Ketetapan itu juga menyatakan adanya fluktuasi dalam 
sejarah manusia, masa pasang dan masa surut, masa naik dan masa turun. Dan 
titik terendah dari masa penurunan itulah Allah Swt akan membangkitkan seorang 
pembaharu yang menjadi lokomotif reformasi dalam kehidupan masyarakat.
  Itulah yang terjadi di ujung abad pertama hijriyah dalam sejarah Islam. 
Sekitar enam puluh tahun sebelumnya, masa khulafa rasyidin telah berakhir 
dengan syahidnya Ali bin Abi Thalib. Muawiyah bin Abi Sofyan yang kemudian 
mendirikan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, mengakhiri sistem khilafah dan 
menggantinya dengan sistem kerajaan. Pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam 
tidak lagi dipilih, tapi ditetapkan. 
  Perubahan pada sistem politik ini berdampak pada perubahan perilaku politik 
para penguasa. Secara perlahan mereka menjadi kelompok elit politik yang 
eksklusif, terbatas pada jumlah tapi tidak terbatas pada kekuasaan, sedikit 
tapi sangat berkuasa. Sistem kerajaan dengan berbagai perilaku politik yang 
menyertainya, biasanya secara langsung menutup katup politik dalam masyarakat 
dimana kebebasan berekspresi secara perlahan-lahan dibatasi, atau bahkan 
dicabut sama sekali. Itu memungkinkan para penguasa menjadi tidak tersentuh 
oleh kritik dan tidak terjangkau oleh sorot mata masyarakat. Tidak ada 
keterbukaan, tidak ada transparansi. 
  Dalam keadaan begitu para penguasa memiliki keleluasaan untuk melakukan apa 
saja yang mereka ingin lakukan. Maka penyimpangan politik segera berlanjut 
dengan penyimpangan ekonomi. Kezaliman dalam distribusi kekuasaan dengan segera 
diikuti oleh kezaliman dalam distribusi kekayaan. Yang terjadi pada mulanya 
adalah sentralisasi kekuasaan, tapi kemudian berlanjut ke sentralisasi ekonomi. 
Keluarga kerajaan menikmati sebagian besar kekayaan negara. Apa yang seharusnya 
menjadi hak-hak rakyat hanya mungkin mereka peroleh berkat "kemurahan hati" 
pada penguasa, bukan karena adanya sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan 
rakyat mengakses sumber-sumber kekayaan yang menjadi hak mereka. Bukan hanya 
KKN yang terjadi dalam keluarga kerajaan, tapi juga performen lain yang 
menyertainya berupa gaya hidup mewah dan boros. Negara menjadi tidak efisien 
akibat pemborosan tersebut. Dan pemborosan, kata ulama-ulama kita, adalah 
indikator utama terjadinya kezaliman dalam distribusi kekayaan. Jadi
 ada pemerintahan yang korup sekaligus zhalim, penuh KKN sekaligus mewah dan 
boros, tidak bersih, tidak efisien dan tidak adil. 
  Itulah persisnya apa yang terjadi pada dinasti Bani Umayyah. Berdiri pada 
tahun 41 hijriyah, dinasti Bani Umayyah berakhir sekitar 92 tahun kemudian, 
atau tepatnya pada tahun 132 hijriyah. Tapi sejarah dinasti ini tidaklah gelap 
seluruhnya. Dinasti ini juga mempunyai banyak catatan cemerlang yang ia 
sumbangkan bagi kemajuan peradaban Islam. Salah satunya adalah cerita sukses 
yang tidak terdapat atau tidak pernah terulang pada dinasti lain ketika seorang 
laki-laki dari klan Bani Umayyah, dan merupakan cicit dari Umar Bin Khattab, 
yaitu Umar Bin Abdul Aziz, muncul sebagai khalifah pada penghujung abad pertama 
hijriyah.
  Yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah mempertemukan keadilan dengan 
kemakmuran. Ketika pemimpin yang saleh dan kuat dihadirkan di persimpangan 
sejarah, untuk menyelesaikan krisis sebuah umat dan bangsa. Dan itu bisa saja 
terulang, kalau syarat dan kondisi yang sama juga terulang. Dan inilah masalah 
kita, pengulangan sejarah itu tidak terjadi, karena syaratnya tidak terpenuhi.. 

     


  
---------------------------------
  Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels 
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.  

         

 
---------------------------------
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.

Kirim email ke